Wanita Ranjang

Wanita Ranjang
Bab 17


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau dia tidak tertarik padaku? Cukup aku yang tertarik padanya!" Setelah selesai mengatakannya, tanpa menunggu Agung membalasnya, Karina pun memutuskan panggilan telepon itu.


Karina menekan layar ponsel dengan jarinya kuat-kuat, sampai seakan layar ponselnya itu hampir retak dibuatnya.


Agung, orang ini. Setelah putus dengannya, dia masih saja begitu menjijikkan.


Nomor HP Karina baru diganti setelah ia kembali ke Indonesia. Agung pasti mendapatkannya dari Yuni.


Suasana kembali hening, hati Karina mulai merasa gelisah. Padahal setelah kembali ke Indonesia, dia tidak banyak menghubungi orang, tapi orang yang mengenalnya semakin lama menjadi semakin banyak.


Tidak masalah jika mereka mengenalnya, ia juga tidak masalah jika mereka tahu Karina sudah punya anak. Lagi pula memang seperti inilah hidupnya.


Tapi, dia sungguh tidak menyangka kalau Aditya juga orang Jakarta!


Aditya benar-benar tidak boleh tahu kalau Karina telah melahirkan anak-anaknya!


Jakarta begitu besar, tapi Karina masih bisa bertemu dengannya, bahkan sampai masuk ke Grup KING. Rasanya seperti Karina sedang mengejarnya, tidak heran kalau Aditya berkata, Karina terlihat selalu berniat buruk di hadapannya.


Setibanya di rumah, anak-anak sudah tertidur lelap. Bibi Tutik baru pulang setelah Karina pulang.


Awalnya posisi tidur anak-anak di ranjang masih baik-baik saja, namun tidak lama kemudian posisi mereka berubah menjadi malang melintang, bahkan ada yang sampai menempel di bokong anak lainnya. Satu kaki Anita mengenakan kaus kaki, dan kaki satunya lagi terbuka begitu saja. Kaus kaki satunya ada di tangan Erik, pasti karena saat tertidur Erik tidak sadar menariknya.


Karina naik ke ranjang, dia mencium tangan Yuda yang gempal, kemudian mengecup pipi tembam anak-anaknya, mulai dari kecupan pertama hingga kecupan keenam.


Kemudian Karina merasa kepalanya sedikit pusing, penyebabnya adalah kekuarangan oksigen. Ah, itu karena dia mengecup dengan terlalu bersemangat.

__ADS_1


Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Karena tidak perlu pergi bekerja, Karina pun bersiap-siap melanjutkan tidurnya.


Namun, setelah melahirkan anak-anaknya, harapannya untuk mendapatkan tidur yang cukup sepertinya tidak mungkin terlaksana.


Meskipun anak-anak tidak membangunkannya, tapi jam biologislah yang membuatnya terbangun.


Begitu kesadaran Karina kembali, ia merasa napasnya terasa sangat berat. Kemudian saat membuka mata, ia mendapati sesosok wajah tembam di hadapannya. Erik sedang tengkurap di dada Karina, tidurnya benar-benar nyenyak.


Lalu di sebelahnya ada sebuah bokong yang dibungkus dengan popok sedang menghadap ke arah wajahnya. Entahlah bokong milik siapa itu.


Tidak perlu dilihat lagi, ia tahu kalau dirinya sedang dikelilingi oleh anak-anak. Setiap hari selalu seperti ini.


Melelahkan sekali... tidur dan berperang sama sekali tidak ada bedanya.


"Uh... Ah..." Tangan kecil Erik mengucek matanya. Setelah membuka mata dan melihat Karina, matanya pun berbinar, "Mama!"


"Selamat pagi, Erik." Karina tersenyum.


Kemudian terdengar suara "bruk" tidak tahu siapa yang sudah terjatuh ke lantai.


Karina terkejut dan segera bangun. Ia melihat Yuda terbaring di lantai dengan kedua tangan berada di samping telinganya. Bagian bawah bajunya terangkat dan memperlihatkan perutnya yang gemuk, dan masih tertidur dengan lelap.


Erik menatapnya, wajahnya seperti sedang berpikir.


Karina merasa itu sangat lucu.

__ADS_1


Dia menghitung anak yang tidur di atas ranjang dan di lantai, "Satu, dua, tiga, empat, lima... enam, pas."


Siang hari Karina membawa anak-anaknya berjalan-jalan ke mal.


"Ayo berbaris, jangan sembarangan berlari." kata Karina.


Keenam anak itu berjalan ke depan dengan dipimpin oleh Yuda.


Pemandangan ini menarik perhatian banyak orang di dalam mal, bahkan ada yang sampai mengambil foto dengan posnselnya--


"Wah, mereka semua semumuran! Imut sekali!"


"Lihat, anak yang terakhir tertinggal dari barisannya. Haha, menggemaskan sekali."


"Anak-anak dari mana ini? Apa mereka semua dari tempat penitipan anak?"


Semua orang di sana dibuat terkesima, dan tidak bisa melepaskan pandangannya dari mereka.


Anak-anak seolah sudah terbiasa, sama sekali tidak merasa malu, dan terus berjalan dengan tertib.


Sebaliknya, Karina justru tersipu malu dan merasa canggung.


"Mama, aku mau itu!" Lili menunjuk sebuah boneka panda yang berada di luar toko. Wajahnya sampai menjadi kemerahan karena terlalu bersemangat.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 500 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2