Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS - Mertua


__ADS_3

Adik Jhonson uring-uringan di kamar bersama dengan ibunya. Mereka berdua tidak akan bisa lagi mengakses keuangan ke perusahaan.


"Kita minta saja yang ke Kak Jhonson." Ide Adelia.


"Mana bisa, sifat mereka bertiga sama saja. Apalagi sekarang kakakmu sudah berkeluarga."


Adelia berusaha untuk berpikir. Dia tidak mau bekerja. Apalagi sampai teman-temannya tahu dia tidak punya uang, habislah sudah kepopulerannya.


Diana juga ikut berpikir agar mereka tetap bisa shopping. Apalagi Diana memiliki beberapa Group arisan, sudah pasti harus punya uang banyak.


"Apalagi mama ada arisan yang dua puluh juta, yang lima puluh juta juga. Bagaimana cara mama untuk membayar semuanya?" pusing Diana.


"Kita catat dulu semua pengeluaran kali kita akan nego dengan kakek." Adelia memberi ide.


"Benar. Kamu memang pintar, Mama akan coba hitung dulu." Dianna mulai mencari kertas dan pulpen.


Kedua wanita ini memang selalu saja menghambur-hamburkan uang. Tidak ada sehari saja mereka berhenti shopping.


"Sepertinya sebelum kita bertemu dengan kakekmu. Sebaiknya kita ke rumah kakakmu dulu. Kita harus meminta bantuannya. Hanya dia yang bisa menjinakkan macan ompong itu." Diana mendapat ide cemerlang.


.

__ADS_1


.


Menjadi sosok pria yang baru saja belajar ilmu rumah tangga. Jhonson cukup mahir sebagai seorang suami baru.


"Kamu benar-benar ingin menjadi menantu Mami dan Papi ku?" tanya Nadin.


"Kenapa memangnya?" tanya Jhonson.


"Ya, Aku hanya tanya saja."


Jhonson menatap istrinya lekat. Dengan tatapan itu membuat Nadin menjadi tidak nyaman.


"Kalau aku yakin, apa kamu mau memberikan hatimu?" tanya Jhonson.


Jhonson hanya merespon dengan senyuman.


Nadin yang berada di dalam kamar mandi langsung senyum-senyum sendiri.


"Ternyata dia manis juga. Meski dia masih berwajah dingin."


Nadin merasa hatinya sudah bisa terbuka untuk Jhonson. Perlakuan Jhonson yang baik kepadanya dan kepada kedua orang tuanya sangat manis dan santun.

__ADS_1


Hati yang tadinya beku kini mulai sedikit mencair. Nadin mulai merasakan kehangatan di dalam hatinya. Membuat dirinya semakin nyaman berada di dekat Jhonson.


.


.


Raharjo dan Nia terus-terusan menyanjung menantunya yang tampan dan sangat ramah itu.


Kepribadian Jhonson mampu meyakinkan hati kedua mertuanya. Dia dengan cepat memenangkan hati Raharjo dan Nia.


"Kamu ingatkan tadi Mih? Dia itu sopan sekali. Predikat dosen yang melekat kepadanya benar-benar tercermin dari sikapnya." Raharjo semakin mengagumi menantunya.


"Sudah Pih, kita sekarang tidur. Sejak kita pulang sampai kita di kamar. Sudah berapa jam kita terus menyanjung menantu terbaik kita itu. Nanti dia di rumahnya terus-terusan bersin." Tawa Nia.


"Kita sudah bisa tenang ya Mih. Putri kita berarti tidak akan tersakiti. Pasti akan dibahagiakan oleh suaminya." Raharjo sangat senang.


"Iyah Pih, Mamih juga lega sekarang. Benar kata Papi, kita sebaiknya jangan berpikir yang bukan-bukan dulu. Karena pikiran itu belum tentu terbukti." Nia memeluk suaminya erat.


Mereka sangat beruntung karena ternyata pernikahan ini membawa berkah dan bahagia bukan membawa petaka.


"Semoga mereka cepat punya momongan ya Pih. Biar kita bisa gendong cucu." Nia membayangkan dirinya sedang menimang cucu.

__ADS_1


"Semoga Mih. Papih harap juga begitu. Semoga mereka bisa saling mencintai. Papih takut Nadin mengunci hatinya." Raharjo mengkhawatirkan perasaan putrinya yang tidak mudah jatuh cinta.


__ADS_2