
"Tidak, saya bukannya ingin mempermainkan Anda. Tapi saya serius, Anda yang memecat saya dari perusahaan. Ada pepatah mengatakan bahwa setelah melewati suatu desa maka... Ummhh!" Saat Karina menjelaskan dengan panik, bibir kecilnya dicium Aditya. Ketika bibir lembutnya bersentuhan, tanpa sadar tubuhnya gemetar dan membeku.
Kedua matanya yang jernih dipenuhi kebingungan. Detak jantung dan napasnya tidak dapat dikendalikan.
Waktu telah berhenti, semuanya berubah menjadi latar belakang yang statis.
Dalam sekejap, Karina tersadar dan berusaha melawan. Dia ingin mendorong Aditya, namun tubuh yang menimpanya sangat berat. Tangannya digenggam erat dan juga kuat. Bukan hanya gagal mendorong Aditya, namun malah membuat ciumannya semakin panas--
"Tidakk!" Karina berusaha menarik jas Aditya, namun tidak berhasil. Tangan kecilnya yang panik menampar lengan Aditya, namun usaha keras dan perlawanannya hanya menjadi sia-sia.
Awalnya Aditya hanya ingin menghukumnya, tapi lama-kelamaan malah ketagihan untuk menciumnya. Tiga tahun lalu, dia agresif karena pengaruh alkohol, namun sekarang murni karena godaan aroma yang manis sehingga darah dalam tubuhnya bergejolak, seakan hewan liar yang mencium aroma darah mangsanya.
Tangannya melingkari pinggang Karina yang kecil, kemudian menghampiri ikat pinggang jeansnya…
Ikat pinggang jeans bermacam-macam, namun yang dipakai Karina adalah yang diikat dan lebih praktis daripada kancing.
Karina sangat ketakutan. Otaknya kekurangan oksigen karena dicium namun dia teringat akan bekas operasi di perutnya. Tiga tahun bukanlah waktu yang lama. Bekas operasi dapat memudar, namun tetap akan terlihat jelas.
__ADS_1
Jika Aditya melihatnya, bukannya dia akan curiga? Dia akan sadar bahwa Karina sudah pernah melahirkan. Bekas operasi usus buntu tidak mungkin ada di tengah!
Karina tidak menemukan ide dan air matanya jatuh mengalir. Dia ketakutan akan kehilangan anak-anaknya.
Saat berciuman, Aditya merasakan sesuatu yang asin dan basah, terdiam sesaat, lalu melepaskan bibirnya dari Karina. Matanya yang hitam gelap menatap Karina, dan bibirnya yang tipis terlihat dingin.
Karina mengambil kesempatan untuk lepas dari bawah tubuh Aditya dan menjauh. Dia menempel ke pintu mobil, mengikat ikat pinggangnya, dan menjadi sangat waspada.
Aditya duduk di atas kursi dan berusaha menenangkan tubuhnya. Dia tidak menyangka akan kehilangan kendali di dalam mobil, bahkan saat pembatas di tengah mobil masih belum dinaikkan. Auranya mendadak menjadi sangat menyeramkan.
Budi yang duduk di kursi depan mengelap keringatnya. Ini pertama kalinya dia melihat Pak Aditya seperti ini, bahkan di dalam mobil. Apa dia bisa tenang?
"???" Budi kebingungan, ini saatnya masuk ke menu utama!
Aditya menatap Karina dengan dingin, "Apa yang kamu tangisi? Memangnya aku belum pernah menyentuh tubuhmu?"
"Dulu saya mabuk dan tidak sadar!" Karina mengusap air matanya sembari menyangkal.
__ADS_1
"Tidak sadar tapi begitu bersemangat? Hmm?"
"..." Karina terdiam. Bibir kecilnya membengkak. Dia berusaha menghindari tatapan Aditya.
Ternyata dia mengingatnya! Tapi itu semua karena terlalu banyak minum alkohol...
"Alamat." Mata hitam Aditya menatap ke luar jendela.
Karina kembali terdiam. Alamat? Alamatku? Apakah dia ingin mengantarku pulang?
Tidak bisa. Jika dia mengantar Karina pulang dan mengetahui alamatnya, bukannya dia akan mengetahui keberadaan anak-anak dengan mudah?
"Bisakah Anda mengantar saya kembali ke tempat tadi? Saya bisa pulang sendiri." Ucap Karina.
Aditya menatap langit yang gelap lalu bertanya, "Yakin tidak mau bilang?"
Hati Karina menjadi bimbang. Ancaman ini terasa berbahaya, sehingga dia terpaksa mengatakan nama kompleks tempat dia tinggal.
__ADS_1
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 400 bab di App F/i/zzo !!!