Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 16 - Dosen tampan


__ADS_3

Nadin yang tidak menanggapi perintah Jhonson sebagai seorang dosen di kampusnya menjadi tanda tanya bagi sahabatnya.


"Yakin enggak mau nyamperin dosen killer?" tanya Shasha.


"Iya. Biarin ajah. Males juga ladenin dia terus." Nadin mengeluarkan buku tugasnya dan alat tulis.


Shasha bingung dengan sahabatnya. Biasanya Nadin selalu langsung terburu ke ruangan dosennya itu.


Dosen mata kuliah Psikologi masuk ke dalam ruangan kelas mereka dan membuat para mahasiswa dan mahasiswi duduk dengan tenang.


Dosen hari ini termasuk dosen favorit Nadin. Dosen pria ini sangat jenaka. Mudah membuat para mahasiswa tertawa karena penjelasannya yang mengundang gelak tawa.


Ridho seorang pria dengan status Magister Psikologi ini memiliki postur tubuh yang atletis. Tubuh yang sedikit berotot, dengan bahu dan pundak yang lebar membuat dirinya memiliki pesona yang berbeda.


Selama jam kuliah Nadin terus memperhatikan Ridho. Dia dulu pernah membayangkan bisa menjadi kekasih dari dosennya itu, tapi ternyata dia malah menjadi seorang pria yang memiliki predikat dosen killer.


"Baik, untuk tugasnya kalian sudah saya kirim di group chat. Kalian harus perhatikan baik-baik untuk masalah trauma. Setelah itu kalian buat observasi tentang trauma." Ridho menutup kelasnya.


Nadin masih terus memperhatikan dosennya itu sampai pria itu menghilang dari balik kelas.


Shasha geleng-geleng kepala melihat sahabatnya begitu terpana kepada dosen yang mendapat predikat tampan itu.

__ADS_1


"Terus ajah liatin itu dosen. Lama-lama tembok bisa roboh karena tatapan mata Lo Din." Shasha tertawa.


Nadin menarik pandangannya dan kembali tersadarkan.


Dia langsung membereskan beberapa bukunya dan sisanya dia masih letakkan di atas meja.


"Kita ke kantin." Ajak Shasha.


Nadin dan Shasha keluar kelas dan melangkah menuju kantin yang menyajikan berbagai macam makanan.


Ternyata di sana mereka bertemu dengan dosen killer alias Jhonson suaminya.


Nadin sempat mau mengurungkan niatnya sebab dia malas bertemu dengan Jhonson, tapi Shasha memaksanya. Nadin akhirnya masuk ke kantin dengan dipaksa oleh Shasha.


"Kok di sini sih?" Protes Shasha.


"Udah di sini ajah. Enggak liat tuh, di Deket tempat yang biasa kita duduk ada siapa?" Nadin menunjuk ke arah Jhonson duduk.


Shasha kini mengerti kenapa sahabatnya tidak duduk di sana.


"Bi, pesen." Teriak Shasha kencang.

__ADS_1


"Duh, kenapa pake teriak sih? Nanti dia denger." Gantian Nadin yang protes dengan sikap sahabatnya.


"Maaf-maaf enggak kepikiran."


Nadin menepuk jidatnya. Selalu seperti itu. Untung saja sahabatnya, kalau bukan sudah dia cubit kali.


Pelayan kantin datang dengan membawa buku menu. Shasha langsung memesan makanan dan minuman.


Nadin masih memperhatikan Jhonson. Sebenarnya Jhonson tidak bersalah, hanya saja keluarganya membuat dirinya harus terjebak dalam pernikahan ini. Ditambah lagi keluarganya memberikan fasilitas untuk kedua orang tuanya. Seakan dirinya barang yang bisa di ganti oleh harta.


Nadin yang kesal dan tidak bisa melupakan emosi kepada keluarga Jhonson membuat pria itu sasaran kemarahannya.


Jhonson selesai makan siang. Saat pria itu bangkit dari tempatnya. Buru-buru Nadin langsung mengambil buku menu dan menutupi wajahnya.


Jhonson berjalan seakan dia tidak melihat keberadaan istrinya. Padahal dia jelas mendengar suara mereka dan menyadari keberadaan mereka berdua.


"Hah, syukurlah." Nadin menghela napas lega.


"Dia enggak liat kita kayaknya Din." Shasha memperhatikan dosennya keluar dari kantin.


"Bi, saya pesan mie rebus dengan ekstra cabai dan teh es manis." Pesannya.

__ADS_1


Bibi pelayan langsung kembali ke tempatnya dan siap membuatkan menu pesanan mereka.


__ADS_2