Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 21 - Mencari tahu


__ADS_3

~Mencari Tahu~


Jhonson menuju ke rumah keluarganya lagi. Dia hari ini tahu kalau mamanya dan adik perempuannya jika jam segini akan pergi ke Mall.


"Kek ... Kakek." Jhonson memanggil kakeknya saat sampai di rumah.


Suganda keluar dari kamarnya dan menemui Jhonson cucunya.


"Ada apa? Tumben sekali kamu kemari?" tanya Suganda sambil duduk di bangku kebesarannya.


Jhonson ikut duduk di sofa yang tak jauh dari bangku kakeknya.


"Kek, aku mau tahu. kenapa kakek bisa menikahkan diriku dengan Nadin secara mendadak seperti itu?" tanya Jhonson.


"Jhon, Kakek tahu kamu menyukai Nadin. Benarkan?" tanya Suganda.


"Dari mana Kakek mengetahui hal itu?" tanya Jhonson.


"Karena aku selalu mengawasi dirimu. Aku tahu kamu memiliki sifat seperti ayahmu. Mudah memendam perasaan dan udah menyerah dengan keadaan." Tebak Suganda.


"Kakek salah. Aku memang pandai memendam perasan, tapi aku tidak akan mudah menyerah seperti papa." Jhonson menegaskan tentang sifatnya.


"Kamu yakin? Lalu kenapa kamu malah diam saja saat mengetahui perasaanmu kepada wanita itu?" tanya Suganda.


"Karena butuh waktu untuk mengenal seseorang. Butuh cara agar kita bisa menunjukkan bahwa ada rasa. Tidak bisa seenaknya dan semaunya." Jhonson menjelaskan cara anak muda mendapatkan hati pujaannya.


"Semua sudah terlanjur. Kakek lakukan itu semua hanya karena tidak mau kehilangan keturunan ayahmu. Aku tidak mau kehilangan lagi. Dulu aku menikahkan ayahmu dengan ibumu. Karena dia tidak mencintai ibumu dan tidak tahan lagi menahan rasa kerinduan kepada wanita yang dia cintai. Akhirnya dia memutuskan bunuh diri. ayahmu meninggal karena bunuh diri bukan sakit seperti yang kamu ketahui." Suganda membuka luka masa lalu.


Jhonson benar-benar tidak menyangka ternyata papa nya meninggal karena bunuh diri. Waktu dia Sekolah di menengah pertama. Dia tahu kalau papa nya sakit keras sejak lama.


Kini dia mengetahui kebenarannya. Dia tidak menyangka kalau hari ini semua kebenarannya terpampang jelas di hadapannya.


"Pantas saja. Mama selalu bilang kalau Papa tidak pernah mencintainya dan memilih untuk pergi darinya selamanya,"kata Jhonson dalam hatinya.


Dia mengingat semua satu persatu perkataan kedua orangtuanya dulu. Papanya sering bercerita tentang kerinduannya kepada kupu-kupu yang telah pergi meninggalkan bunga.


"Jadi ini maksud cerita Papa tentang kupu-kupu yang pergi meninggalkan bunga?" Seberapa sakitnya Pah? Seberapa tersiksanya dirimu selama ini?" Jhonson meratapi nasib papanya yang begitu tidak beruntung.

__ADS_1


"Dulu Kakek kira dengan nikahkan dirinya dengan mamamu. Dia bisa bahagia, ternyata kakek salah. Papamu menyembunyikan perasannya. Dia tidak pernah memberitahu kakek kalau ternyata dia memiliki seorang wanita idaman lain. Andai dia tidak menutupinya. Kakek mungkin tidak akan kehilangannya." Suganda berlinang air mata.


Jhonson kini mengerti kenapa kakeknya buru-buru menikahkan dia dengan Nadin setelah mengetahui kalau dirinya menyukai Nadin.


"Tapi, Jhonson merasa kakek tidak mengenal siapa aku. Aku dilahirkan dari rahim wanita yang memiliki ambisi. Mungkin kakek lupa akan hal itu." Jhonson tersenyum.


"Hah. Ibu kamu itu terlalu berambisi. Sampai-sampai kakek harus menelan pil sabar setiap hari." Suganda mulai bisa tertawa.


Jhonson senang kakeknya sudah tidak bersedih lagi. Dia yakin selama ini kakeknya menyimpan rasa bersalah yang sangat besar. dia pasti selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian putranya sendiri.


Jhonson memeluk kakeknya erat. Dia berterima kasih kepada kakeknya.


