
Jhonson menggendong tubuh istrinya ke dalam kamar. Dia juga memanggil bi Imah ke kamarnya.
"Bi tolong gantikan pakaian Nadin." Pinta Jhonson.
Jhonson mengambil pakaiannya dan pergi ke ruang kerjanya.
Jhonson merasa gagal sebagai seorang suami. Dia merasa gagal juga sebagai seorang pria. Dia yang juga terjebak dalam pernikahan yang di rencanakan oleh kakeknya namun, dia juga mencintai Nadin selama ini. Merasa seharusnya bukan begini cara dia mendapatkan Nadin.
Dia berencana besok untuk menjumpai kakeknya lagi. dia ingin tahu semua kebenaran dibalik pernikahannya.
Tok Tok Tok
Pintu terketuk dari luar ruangan. Jhonson langsung membuka pintu dan di sana ada pembantunya sedang berdiri menunggu .
"Tuan, Dokternya sudah datang." Bi Imah memberitahu Jhonson.
"Saya akan ke sana." Jhonson keluar ruangan dan menuju kamar.
Jhonson melihat dokter sedang memeriksa kondisi Nadin.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanyanya sambil mendekat.
"Tidak apa Pak. Saran saya Bu Nadin tidak terkena suhu dingin dulu. Saya khawatir akan terkena hipotermia." Jelas Dokter.
"Baik Dokter." Jhonson mematuhi perintah. Dia langsung mematikan AC di kamar.
__ADS_1
Nadin masih tertidur. Dia belum sadarkan diri sejak dibawa pulang.
"Apa dia akan segera bangun?" tanyanya penuh rasa cemas.
"Tenang saja, sebentar lagi Bu Nadin akan siuman." Dokter merapihkan peralatannya dan menuliskan resep.
"Ini resepnya mohon di tebus besok. Dan ini obat untuk malam ini saja jika kondisinya memburuk. Jika tidak, tidak perlu diberikan. Saya sudah memberikan obat lewat suntikan tadi." Dokter memberitahukan kepada Jhonson.
Dokter selesai dengan pemeriksaan dan dia berpamitan di antar oleh Imah ke depan.
Jhonson menemani istrinya di kamar. Dia menjaga Nadin di rumah seperti dia menjaga di klinik.
"Cepatlah sadarkan diri. Aku khawatir kepadamu." Jhonson mengusap kening istrinya.
.
.
Jhonson tertidur di samping Nadin, dan Nadin yang terbangun setelah semalaman tidak sadarkan diri terkejut dengan apa yang terjadi.
"Pergi kamu. Kenapa bisa-bisa Kamu tidur di dekatku?" kata Nadin sambil berteriak kencang.
Nadin menendang tubuh Jhonson sampai tubuh pria itu terpental ke bawah kasur.
"Aaah!" Jhonson berteriak dan merasa kesal karena harus terbangun dengan keadaan tersakiti.
__ADS_1
"Kenapa sih pakai tendang-tendang. Sakit tau." Jhonson bangun dengan menahan sakitnya.
Nadin turun dari tempat tidurnya dan langsung keluar kamar.
Dia menuju ke ruangan dapur dan melihat Bi Imah sudah menyiapkan sarapan pagi.
"Eh, Nyonya sudah bangun. Pasti sekarang sudah Segeran ya. Semalaman Tuan jagain Nyonya. Sepertinya Tuan sangat mencemaskan Nyonya." Bi Imah bercerita.
"Menjaga?" tanya Nadin.
"Benar Nyonya. Tuan bahkan menggendong Nyonya ke dalam kamar." Bi Imah melanjutkan ceritanya.
Nadin melihat ke arah tubuhnya dan baru menyadari kalau dia sudah berganti pakaian.
"Ya-yang gantiin baju saya?" tanya Nadin.
"Oh, itu. Saya Nyonya. Tuan meminta saya menggantikan pakaian Nyonya yang basah kuyup." Jelas Bi Imah.
Nadin bernapas lega. Dia kira kalau yang menggantikan pakaiannya adalah Jhonson. Jika benar sungguh dia tidak bisa menghadapi Jhonson lagi.
"Sarapan dulu Nyonya. Biar kembali sehat." Bi Imah meninggalkan meja makan.
Nadin malah mulai merasa bersalah dengan tindakannya yang semena-mena terhadap Jhonson tadi. Dia seharusnya mengucapkan kata terima kasih, bukan malah bertindak kasar seperti itu.
"Sudahlah Nadin. Kamu'kan tidak tahu kondisi sebenarnya. Jadi wajar kalau kaget, lagian siapa suruh dia tidur di sampingku." Nadin bergumam seorang diri.
__ADS_1