
Nadin bangun pagi sekali. Dia berniat untuk pulang ke kontrakannya untuk mengambil barang-barang miliknya.
"Nyonya, kami akan mengantar anda kemanapun anda pergi."
Seorang pria muda menghalangi jalan Nadin.
"Tidak perlu, aku bisa naik angkutan umum." Nadin menolak mentah-mentah.
"Ini adalah perintah dari Tuan Suganda, dia meminta kami selalu mengawal anda." Paksa mereka.
"Dengar, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah menjadi cucu menantunya. Bilang kepada Tuan Suganda. Aku pasti kembali kerumah ini." Nadin melenggang dengan santainya melewati mereka berdua.
"Memangnya aku anak kecil yang butuh pengawalan. Aku sudah sangat besar. Aku tahu diri sekarang adalah seorang istri. Apa mereka takut kalau aku kabur?" Nadin terus bergumam sepanjang perjalanannya menuju depan komplek.
Nadin yang semalam sudah mencari tahu angkutan umum yang akan membawanya ke rumah kontrakan orang tuanya. Menyetop angkutan umum berwarna putih dengan nomor R20.
.
.
Nia dan Raharjo hari ini sudah bisa pindah ke rumah baru mereka. Rumah barunya tidak terlalu mewah, sederhana tapi sangat nyaman.
"Enak ya Mih rumahnya. Beruntung juga kita ternyata menantu kita masih muda dan perjaka, ganteng pula." Raharjo sangat senang.
__ADS_1
"Pih, haruskan kita pindah? Bukankah itu sama saja dengan kita menjual putri kita demi harta? Tidak cukupkah hanya menerima uang untuk membayar hutang?" Nia merasa ini tidak benar.
"Kita tidak menjualnya putri kita. Dia menikah dengan pria baik-baik. Kalau kita menjualnya, harusnya dia berada di tempat yang tidak pantas. Jadi kita bukan menjual Nadin." Raharjo sungguh tidak mengerti perasaan istrinya.
Nia kembali merapihkan barang mereka yang tidak banyak. Dia enggan bicara dengan suaminya.
Raharjo melihat-lihat rumah barunya yang sederhana tapi cukup luas. Ada halaman dan gazebo di belakang rumah. Garasi mobil lengkap dengan mobilnya. Rumah juga sudah di lengkapi segala perabotannya.
.
.
Nadin turun dari angkutan umum dan membayar ongkosnya. Dia masuk ke dalam gang kecil untuk menuju kontrakan kedua orang tuanya.
"Neng." Panggil seseorang.
"Nek." kata Nadin.
Wanita yang menjadi pemilik kontrakan menghampiri Nadin dan menceritakan semuanya.
"Jadi, Mamih dan Papih saya sudah pindah?" tanya Nadin.
"Benar, nenek kira kalian pindah bersama." Wanita paruh baya itu juga terkejut.
__ADS_1
"Kemana mereka pergi?" Nadin bicara dengan dirinya sendiri.
"Baik Nek. Terima kasih atas informasinya." Nadin segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya.
.
.
Jonathan hari ini ada jadwal mata kuliah siang. Sedangkan Nadin hari ini libur kuliah.
"Wanita itu sudah pergi." Jonathan mencari Nadin.
"Nyonya sudah pergi. Tadi dua orang pengawalnya ingin mengantar, tapi nyonya menolaknya." Bi Imah memberitahu Jonathan.
"Wanita itu. Mana mau dapat bantuan orang lain. Gengsinya tinggi." Jonathan bicara sendiri.
Mendengar ocehan tuannya yang masih muda dan hampir bisa menjadi anaknya. Imah tertawa kecil.
Kata orang begitulah cinta, meski cinta kalau ada rasa gengsi pasti tidak akan berjalan mulus.
Jonathan menyantap sarapannya dan meneguk minumannya.
"Bi, aku berangkat dulu. Kalau wanita itu pulang bilang aku akan pulang agak malam." Jonathan beranjak pergi.
__ADS_1
Menjadi seorang dosen adalah cita-citanya. Dia seharusnya menjadi seorang CEO dari perusahaan yang dikelola oleh kakeknya. Hanya saja karena tidak ingin cucunya tertekan Suganda memberikan kebebasan untuk cucunya memilih pekerjaannya sendiri.