
Raharjo sampai di rumah kontrakannya, dia langsung menceritakan tentang apa yang sudah disepakati oleh pak suganda.
Nia mendengarkan dengan seksama semua cerita suaminya. Dia juga berharap anaknya akan menemukan kebahagiaannya.
Raharjo juga menceritakan tentang kapan mereka akan membawa Nadin.
"Baik, aku akan mempersiapkannya. Kamu harus pastikan kebahagiaan dan juga keselamatan anak kita." Pinta nia.
"Semua sudah aku bicarakan."
Nia berusaha percaya dengan semua kata-kata dan cerita suaminya. Nia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Nadin yang sudah lebih dulu tidur sehingga tidak mendengar percakapan kedua orang tuanya.
.
.
Nadin bangun tidur, dia bangun agak ke siangan karena terus mengerjakan tugas yang banyak dari dosen kejamnya.
"Saya tidak bisa hadir hari ini." Baca Nadin di group chat kampus.
"Yeeeeeeeay!" Nadin melompat kegirangan.
Nadin sangat senang karena hari ini mata kuliah Jhonson tidak ada.
"Nadin, hari ini Mamih dan Papih, mau ajak kamu ke tempat teman kita."
"Kemana?" tanya Nadin.
__ADS_1
"Kamu ikut saja. Pakai baju yang rapih," kata Raharjo.
Nadin bingung kemana orang tuanya akan membawanya, tapi dia tetap melakukan perintah kedua orang tuanya.
Nadin bersiap-siap, dia mengenakan pakaian formalnya.
Nia masuk ke dalam kamar putrinya. "Bawa beberapa pakaian seperti baju tidur dan keperluan untuk menginap. Mami tidak tahu kita akan pulang atau menginap nanti."
Nadin semakin bingung kemana kedua orang tuanya akan membawanya dan mengapa harus pakai menginap segala.
Nadin menyiapkan beberapa baju dan keperluan menginap lainnya.
Dia keluar kamar dan melihat kedua orang tuanya sudah rapih. Maminya memakan kebaya sedangkan papinya mengenakan setelan jas.
"Kenapa formal sekali? Apa ada yang menikah?" tanya Nadin yang semakin penasaran.
Mereka langsung pergi menggunakan mobil yang sudah disediakan oleh Pak Suganda.
Di perjalanan Nadin kembali terbayang kemewahan yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Dia menyadari kalau dia bisa menjadi seperti sekarang karena jasa kedua orang tuanya.
"Di masa depan nanti, Nadin akan pastikan untuk membahagiakan Mami dan Papi." Nadin bicara dalam hatinya.
Di saat Nadin sedang membayangkan kehidupannya sebelum keluarganya dilanda kebangkrutan. Nia sedang membayangkan dirinya hidup tanpa putrinya sehari-hari.
"Bagaimana nanti jika aku hidup tanpa putriku? Memang dia suatu hari pasti akan menikah dan aku akan melepaskannya, tapi bukan begini caya yang aku mau saat melepaskan putriku. Aku berharap dia menikah dengan pria yang dia sukai dan menyukainya." Batin Nia.
Nia, Raharjo dan Nadin saling tidak bicara selama perjalanan mereka. Mereka semua sibuk berkutat dengan jalan pikiran masing-masing.
Raharjo sedang membayangkan betapa dia akan keluar dari kemiskinan ini. Dia membayangkan kehidupannya akan kembali meski tidak seratus persen.
__ADS_1
"Silahkan masuk." Seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk.
Nia, Raharjo dan Nadin masuk ke dalam rumah besar. Di sana tidak banyak tamu yang datang.
"Silahkan ikut kami." Seorang wanita menunjukkan jalan.
"Kita akan kemana?" tanya Nadin yang curiga.
"Ikut saja kata mereka, dengar Nadin, jangan membuat ulah di sini, ikuti semua yang kami perintahkan. Ini semua untuk kebaikanmu." Raharjo terus berjalan.
"Mih?" Nadin menoleh ke arah maminya.
"Ikuti saja mereka."
Setelah sampai di dalam kamar, Nadin langsung di minta duduk.
"Kami akan merias pengantinnya." Mereka bersiap.
"Pengantin?" tanya Nadin dengan wajah penuh keterkejutan.
"Nadin, Mamih dan Papih sudah memutuskan agar kamu menikah dengan pria pilihan kami. Dia yang terbaik." Nia mencoba membuat putrinya tenang.
"Tapi Mih? Aku belum siap," kata Nadin memohon.
"Nadin, kamu harus ikuti perkataan kami, kami orang tuamu tahu apa yang terbaik untukmu." Raharjo menekan Nadin.
Nadin menangis, hatinya tidak karuan sekarang. Dia tidak menyangka kedua orang tuanya akan memaksanya menikah dengan pria yang tidak dia kenal sama sekali.
Apa yang akan dia lakukan dengan keputusan kedua orang tuanya?
__ADS_1