
"Nadin ... Nadin." Jhonson mengetuk pintu kamar yang terkunci dari dalam.
Tidak lama suara kunci berputar terdengar dari balik pintu dan pintu terbuka. Muncul wajah wanita yang sudah terlihat matanya sembab.
"Nadin, jangan menangis lagi. aku mohon maafkan sikap ibuku yang tidak ramah itu." Jhonson melihat wajah istrinya lamat-lamat.
"maafkan aku juga yang bersikap seperti anak kecil dalam menghadapi sikap ibumu," kata Nadin.
"tidak Nadin, kamu tidak salah sudah sewajarnya orang tersinggung dan sakit hati. dengan perkataan dan sikap ibuku itu. apalagi kamu adalah orang yang baru pertama kali berhadapan secara langsung dengan ibuku," Jhonson merasa tidak enak.
"aku juga minta maaf itu juga salahku ya sudah sekarang lebih baik kita menetralkan hati kita berdua," kata Nadin.
"maksudnya?" tanya Johnson tidak paham.
"ya kayak ajak aku makan kek apa jalan-jalan ke mall kek bosen tahu sejak aku sakit di rumah terus." keluh Nadin.
"oke kalau begitu kamu siap-siap kita akan pergi ke mall untuk makan siang di sana." Jhonson akhirnya mengajak Nadin keluar.
.
.
Shasha sahabat Nadin, merasa ingin sekali untuk menengok Nadin yang sedang sakit, tapi dia tidak tahu rumah Nadin. yang baru dan dia juga tidak diberitahukan alamat baru Nadin sebab kata Nadin suaminya sangatlah galak.
"aduh Din aku tuh kangen banget mau nggak sih tapi kenapa sih kamu tuh nggak mau ngasih tahu aku alamat rumah kamu" kata Shasha melalui telepon.
"ketemuan di mall, oke kalau begitu kasih tahu ya jam berapa terus di mana kita ketemuannya. nanti gue langsung ke sana." Sasha menutup teleponnya.
Shasha langsung bersiap-siap untuk pergi menemui sahabatnya. dia sangat tidak sabar untuk berjumpa dengan Nadin. karena sudah 3 hari lamanya mereka tidak berjumpa dan tidak saling bertukar cerita.
"oke siap sekarang. gue mau ketemu Nadin. gimana kalau ajak yang lain juga kali ya." ide Sasha muncul tiba-tiba untuk mengajak beberapa sahabat yang lain.
Shaha mengeluarkan pollnselnya dan mengirim sebuah pesan singkat kepada teman-temannya yang lain.
.
.
Nadin dan Jhonson pergi ke sebuah Mall yang masih dalam satu kawasan dengan daerah tempat tinggalnya.
Jhonson memarkir mobilnya di baseman Mall taman anggrek Jakarta.
Nadin turun dari dalam mobil, dia mengenakan masker.
"Kenapa harus pakai masker?" tanya Jhonson.
__ADS_1
"Kalau sampai ketahuan orang aku jalan sama kamu. Bisa gawat tahu." celetuknya.
"Ya ampun, samoe setakut itu? lebay banget sih." katanya.
Nadin menarik bibirnya ke atas, dia kesal dengan perkataan suaminya yang bilang kalau dia lebay.
"Emangnya mau orang tahu kalau kita udah nikah?" tanya Nadin.
"Harusnya sih enggak kenapa-kenapa ya. karenakan itu hal yang menggembirakan." ledek Jhonson.
Nadin langsung memutar bola matanya dan dia merasa jengkel.
Nadin melayangkan kakinya menuju ke dalam Mall. Dia langsung mencari keberadaan resto kesukaannya.
Jhonson yang mengikuti langkah istrinya dari belakang. senyum-senyum sendiri melihat istrinya yang senang diajak pergi ke mall.
"Kamu mau makan apa?" tanya Jhonson saat berada di samping Nadin.
