
Jhonson sangat memperhatikan mertuanya. Dia sangat baik dalam memperlakukan mertuanya. Jhonson sangat sempurna sebagai seorang suami dan juga menantu.
"Jhonson, terima kasih sudah membantu kami dalam memperbaiki hubungan ini. Saya juga ingin meminta maaf karena sudah membuat kalian menikah dengan paksa." Sesak Raharjo.
"Pih, ini yang disebut jalan takdir. Allah sudah memberikan jalannya untuk kami seperti ini. Tinggal bagaimana kedepannya saja kita memperbaiki semuanya." Jhonson sangat dewasa.
"Kamu memang menantu terbaik kami." Raharjo kagum dengan sikap dewasa menantunya.
"Jelas terbaik. Hanya dia menantu yang Papi punya." Celetuk Nadin.
Jhonson tertawa kecil. Dia lega kini istrinya sudah tidak sedingin salju lagi.
"Semoga salju yang membeku di hatimu, semakin hari semakin mencair. Aku akan menjadi matahari yang memberi kehangatan pada gunung es itu." Jhonson bertekad.
Menjadi suami dari wanita yang sejak kecil memang selalu teliti dan sangat dingin cukup sulit. Nadin bukan wanita yang mudah di dekati oleh pria. Itulah mengapa dia mendapatkan julukan batu es saat Sekolah menengah atas.
Nadin memeluk Mamih dan papinya. Mereka kembali berbaikan dan Nadin tidak lagi marah. Hanya saja dia tidak suka jika orang tuanya meminta macam-macam kepada keluarga Jhonson.
Raharjo dan Nia sudah berjanji akan hidup mandiri dan menjaga harga diri mereka demi putri yang begitu mereka cintai dan kasihi.
"Kami pamit dulu."
Raharjo dan Nia berpamitan. Mereka segera kembali ke rumah.
__ADS_1
Jhonson melirik ke arah Nadin. Dia lihat wajah istrinya sudah tidak pucat lagi.
"Kamu sudah baikan?" tanya Jhonson.
"Aku sudah baikan. Terima kasih sudah menjagaku semalam. Dan maaf atas kekasaranku tadi pagi." Nadin bicara sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak apa. Itu'kan karena kamu tidak tahu. Jadi aku memakluminya." Jhonson memaafkan istrinya yang sering ceroboh.
"Hari ini aku ada jadwal mengajar sore. Aku harus bersiap," kata Jhonson.
Nadin mengejar suaminya dan mereka berjalan beriringan.
"Kamu mau ke kampus?" tanya Nadin.
"Hmm ... Benar," jawabnya.
"No!" jawab Jhonson.
Mendengar jawaban suaminya dia langsung berhenti berjalan dan Jhonson ikut berhenti juga.
"Kamu masih belum sehat seratus persen. Aku bukan melarang mu, tapi aku mengkhawatirkan dirimu." Jhonson menatap Nadin.
Nadin kemudian masuk ke dalam kamar mendahului suaminya. Melihat tingkah Nadin yang seperti anak kecil membuatnya terkekeh.
__ADS_1
"Dasar anak tunggal." Sindirnya.
.
.
Di kediaman Suganda, menantu dan cucu perempuannya baru saja pulang dari memborong seluruh isi etalase yang ada di Mall.
"Kalian belanja lagi?"
Suganda memergoki dua wanita itu yang kesulitan membawa tas belanjaan mereka.
"Papa."
Menantunya terkejut ketika melihat mertuanya memergokinya. Biasanya pria paruh baya itu jam segini berada di kantornya.
"Kakek."
Cucu perempuannya langsung meletakkan semua tas belanjaannya dan berjalan menuju kakeknya.
"Kakek jangan marah ya. Aku dan Mama belanja bukan hanya untuk kami kok. Kami rencananya besok mau mengunjungi Nadin. Jadi kami memberikan hadiah pernikahan untuknya."
Gadis itu berusaha meluluhkan hati Kakeknya. Dia melakukan itu agar tidak terkena Omelan dari sang kakek.
__ADS_1
"Kalian berdua ini. Selalu saja membuat ulah dan menghambur-hamburkan uang. Lain kali jangan berikan mereka akses keuangan perusahaan. berikan saja mereka jatah bulanan. Jika habis suruh mereka bekerja agar bisa menghasilkan uang."
Suganda bicara dengan asisten pribadinya dan pria muda itu hanya bisa mengangguk.