Wanita Ranjang

Wanita Ranjang
Bab 22 Aku Kira Pria Lebih Suka Wanita Dewasa


__ADS_3

"Aku kira pria lebih suka wanita dewasa."



Di dalam grup pribadi itu mereka mulai membicarakan wanita seperti apa yang kemungkinan Aditya sukai.


Dia pun memanggil Karina untuk datang ke kantornya.


Karina berdiri di sana, Budi menatapnya beberapa saat dan berkata, "Apa kamu tahu tentang rumor di perusahaan akhir-akhir ini?"


"Tahu."


"Kamu yang menyebarkannya? Saat aku mengetahuinya, aku sedikit tidak percaya. Kamu seharusnya tahu kalau rumor ini terdengar sampai ke telinga Pak Aditya, akan sangat sulit untuk menjelaskannya."


"Yang aku katakan itu hal yang sebenarnya. Dan juga, apa Pak Aditya memindahkanku ke Departemen Sekretariat, tanpa berharap terjadi sesuatu denganku? Misal, aku mengatakan tentang pernikahan. Itu tidak salah bukan?"


Budi berpikir, kamu memang berani sekali mengatakannya.


"Pak Aditya mempromosikanmu karena kemampuanmu. Atau karena ingin menghukum Pak Dika. Tapi kamu tidak boleh berpikir seperti itu." ujar Budi.


Karina mengerutkan alisnya dan berkata, "Benarkah? Kenapa aku merasa kalau dia menyukaiku?"


"Aku rasa, akan lebih baik kalau kamu meletakkan rasa percaya dirimu ini dalam pekerjaan."


"Sebenarnya, aku sengaja mengatakan hal seperti itu di Departemen Sekretariat. Apa kamu tidak melihatnya, kalau aku memaksanya untuk menikah?"


"..." Budi terdiam, tampaknya aku terlalu meremehkanmu.


"Sekretaris Budi, apa kamu ingin memecatku? Ini tidak boleh, aku masih ingin menjadi Nyonya Sulistyo!" ujar Karina.


"... Kamu sebaiknya kembali ke tempatmu. Perkataan seperti itu, sebaiknya jangan kamu ucapkan lagi."


"Baiklah." ujar Karina lalu berbalik dan pergi.


Budi merasa sedikit pusing. Departemen Sekretariat adalah tanggung jawabnya. Selama ini selalu saja tenang dan tidak ada masalah. Tapi Karina memang pintar sekali mencari masalah untuknya. Masih ingin bisa menempati posisinya? Apa dia serius?


Karina ingin Budi memecatnya. Setelah menunuggu cukup lama, dia sadar kalau caranya ini masih belum cukup!


Menjelang siang hari, Aditya berjalan ke lobi sambil dikelilingi oleh pengawalnya. Dia melihat Karina sedang membual di meja resepsionis.


Suaranya bisa terdengar sampai beberapa meter darinya.


"Aku bisa pergi ke Departemen Sekretariat, karena Pak Aditya menyukaiku. Dia di belakang memperlakukanku dengan sangat baik! Kalau tidak, menurutmu, kenapa aku bisa masuk ke dalam Departemen Sekretariat? Dipikir pakai dengkul pun tahu jawabannya!"


Aditya melangkah mundur. Wajah Budi terlihat sedikit tegang. Apa dia harus melihat ke arah Aditya, dan memperhatikan ekspresinya.

__ADS_1


Apa Karina ini ingin melukai orang! Apa dia tidak bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan atmosfirnya?


Wajah resepsionis sudah pucat pasi. Karina masih berdiri di sana dan bertanya, "Kenapa kalian tidak melihat ke arahku? Kamu dengar tidak apa yang aku katakan? Dan juga, tunggu sampai aku bisa menduduki posisi Nyonya Sulistyo, aku pasti tidak akan melupakan mantan rekan kerjaku!"


"Ehem!" Mau tidak mau Budi harus mengeluarkan suara untuk memperingatinya. Kalau tidak, entah apa yang akan Karina katakan selanjutnya.


Karina terdiam lalu menengok ke belakang. Saat melihat wajah dingin Aditya, Dia langsung menundukkan kepalanya, seolah melakukan sesuatu yang salah.


Aditya menarik kembali tatapan dinginnya, lalu berjalan lurus ke lift. Auranya seolah memberitahu, jangan sampai ada orang yang mendekatinya.


Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh. Karina perlahan memalingkan wajahnya. Bayangan Aditya sudah tidak terlihat lagi.


Dia menghela napasnya. Sekarang sudah bisa memecatnya, bukan?


Begini juga lebih baik. Tentang mengumpulkan uang untuk membiayai anaknya, dia pasti akan memikirkan caranya!


Ini lebih baik dibandingkan terjerat dengan Aditya. Lalu dia mengetahui keberadaan anaknya, bukan? Karina tidak berani mempertaruhkan hal itu…


Sebelum makan siang, Budi datang untuk memberitahunya, kalau dia tidak perlu lagi datang ke kantor.


Karina menggerutu. Apa tidak bisa menunggu aku selesai makan siang yang diberikan kantor dengan gratis baru menyuruhku pergi?