"Makan plus minum coffee. Di sana." tunjukknya.
Nadin dengan cepat masuk ke dalam resto tersebut dan dia segera duduk di salah satu meja yang kosong.
"Ternyata selera kita sama." kata Jhonson.
"Hem... ikut ikutan ajah. di larang plagiat, ngerti?"
Nadin memesan beberapa makanan dan juga coffee kesukaannya.
"Pesanannya, ada tambahan lain?" tanya pelayan resto.
"Itu saja cukup, Mbak. Nanti jika adalagi kami tambah pesanan."
"habis ini kamu mau ke mana?" tanya Johnson sambil menunggu pesanan mereka tiba.
"aku mau ketemu sama sahabat-sahabatku apa boleh?" tanya Nadin.
"boleh asal jangan terlalu lama aku akan menunggumu di sini. kalau kamu sudah selesai kamu hubungi saja aku kita akan pulang bersama," ujar Nadin.
"yakin mau nunggu aku di sini kamu tidak akan bosan?" tanya Nadin.
"ya aku yakin mungkin setelah ini aku juga akan pergi ke toko buku." kata Jhonson.
"okeh, kalau itu mau kamu."
Minuman mereka datang terlebih dahulu. Nadin dengan cepat menyesap coffee dingin miliknya. Dia sebenarnya ada rasa canggung . Masih ada rasa kikuk dan bingung karena mereka dua orang yang disatukan tanpa persiapan matang.
__ADS_1
.
.
Diana melempar tubuhnya ke adltas sofa kamarnya. Dia sangat kesal dengan perlakuan putranya yang begitu dia sayangi dan banggakan.
Sebenarnya dia bukan tidak suka dengan Nadin. Hanya saja dia belum bisa merelakan putranya menikah dengan wanita yang tak pernah dia kenal sebelumnya.
"Mama kesal dengan kakak kamu. Kenapa dia dengan cepatnya berubah seperti itu? Apa hebatnya wanita itu sampai dia membelanya?" Diana tak habis pikir.
Jhonson selalu menjadi anak manis untuknya. dia selalu menuruti semua kemauan mamanya selama ini.
Adelia juga terlhat sangat murung. dia kesal dengan sikap kakaknya yang tidak lagi sayang dengannya dan memprioritaskan dirinya.
"Aku juga kesal mah. Pokoknya aku mau protes ke kakek. aku mau bilang kalau wanita itu sudah menyulap kakakku menjadi pria yang pembangkang kepada mamanya." Adel ia melipat kedua tangannya di dada.
Kekesalan kedua wanita itu sepertinya tidak akan mudah hilang. mereka pasti akan mencecar Nadin lagi suatu hari nanti.
"Kamu benar andel. kakekmu harus tahu sikap asli dari cucu mentunya yang dia banggakan itu. katanya mahasiswi yang baik, teladan dan selalu mendapatkan beasiswa. nyatanya sikapnya nol. dia membuat anakku berubah total." rutuk Diana.
.
.
Shasha tiba di Mall, dia menghubungi Nadin dan Nadin mengangkat panggilannya.
"Dimana?" tanya Shasha.
"Oke, gue sama temen-temen nyusul ke sana." tutup Shasha.
"Yok, kedalam. Nadin udah nunggu."
Shaha dan kedua sahabat lainnya menuju tempat di mana Nadin menunggu mereka semua.
Shasha melihat sosok wanita yang di kuncir kuda sedang menunggunya di supermarket dalam Mall.
"Hai." sapa ketiga sahabatnya.
"Hai." Nadin cipika cipiki dengan ketiga sahabatnya.
"Kita ngopi di dalem yuk." Ajak Nadin.
Sebenarnya dia sudah kenyang, tapi demi menghargai ketiga sahabatnya dia ikut memesan minuman.
"Lo udah sehat, Din?" tanya Shasha.
__ADS_1
"Udah sehat dong." ujar Nadin dengan wajah sumringah.