
Jhonson sengaja pulang ke rumah lebih dulu. Dia mengunci pintu kamar dan bekerja sama dengan bi Imah. Jhonson ingin mengetahui kenapa istrinya menjadi berubah. Padahal sebelumnya dia tidak seperti ini.
Jhonson memeriksa lemarinya dan pakaian Nadin masih utuh. Barang-barang juga masih tertata rapih. Jadi tidak mungkin Nadin akan kabur dari rumahnya.
Saat Jhonson akan menutup pintu lemari, terdengar suara pintu depan terbuka. Dia langsung lari untuk mengumpat di balik pintu.
.
.
Nadin mencari bi Imah di dapur.
"Bi, apa Jhonson sudah pulang?" tanya Nadin.
"Belum nyonya." Bi Imah menjawab dengan singkat.
"Kalau dia pulang, bilang suruh dia tidur di ruang kerja lagi.
Nadin meninggalkan bi Imah, Nadin berjalan lemas sekali seperti orang yang kekurangan makan.
Saat Nadin hendak keluar dari dapur dia tersungkur ke lantai. Bi Imah yang melihatnya langsung berteriak kencang.
"Nyonya, nyonya kenapa." Bi Imah mengangkat tubuh Nadin dan meletakkannya di pahanya.
"Tuan ... Tuan." Bi Imah berteriak kencang.
.
__ADS_1
.
Jhonson menunggu kedatangan Nadin, tapi sudah lima belas menit setelah kedatangannya. Nadin belum menunjukkan batang hidungnya.
Saat dia menunggu, terdengar suara teriakan bi Imah memanggil-manggil Nadin dan juga dirinya.
Jhonson langsung memutar anak kunci dan membuka pintu.
Saat dia melangkah keluar dan melihat ke arah bi Imah. Jhonson langsung berlari terbirit-birit.
"Bi, kenapa dengan Nadin?" Jhonson langsung menggendong tubuh Nadin dan membawanya keluar rumah.
"Siapkan mobil Nadin." Perintah Jhonson kepada satpam rumahnya.
Jhonson meninggalkan mobilnya di kampus agar bisa bicara dengan Nadin di rumah. Tak disangka ternyata Nadin pingsan saat sampai di rumah.
Selama perjalanan kecemasan yang ada di hati Jhonson saat ini. Dia takut Nadin sakit. Dia belum mengenal Nadin sama sekali, pernikahan yang serba dadakan itu membuatnya tak sempat mengenal istrinya terlebih dahulu.
Berhenti di sebuah klinik dekat rumahnya. Jhonson segera menggendong Nadin dan membawanya masuk ke dalam klinik.
"Tolong Dokter, tolong istri saya." Jhonson meletakkan tubuh Nadin di ranjang rumah sakit.
Nadin diperiksa oleh dokter dan kondisinya ternyata tidak mengkhawatirkan.
"Sepertinya istri bapak sedang mengalami datang bulan. Dia pingsan karena terlalu lelah dan kekurangan darah." Penjelasan dokter membuat lega hati pria yang tengah berdiri di samping ranjang pasien.
Jhonson duduk di kursi samping ranjang. Dia mengangkat satu tangan Nadin dan meletakkan tangan itu di dadanya.
__ADS_1
"Nadin, sejak awal aku bertemu kamu di kampus. Kamu sudah berbeda dari yang lain. Kamu membantu mereka yang ditindas oleh Muza. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama." Jhonson mengecup punggung tangan Nadin.
Jhonson menunggu Nadin sadar dan tanpa sadar dia tertidur.
.
.
Nadin membuka matanya dan perlahan dia membuka mata dengan pandangan yang masih buram.
Nadin melihat sekitar dan dia berada di tempat yang bukan rumahnya. Nadin ingin bangun, tapi tangannya mengangkut. Di tengiknya ke kiri dan ternyata Jhonson sedang tertidur pulas.
"Kenapa dia tidur di sini? Kenapa juga aku ada di sini?"
Nadin mengingat kejadian semalam dan dia baru sadar kalau saat keluar dari dapur tubuhnya lemas dan tak mampu berdiri.
"Pak ... Pak Jhonson." Nadin membangunkan pria yang sudah menjadi suaminya.
Pria yang menjaganya selama di tidak sadarkan diri.
Jhonson bangun dan melihat istrinya sudah tersadar.
"Kamu sudah sadar?" tanya Jhonson.
"Sudah. Aku mau pulang." Nadin ingin bangun.
"Jangan, dokter bilang kalau kamu bisa pulang setelah infus nya habis." Jhonson merebahkan kembali tubuh istrinya.
__ADS_1
Nadin merasa Jhonson baik kepadanya, tapi dia tetap tidak bisa menerima pernikahan ini. Pernikahan yang membuat dirinya seperti barang yang sudah terjual.