"Lalu kenapa kedua orang tua Nadin bersedia menikahkan kami berdua? Padahal kita orang asing bagi mereka. Dan mereka tahunya kakek yang akan menikahinya." Jhonson menuntut penjelasan.


"Itu karena hasil penyelidikan anak buah kakek. Mereka menyampaikan kalau keluarganya terlilit hutang akibat dari ayahnya Nadin ikut bermain judi. Kami membuat kesepakatan dan kakek memberikan rumah serta usaha kecil-kecilan untuk kedua orang tuanya." Jelas Suganda.


Jhonson juga kini mengetahui alasan kenapa Nadin begitu bersikap dingin kepada dirinya. Ternyata dia merasa tidak nyaman dan marah.


"Jadi kamu merasa seperti menjadi jaminan hutang? Atau merasa seperti barang yang dijual? Nadin, buatku kamu adalah belahan jiwaku." Jhonson bangkit dari duduknya. Dia langsung berpamitan dan pulang ke rumahnya.


.


.


"Sha, maaf. Gue enggak bisa angkat telepon Lo. Kalau gue jawab sudah pasti Lo akan cari gue." Nadin mematikan ponselnya dan kembali berbaring.


Tubuhnya masih sangat lemas. Dia juga terlihat pucat. Nadin meminum obat yang dibeli oleh Jhonson di apotek.


Dia tidak mau berlama-lama sakit dan tidak masuk kuliah. Dia harus kembali ke kampus secepatnya karena jika tidak. Beasiswanya bisa terancam di cabut oleh rektornya.


"Nyonya." Panggil bi Imah.


Nadin keluar kamar setelah selesai meneguk minumannya.


"Kenapa, Bi?" tanya Nadin yang menghampiri Bi Imah.


"Nyonya. Bibi mau ke Pasar dulu. Bahan makanan di rumah sudah mau habis," kata Bi Imah.

__ADS_1


"Uangnya ada bi?" tanya Nadin.


"Ada Nyonya. Pagi tadi Tuan sudah memberi uang bulanan untuk keperluan dapur," kata Bi Imah.


"Ya sudah. Hati-hati Bi."


Nadin kembali masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Bi Imah berangkat ke pasar.


.


.


Raharjo dan Nia sedang sibuk di rumahnya. Mereka membuat masakan yang cukup banyak. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Nadin dan menantunya.


"Pih, ini udah banyak belum masakannya?" tanya Nia.


"Udah tiga jenis lauk dan satu jenis sayur Mih. Sudah cukup, Cepat kita kerumah mereka sebelum waktu makan siang habis." Ajak Raharjo yang begitu bersemangat untuk pergi berkunjung ke rumah putrinya.


Karena Nadin tidak kunjung mengunjungi mereka di rumah baru. Jadi pasangan suami istri ini memutuskan untuk mereka yang berkunjung. Mereka khawatir terjadi sesuatu kepada putrinya.


Meski Raharjo seperti terkesan menjual putrinya. Sebenarnya dia sangat menyayangi putrinya lebih dari apapun. Karena mendengar kalau putrinya kesulitan di kampus. Raharjo mau putrinya kembali menjadi orang kaya agar tak dihina.


Raharjo dan Nia bersiap. Mereka membawa rantang yang berisi menu masakan.


Raharjo mengendarai mobilnya sendiri. Mobil pemberian dari keluarga Jhonson.


Nia sangat bersemangat karena mereka akan segera bertemu putri mereka.


"Nadin pasti bahagiakan, Pih?" tanya Nia yang cemas putrinya mengalami Kdrt seperti berita-berita di televisi.


"Mih, dia itu dosen di kampus Nadin. Seorang dosen sudah pasti menjaga sikapnya. Tidak mungkin menyakiti istrinya,"Sahut Raharjo.


Sebenarnya rasa cemasnya juga ada. Hanya saja jika dia juga ikut terlihat cemas dan meladeni kecemasan istrinya. itu hanya akan membuat mereka menjadi setres. Jadi Raharjo berusaha tenang dan tetap berpikir positif.


Raharjo sampai di sebuah komplek perumahan. Rumah Nadin dan Jhonson tidak jauh dari gapura komplek sehingga mudah di cari.


Nia dan Raharjo turun dari mobil. Nia memencet bel rumah.

__ADS_1


Saat mereka akan memencet bel untuk kedua kali. Pintu rumah terbuka dan terlihat wajah pucat dengan tubuh lemas dari balik pintu.


__ADS_2