
Jhonson menunggu istrinya di sebuah toko buku. Saat dia hendak keluar dari toko buku tidak sengaja bertemu Nadin dan teman-temannya.
"Pak Jhonson." Panggil Shasha.
Mereka semua akhirnya menghentikan langkah dan memutuskan untuk menyapa dosen mereka.
Meski Jhonson galak dan super tegas. Sebenarnya dia salah satu dosen populer yang ketampanannya diatas rata-rata dan body nya yang ideal.
"Pak Jhonson habis dari toko buku?" tanya salah satu sahabat Nadin yang lain.
"Iyah. Saya juga menunggu seseorang. Semoga dia ingat pulang." Jhonson melempar pandangannya kepada Nadin.
dengan cepat Nadin menangkap pandangan itu dan dia langsung membuat tatapan kesal.
"Kalian mau kemana?" tanya Jhonson.
"Kita akan pergi ke toko buku, Pak. Ada beberapa buku kuliah yang harus di beli," jawab Shasha.
"Kalian mahasiswa yang teladan ya. Semoga saja kalian selalu rajin belajar." Jhonson memuji mahasiswanya.
"Kalau begitu kamu izin ke dalam, Pak."
Jhonson menarik sedikit tubuhnya agar tidak menghalangi jalan mereka menuju toko buku.
__ADS_1
Melihat istrinya yang sudah berwajah ceria. Jhonson tidak memiliki kekhawatiran yang berlebih lagi.
"Pilih beberapa buku untuk referensi kali ya. Soalnya gue masih agak bingung sama tugasnya." Mario mengambil beberapa buku sejarah.
Mario mahasiswa sejarah. Dia senang membaca cerita tentang sejarah sejak kecil, menurut mamanya.
Nadin berjalan ke rah buku ke tiga di dekat pintu masuk toko buku.
"Ambil beberapa buku ini." Jhonson memberikan beberapa buku.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Untuk referensi dalam menulis skripsi kamu. Ini buku langka. Karena ada di sini jadi belilah." Jhonson menarik tangan Nadin dan menuju kasir.
"Jangan gandengan, nanti teman-teman melihat kita." Nadin berjalan sendirian ke arah kasir.
Jhonson baru ingat kalau istrinya sedang bersama dengan teman-temannya.
"Maafkan aku. Aku lupa. Biar aku saja yang bayar." Jhonson mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana.
"Kenapa enggak bayar ajah sih sendiri terus kasih ke aku pas kita udah di mobil atau di rumah." Nadin menjadi kesal.
"Sudah jangan cemberut. Aku'kan sudah baik." Jhonson menatap istrinya.
__ADS_1
.
.
Suganda kembali ke kantornya setelah beberapa hari dia sibuk di luar kantor.
"Dengar, kalian harus terus mengawasi mereka berdua. terutama mengawasi menantu dan juga cucu Perempuanku. Mereka berdua memang sangat menyebalkan. Banyak cara agar bisa mengelabui musuh dan bisa membuatmu tak berdaya karena iba." Suganda mengingatkan kembali asistennya.
"Siap, Pak. Saya sudah sangat hatam dengan kelakuan mereka berdua." Paparnya.
"Kamu masih meminta anak buahmu untuk mengawasi cucuku?" tanya Suganda.
"Masih Pak. Mereka sekarang bahkan sedang berada di Mall bersama berbelanja beberapa buku." Ceritanya sambil memperlihatkan gambar.
"Terus ikuti mereka dan jaga mereka berdua. Meski Jhonson seorang pria hebat yang menguasai karate, Tetap saja aku khawatir."
Suganda sangat memperhatikan cucu dan cucu menantunya.
"Kalau begitu, Kita akan mampir ke rumah mereka berdua. Saya mau bertanya langsung kepada Imah." Suganda bersiap untuk pergi.
Sebagai seorang pria yang kehilangan putranya dan memiliki cucu laki-laki dan perempuan membuatnya harus terus menyiapkan beberapa orang untuk mengikuti kedua cucunya.
Suganda sangat tidak mau kehilangan informasi lagi seperti dulu dia kehilangan informasi tentang putranya.
__ADS_1
Pria tua itu memiliki sejuta kekhawatiran di dalam hatinya. dan selalu berusaha melindungi keluarganya.