Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 8 - Menjadi Jaminan


__ADS_3

Jhonson yang terus mendesak Nadin untuk menjawab pertanyaan darinya. Mulai berjalan lirih ke arah Nadin duduk.


Nadin langsung menegakkan tubuhnya dan debaran di jantungnya terus berpacu dengan cepat.


"Lalu?" Jhonson meletakkan kedua tangannya diatas meja Nadin.


Nadin matanya terbuka lebar. Dia begitu gugup dengan tatapan dosennya.


"Maaf Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji tidak akan terjadi lagi." Nadin memohon dengan sangat.


Jhonson menarik kembali tubuhnya dan kembali ke meja dosen.


"Dengar, kalau saja kalian disiplin tidak akan terjadi hal seperti ini. Saya juga tidak akan memberikan kalian hukuman. Saya bersikap seperti ini hanya ingin agar kalian itu bisa menjadi orang disiplin dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian lakukan." Jhonson berbicara dengan sedikit keras untuk memperingati mahasiswanya.


"Kalian mengerti?" Sambungnya.


"Mengerti, Pak." Seluruh mahasiswa menjawab dengan serentak.


Jhonson kembali memulai materi mata kuliahnya. Nadin kini sangat memperhatikan dosennya agar tidak mengantuk dan tidak mendapatkan hukuman lagi.


.


.


Nia memikirkan putrinya yang sedang ada di kampus saat ini. Setelah Nia tahu kondisi putrinya yang menjadi korban bullying di kampus. Nia menjadi bimbang dengan keputusannya yang menolak tindakan suaminya.


Nia bukan seorang wanita yang serakah akan harta. Meski dia terlahir dari keluarga kaya, tapi dia tidak gila harta dan tahta. Sekarang dia hanya memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya kepada putrinya.


Nia takut Nadin tertekan karena dia di bully dan tidak mau membicarakannya dengan dirinya.


"Nadin, Mami mau kamu mendapatkan hidup yang baik. Mami enggak mau kamu menjadi bahan olok-olok temanmu." Nia menangis di dalam kamar mandi.


Sungguh sesuatu yang sulit, Nia tidak mau putrinya menjadi istri dari pria tua yang diceritakan oleh suaminya. Nia juga tidak mau putrinya menjadi bahan tertawaan orang.


.


.


Nadin pulang dari kuliahnya. Dia mencari orang di rumah. Maminya tidak terlihat dan Papinya juga tidak.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Nadin mengucap salam sambil sedikit berteriak.


Nia yang mendengar suara putrinya datang, dia langsung merapihkan wajahnya dan keluar dari kamar mandi.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah kamu sudah sampai." Nia bersyukur.


"Papi dimana?" tanya Nadin.


"Ada di kamar, kamu bersih-bersih dulu, abis itu kita makan malam bareng." Nia langsung pergi ke dapur.


Sekarang Nia mulai bisa mengurus rumah tangga, dia mulai belajar mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring hingga memasak. Nia juga berbagi tugas dengan Nadin agar tidak terlalu berat pekerjaannya.


Nia menyiapkan makan malam mereka.


"Nadin, Papih. Ayo makan bareng." Teriak Nia dari ruang depan.


Sekarang mereka tidak bisa menonton televisi, bahkan Nia tidak punya ponsel. Ponselnya dia jual ke konter agar bisa punya uang untuk kebutuhan rumah.


"Dari mana Mami punya uang?" tanya Nadin.


"Mami menjual ponsel. Mami rasa hanya perlu satu ponsel sekarang, karena Mami dan Papi jarang terpisah." Senyum Nia.


Nadin hanya bisa tersenyum dan merasa semakin prihatin terhadap kehidupan keluarganya. Maminya bahkan sampai harus menjual ponselnya.


Raharjo merasa tersindir dengan kata-kata putri dan juga istrinya. Dia memang sampai saat ini belum melakukan apapun. Dia malah membuat kekacauan dengan bermain judi dan berhutang.


"Nadin, apa kamu punya kekasih?"tanya Nia.


"Tidak, aku tidak sempat memikirkan punya pacar." Nadin menyuap nasinya.


Raharjo melirik ke istrinya, dia merasa aneh dengan pertanyaan istrinya. Tidak biasanya istrinya akan bertanya tentang urusan pribadi putri mereka.


"Apa dia setuju?" Batin Raharjo.


"Apa boleh Mami, mengenalkan mu dengan seseorang?" tanya Nia lagi.


"Untuk apa?" tanya Nadin.


"Ingin saja, pasti menyenangkan. Mami'kan pengen liat kamu punya pasangan" Nia tersenyum.

__ADS_1


"Nantilah, Mih. Kalau aku sudah kerja baru cari pasangan."


Nia tersenyum dan juga menangis dalam batinnya. Begitu naifnya dia menjadi seorang ibu. Begitu tidak perhatiannya dia terhadap putrinya.


"Maafkan Mami, tapi Mami tidak mau melihatmu ditertawakan." Batinnya.


Ada rasa aneh di hati Nadin, dia juga pasti merasa tidak biasanya Maminya bertanya demikian. Padahal biasanya Maminya selalu melarangnya pacaran.


.


.


Roda kehidupan setiap hari berputar, pandai-pandailah dalam mengatur keuangan dan bijaklah dalam menggunakannya. Agar tidak terjatuh dalam kemiskinan.


Raharjo melihat ponselnya, dia menunggu pria tua itu menghubunginya untuk kelanjutan pertemuan mereka.


"Kamu kenapa sih Pih? Dari tadi liatin ponsel kamu terus." Oceh Nia.


Raharjo menoleh ke istrinya. Dia mengingat kejadian tadi saat makan malam.


"Kamu setuju?" tanya Raharjo kepada istrinya yang sedang mencuci piring.


"Maksudnya?" tanya Nia.


"Tentang pernikahan Nadin?" tanya Raharjo sambil bisik-bisik.


Mereka berdua bicara dengan nada yang nyaris tak terdengar orang lain.


"Aku setuju, tapi dengar jika putri kita tidak bahagia. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Jangan membuatnya menderita lebih lama." Tegas Nia.


Raharjo mengangguk. Dia juga tidak mau putrinya menderita, tapi apa boleh buat, hutangnya harus dibayar jika tidak akan semakin menumpuk.


"Aku sudah pastikan itu." Raharjo meyakinkan istrinya.


Raharjo kemudian mengirim pesan kepada pria yang membawanya kehadapan pria tua itu. Dia ingin mengabarkan bahwa mereka setuju dan menunggu berita selanjutnya.


"Dengar, jangan beritahu putri kita. Jika dia tahu, nanti dia bisa kabur. Aku tidak mau kita berpisah dengannya, ini satu-satunya jalan terbaik untuk kita semua." Raharjo mengingatkan.


Nia mengangguk, menuruti perkataan suaminya. Dia juga tahu betul sifat putrinya. Nadin pasti menolak dan memberontak.

__ADS_1


.


.


__ADS_2