Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 19 - Percaya kepadaku


__ADS_3

Jhonson memeluk erat tubuh istrinya dibawah guyuran air hujan.


Langit pun ikut menangis merasakan kesedihan hati Nadin. Banyak alasan mengapa dirinya marah dan bersedih disaat yang bersamaan.


Nadin yang menangis tubuhnya sudah basah kuyup, tapi masih dengan keras kepalanya.


"Kita pulang. Aku tidak mau kamu sakit lagi." Jhony memohon.


"Lepaskan aku. Biarkan aku di sini sampai kedua orangtuaku membukakan pintu rumah baru mereka." Nadin memberontak untuk lepas dari pelukan suaminya.


"Nadin. Kenapa kamu bisa semarah ini?" Jhonson bisa merasakan kemarahan dari detak jantung istrinya.


"Kamu tidak akan pernah mengerti. Kamu dan keluargamu itu adalah penyebab semua ini terjadi." Nadin kembali menangis.


"Kenapa? Apa karena pernikahan kita? Apa kamu ingin kita berpisah? Jika benar, aku akan bicara kepada kakekku." Jhonson melepas pelukannya.


"Tidak mungkin bisa," kata Nadin.

__ADS_1


"Kenapa? Nadin bicaralah. Aku tidak bisa tahu apa permasalahan mu jika kamu hanya terus diam, marah lalu menangis. Semua tidak akan ada jalan keluarnya jika kamu hanya terus seperti itu." Jhonson memaksa agar istrinya bercerita.


"Dengar Nadin. Meski kamu tidak menerima pernikahan ini. Kita tetaplah suami istri yang sah. Sebagai seorang suami. Aku ingin ikut memikul beban yang ada padamu."


Perkataan Jhonson mungkin akan sangat mengesankan dan membuat wanita terbang melayang. Sayangnya itu semua tidak mempan bagi Nadin. Nadin memang sudah keras kepala sejak kecil namun, dia tetap anak yang manis dan tidak pernah membuat masalah.


"Nadin. Aku mohon, percayalah kepadaku. Aku tidak akan pernah membawamu ke jalan yang berkerikil. Aku juga akan selalu menggenggam tanganmu kuat." Jhonson kembali meyakinkan istrinya.


"Nadin ... Nadin."


Nadin kembali pingsan dan Jhonson langsung membawanya masuk mobil. Dia akan membawa istrinya kembali ke rumah mereka.


Jhonson langsung menginjak pedal gasnya. Untung saja rumah mereka tidak begitu jauh. Cukup dengan waktu tiga puluh menit mereka akan bisa sampai di rumah.


Dalam perjalanannya. Jhonson juga menggigil sebab bajunya yang basah kuyup. Dia terus berusaha kuat menahan dinginnya malam dengan pakaian basah.


"Bertahan Nadin. Kita akan segera sampai di rumah."

__ADS_1


Jhonson tidak bisa membawa Nadin ke rumah sakit langsung. karena posisinya mereka sama-sama basah kuyup karena diguyur hujan lebat.


.


.


Nia dan Raharjo terbangun dari tidur pulas mereka berdua. Beberapa hari setelah mereka pindah dari kontrakan dan sibuk merapihkan rumah. Nia dan Raharjo merasa tubuhnya lelah. Karena suara hujan yang begitu deras Nia terbangun begitu juga dengan Raharjo.


"Pih, hujannya deras banget ya. Semoga di rumahnya Nadin bisa tidur pulas. Biasanya dia akan sulit tidur saat hujan deras." Nia mengkhawatirkan putrinya.


"Sudah. Dia itu sudah punya suami. pastinya akan tertidur sangat pulas." Raharjo membenarkan posisi bantalnya dan kembali menutup mata.


Nia merasa sedikit kesal kepada suaminya yang terlihat begitu cuek sekali. Padahal mereka berdua bisa hidup di rumah sekarang semua berkat putrinya. Berkat Nadin menikah dengan Jhonson.


Nia ikut kembali membaringkan tubuhnya dan dia kembali memejamkan matanya.


Meski matanya terpejam, tapi hatinya Nia masih terus memikirkan putrinya. Dia sudah memberitahukan alamat rumah baru, tapi entah kenapa Nadin belum juga berkunjung ke rumah barunya.

__ADS_1


Nia sungguh merindukan putri semata wayangnya itu. Dia sangat ingin menanyakan kondisi putrinya.


__ADS_2