Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 9 - Perjanjian


__ADS_3

Raharjo menemui Suganda, pria misterius yang menawarkan bantuan kepada dirinya.


"Pak, pria itu sudah ada di rumah ini," ujar pria yang menjadi kepercayaan Suganda.


Suganda memutar kursi kerja yang sedang dia duduki.


Suganda tersenyum senang. "Bawa dia keruangan ini." Perintah Suganda


Lugo langsung beranjak dari ruangan bosnya. Dia menuju ruangan depan tempat menerima tamu.


"Silahkan ikut saya." Lugo memandu jalan menuju ruang kerja Suganda.


Raharjo berhati-hati dalam melangkahkan kakinya. Dalam hati Raharjo masih ada keraguan meski dia menerima penawaran pria yang masih belum dia ketahui namanya.


"Silahkan, Pak Suganda sudah menunggu anda di dalam." Lugo membukakan pintu.


Raharjo masuk ke dalam ruang kerja pria yang belum dia kenal itu. Langkah ragu terlihat dari gerakan tubuh Raharjo.


"Masuk, tidak perlu takut. Aku bukan pria jahat." Suganda menyadari betul gerak tubuh Raharjo.


Raharjo langsung masuk dengan cepat. Dia duduk dihadapan Suganda pria yang baru dia ketahui namanya.

__ADS_1


"Jangan takut. Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu atau kepada siapapun. Bagaimana tentang perbincangan kita di telepon?" tanya Suganda langsung.


"Saya dan istri saya setuju dengan persyaratan itu. Hanya saja saya mau bapak berjanji akan memperlakukan anak saya dengan baik." Pinta Raharjo.


"Maaf saya lancang, saya hanya ingin keselamatan anak saya terjamin dan kebahagiaannya terjamin." Raharjo meneruskan perkataannya.


"Kamu tenang saja. Saya tidak akan menyakiti putrimu, saya berharap hubungan kita terjalin dengan baik. Saya juga ingin kita semua bahagia, bukan hanya putrimu." Suganda membeberkan janjinya yang akan dia tepati.


Raharjo tenang ketika mendengar janji dari Suganda. Sebenarnya Raharjo bingung kenapa pria setia suganda ingin menikah dengan wanita yang masih belia.


"Kita atur acara pernikahannya, pengantin wanita akan dirias ditempat pernikahan nanti. Setelah pernikahan selesai, saya akan memenuhi janji saya." Suganda tersenyum menyeringai.


Raharjo mengangguk, dirinya yang sudah tidak ada daya dan upaya untuk menyenangkan keluarganya dan terlilit hutang akibat kebodohannya. Raharjo harus merelakan putri semata wayangnya.


.


.


Nadin yang sedang berada di kampus dan sekarang berada di ruangan dosen.


"Nadin, Muza. Kalian akan saya kasih tugas tambahan. Kalau kalian tidak jera juga dan masih membuat keributan, saya pastikan tugas kalian bertambah banyak." Tegas Jhonson.

__ADS_1


Nadin dan Muza saling berpandangan .


"Dia tuh Pak yang duluan." Tunjuk Muza kepada Nadin.


"Dia yang duluan, orang lagi anteng dengerin dosen, malahan dia nyolotin." Nadin berbalik menunjuk Muza.


Terjadi lagi pertengkaran kecil antara Muza dan Nadin. Jhonson langsung geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua mahasiswinya.


"Kalian berdua!" Bentak Jhonson sambil mengebrak meja kerjanya.


Nadin dan Muza langsung diam dan menatap Jhonson.


"Kalian benar-benar keterlaluan. Bersihkan toilet dosen sekarang juga, setelah selesai kalian kembali lagi ke ruangan saya." Jhonson bicara sambil setengah marah.


Sungguh Jhonson dibuat jengkel oleh kelakuan mereka berdua. Dua gadis itu selalu tidak akur. Bahkan paman dari Muza sudah angkat tangan.


Nadin dan Muza langsung kocar-kacir keluar ruangan. Mereka berdua mencari alat pembersih dan langsung mengerjakan tugas dari dosennya.


Selama membersihkan toilet dosen. Muza dan Nadin saling senggol-senggolan alat pembersih.


Nadin sangat kesal dengan Muza, dia selalu menjadi korban kejahilan Muza dan dia juga kesal kepada dirinya sendiri yang mudah terpancing emosi.

__ADS_1


.


.


__ADS_2