"Aku kira pria lebih suka wanita dewasa."



Di dalam grup pribadi itu mereka mulai membicarakan wanita seperti apa yang kemungkinan Aditya sukai.


Dia pun memanggil Karina untuk datang ke kantornya.


Karina berdiri di sana, Budi menatapnya beberapa saat dan berkata, "Apa kamu tahu tentang rumor di perusahaan akhir-akhir ini?"


"Tahu."


"Kamu yang menyebarkannya? Saat aku mengetahuinya, aku sedikit tidak percaya. Kamu seharusnya tahu kalau rumor ini terdengar sampai ke telinga Pak Aditya, akan sangat sulit untuk menjelaskannya."


"Yang aku katakan itu hal yang sebenarnya. Dan juga, apa Pak Aditya memindahkanku ke Departemen Sekretariat, tanpa berharap terjadi sesuatu denganku? Misal, aku mengatakan tentang pernikahan. Itu tidak salah bukan?"


Budi berpikir, kamu memang berani sekali mengatakannya.


"Pak Aditya mempromosikanmu karena kemampuanmu. Atau karena ingin menghukum Pak Dika. Tapi kamu tidak boleh berpikir seperti itu." ujar Budi.


Karina mengerutkan alisnya dan berkata, "Benarkah? Kenapa aku merasa kalau dia menyukaiku?"


"Aku rasa, akan lebih baik kalau kamu meletakkan rasa percaya dirimu ini dalam pekerjaan."

__ADS_1


"Sebenarnya, aku sengaja mengatakan hal seperti itu di Departemen Sekretariat. Apa kamu tidak melihatnya, kalau aku memaksanya untuk menikah?"


"..." Budi terdiam, tampaknya aku terlalu meremehkanmu.


"Sekretaris Budi, apa kamu ingin memecatku? Ini tidak boleh, aku masih ingin menjadi Nyonya Sulistyo!" ujar Karina.


"... Kamu sebaiknya kembali ke tempatmu. Perkataan seperti itu, sebaiknya jangan kamu ucapkan lagi."


"Baiklah." ujar Karina lalu berbalik dan pergi.


Budi merasa sedikit pusing. Departemen Sekretariat adalah tanggung jawabnya. Selama ini selalu saja tenang dan tidak ada masalah. Tapi Karina memang pintar sekali mencari masalah untuknya. Masih ingin bisa menempati posisinya? Apa dia serius?


Karina ingin Budi memecatnya. Setelah menunuggu cukup lama, dia sadar kalau caranya ini masih belum cukup!


Menjelang siang hari, Aditya berjalan ke lobi sambil dikelilingi oleh pengawalnya. Dia melihat Karina sedang membual di meja resepsionis.


Suaranya bisa terdengar sampai beberapa meter darinya.


"Aku bisa pergi ke Departemen Sekretariat, karena Pak Aditya menyukaiku. Dia di belakang memperlakukanku dengan sangat baik! Kalau tidak, menurutmu, kenapa aku bisa masuk ke dalam Departemen Sekretariat? Dipikir pakai dengkul pun tahu jawabannya!"


Aditya melangkah mundur. Wajah Budi terlihat sedikit tegang. Apa dia harus melihat ke arah Aditya, dan memperhatikan ekspresinya.


Apa Karina ini ingin melukai orang! Apa dia tidak bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan atmosfirnya?


Wajah resepsionis sudah pucat pasi. Karina masih berdiri di sana dan bertanya, "Kenapa kalian tidak melihat ke arahku? Kamu dengar tidak apa yang aku katakan? Dan juga, tunggu sampai aku bisa menduduki posisi Nyonya Sulistyo, aku pasti tidak akan melupakan mantan rekan kerjaku!"


"Ehem!" Mau tidak mau Budi harus mengeluarkan suara untuk memperingatinya. Kalau tidak, entah apa yang akan Karina katakan selanjutnya.


Karina terdiam lalu menengok ke belakang. Saat melihat wajah dingin Aditya, Dia langsung menundukkan kepalanya, seolah melakukan sesuatu yang salah.


Aditya menarik kembali tatapan dinginnya, lalu berjalan lurus ke lift. Auranya seolah memberitahu, jangan sampai ada orang yang mendekatinya.


Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh. Karina perlahan memalingkan wajahnya. Bayangan Aditya sudah tidak terlihat lagi.


Dia menghela napasnya. Sekarang sudah bisa memecatnya, bukan?


Begini juga lebih baik. Tentang mengumpulkan uang untuk membiayai anaknya, dia pasti akan memikirkan caranya!


Ini lebih baik dibandingkan terjerat dengan Aditya. Lalu dia mengetahui keberadaan anaknya, bukan? Karina tidak berani mempertaruhkan hal itu…


Sebelum makan siang, Budi datang untuk memberitahunya, kalau dia tidak perlu lagi datang ke kantor.


Karina menggerutu. Apa tidak bisa menunggu aku selesai makan siang yang diberikan kantor dengan gratis baru menyuruhku pergi?


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 400 bab di App F/i/zzo !!!

__ADS_1


__ADS_2