
"Nadin, dipanggil pak Jhonson tuh." ujar salah satu mahasiswa yang menghampirinya di kantin.
Nadin mengangkat perlahan kepalanya dengan penuh kemalasan. Dia malas bertemu dengan suaminya di kampus. Karena memang hubungannya di kampus tidak boleh tercium.
"Ya, nanti ke sana." ujar Nadin.
"Nad, ada apa tuh?" Shasha mencemaskan sahabatnya.
"Tauh ah. Males juga nyamperin dia." Nadin kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
"Gua denger katanya dia dosen killer. Lo enggak takut sama dia?" tanya Neo.
Takut sih enggak kalo sekarang. Karena dia suami yang baik banget, tapinya dia juga bisa jadi suami yang serem kalo masalah pendidikan. Gue harus gimana dong. sedangkan hati gue lagi sebel banget sama dia.
Nadin tanpa sadar memejamkan matanya dengan penuh rasa kesal. Hingga kedua orang yang duduk di depannya merasa kebingungan dengan sikap Nadin yang aneh hari ini.
"kayaknya temen lu salah minum obat hari ini." celetuk Neo.
"kayaknya sih Iyah. Tumben-tumbenan banget soalnya dia begini. Biasanya normal-normal ajah sikapnya." cerocos Shasha yang ikutan meledek sikap Nadin.
__ADS_1
Nadin mendapat panggilan masuk dan ternyata itu dari sang suami yang mungkin karena Nadin tidak menemuinya jadi dia menghubungi Nadin lewat telepon genggam.
"Nad, telepon tuh. Diangkat cepetan. siapa tahu telepon penting. Ya kan?" ujar Shasha.
Nadin melirik ponselnya yang dia letakkan dengan posisi layar di bawah. Nadin kembali mengintip dan masih tertulis di layar telepon genggamnya inisial sang suami.
"Gue balik ya. Soalnya masih ada urusan." Nadin mendorong kursinya dan beranjak.
Shasha dan Neo kembali terheran. Mereka kompak menggelengkan kepala melihat tingkah aneh sahabatnya.
"Lo mau balik apa masih mau di kampus?" tanya Shasha kepada saudara sepupunya itu.
Neo adalah mahasiswa pindahan dan sekaligus saudara sepupu dari Shasha sahabat dari Nadin. Neo kuliah di jurusan teknik informatika. dia adalah salah satu calon penerus perusahaan keluarganya. Neo memiliki sikap cuek dan kerap kali menggoda cewek-cewek kampus. Neo pindah ke kampus Shasha dengan alasan ingin tinggal dengan Omanya yang hidup sendiri di jakarta.
"Ya udah, gua balik dulu." Shasha menggendong tas ranselnya dan pergi meninggalkan sepupunya yang masih mau tebar pesona tidak jelas itu.
Shasha berjalan melewati parkiran dosen. Dia sengaja lewat sana karena berharap bertemu dosen tampan yang menjadi idolanya. saat dia hendak menuruni tangga parkiran. Tak sengaja dia melihat wajah yang sangat dia kenal sedang berbincang dengan dosen killer.
"Ngapain tuh anak di situ. Katanya tadi ada urusan mendadak. Kenapa dia masih di sini." Shasha bergumam sambil terus menuruni anak tangga satu persatu.
__ADS_1
"Nadin." teriak Shasha yang hampir mendekat ke arah Nadin.
Nadin membulatkan matanya dengan sempurna. Dia terkejut melihat yang memanggilnya adalah Shasha.
"Baik, pak. Saya akan berusaha yang terbaik. Saya juga akan belajar lebih giat agar hasil skripsi saya lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya kepada kami mahasiswa yang masih banyak kekurangan." Nadin bicara dengan suara yang keras dengan maksud agar Shasha mendengar percakapannya dengan Jhonson.
"Pak Jhonson." sapa Shasha dengan sopan.
"Ya sudah saya pulang dulu. Kalian juga segera pulang. kasihan orang tua kalian yang menunggu di rumah. Nadin, kamu harus segera pulang karena ada tugas tambahan dari saya untuk memperbaiki nilai dari mata kuliah saya." Jhonson lalu naik mobil dan mengendarainya.
"Kenapa sih? Kok kayaknya tegang banget. Pak Jhonson marahin Lo lagi? Apa tugasnya yang terlalu berat?" Shasha memberikan rentetan pertanyaan.
"Tau ah. Lagi males ngomong. Mau pulang ajah cape." Nadin berjalan keluar parkiran VIP dan tidak lama Shasha menyusul.
"Gue anter balik yuk. Sekalian gua mau ke toko buku arah rumah Lo." ajak Shasha.
Nadin sempat ragu untuk ikut ajakan Shasha. Karena Shasha belum tahu tempat tinggal baru yang ditempati Nadin dan Jhonson.
"Enggak usah. gue balik sendiri ajah. Masih ada urusan penting soalnya." Nadin langsung lari meninggalkan Shasha.
__ADS_1