
Demi apapun kini di hadapan Nadin ada kedua orang tuanya. Dia tidak tahu harus apa. Nadin masih merasa kesal karena kejadian semalam.
Dia sudah memanggil berkali-kali kedua orang tuanya sampai dia basah kuyup. Namun, tak jua dibukakan pintu.
"Nadin." Nia menyapa putrinya.
Nadin masih terdiam hingga sampai Jhonson tiba di rumah.
"Mami, Papi." Sapa Jhonson ketika melihat mertuanya berdiri di depan pintu rumah.
"Nadin, kenapa tidak di persilahkan masuk?" tanya Jhonson.
"Masuk." Nadin membuka pintu lebar.
Kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah baru putrinya yang sudah menikah dengan seorang dosen.
"Silahkan duduk." Jhonson dengan sopan mempersilahkan duduk mertuanya.
Pemandangan yang sangat indah. Menantu tampan, tinggi semampai dan juga sangat ramah. Sempurna sebagai seorang menantu.
"Terima kasih." Nia menjadi lega.
"Mau minum apa?" tanya Jhonson.
"Tidak perlu repot-repot. Mami dan Papi kemari hanya ingin menengok kalian dan melihat keadaan Nadin. Kami juga membawakan masakan kesukaan Nadin." Nia menunjuk rantang makanan yang dia bawa.
Nadin sudah bisa menebak apa isinya jika maminya bilang itu adalah makanan kesukaannya.
"Wah, terima kasih banyak. Jadi merepotkan. Kebetulan aku juga belum makan." Jhonson tersenyum.
"Kalau begitu, Mami siapkan dulu. Dimana meja makannya?" tanya Nia.
__ADS_1
"Nadin, Ayi bawa Mamih ke ruang makan." Pinta Jhonson.
Jhonson sengaja meminta Nadin untuk mengantar maminya ke ruang makan. Dia ingin memberikan kesempatan untuk istrinya bicara dengan ibunya.
"Pih, kita ngobrol di teras samping saja. Sambil menunggu para wanita menyiapkan makanan." Jhonson tampak ingin mendekatkan diri dengan mertuanya
Jhonson dan Raharjo berjalan ke arah taman samping. Cukup asri dan nyaman, untuk sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
.
.
Nadin membantu maminya menyiapkan hidangan masakan yang khusus dibuat untuknya.
"Nadin, kenapa kamu tidak berkunjung ke rumah baru mami dan papi?" tanya Nia.
Nadin bingung mau menjawab apa. Jika dia jawab pasti emosi menguasainya.
"Main? Aku bukan hanya sekedar main. Aku bahkan sampai basah kuyup karena menunggu kalian untuk membukakan pintu." Kesal Nadin.
"Apa? Kamu kerumah Mami? Kapan?" tanyanya tak menyangka.
"Semalam. Semalam aku menunggu Mami atau Papi untuk membukakan pintu rumah kalian. Namun, tidak ada satupun yang keluar. Seakan aku tidak pernah kalian harapkan untuk berkunjung." Nadin mulai emosi.
"Nadin, Mami benar-benar tidak tahu dan tidak mendengar suara mu. Maafkan Mami dan Papi." Nia sangat menyesal.
Nia menjadi semakin bersalah kepada putrinya. Dia menyebabkan putrinya berpikiran kalau dirinya tidak diharapkan. Padahal Nia sudah sangat lama menahan rindunya.
"Nadin, Mami sangat merindukan dirimu. Mami bahkan sampai meminta alamat rumah kalian kepada asisten pribadi Pak Suganda. Percayalah." Nia sangat sedih.
tidak akan ada seorang ibu yang akan mengabaikan putrinya. Apalagi Nadin hanya anak satu-satunya dari pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Hanya karena waktu yang tidak tepat membuat mereka menjadi berpikiran negatif satu sama lain.
"Mih, aku kecewa, kenapa kalian memperlakukan aku seperti barang yang bisa dijual?" tanya Nadin.
"Sayang, kami tidak pernah berpikir begitu. Kamu adalah harta paling berharga untuk Mami dan Papi." Nia menitikkan air matanya.
"Jadi apa karena kalian merasa aku adalah harta yang berharga. Jadi kalian bisa menjual diriku kepada mereka yang kaya, yang bisa melunasi hutang Papi dan memberikan tempat yang nyaman untuk kalian tinggal?" Nadin sangat emosi hingga dadanya terasa berat.
"Nadin Cukup!" kata Raharjo.
Jhonson dan Raharjo menyusul ke ruang makan karena sudah cukup lama mereka tidak kunjung memanggil untuk makan siang bersama.
"Nadin, Papi melakukan itu bukan untuk menjual dirimu. Papi mendengar kamu di bully oleh beberapa temanmu. Papi merasa sangat terpukul mendengar cerita itu dan melihat videonya yang direkam oleh asisten Pak Suganda. Melihat itu hati Papi sangat sakit." Raharjo bercerita sampai menangis.
"Nadin, kamu adalah putri kami yang berharga. Kami memang mendapatkan uang untuk bayar hutang dan rumah. Itu kesepakatan darinya. Namun, disisi lain yang Papi pikirkan saat itu. Hanya ingin kamu hidup nyaman dan tidak terhina lagi. Awalnya Papi menolak karena takut menikahkan dirimu dengan pria tua. Ternyata cucunya yang dinikahkan denganmu." Sambung Raharjo.
Mendengar penjelasan dari Raharjo. Sungguh membuat hati Nadin semakin sesak dan berat. Dia masih tidak percaya, tapi sorot mata Papinya tidak berbohong. Dia bisa melihat kejujuran dari dalam sana.
"Nadin. Mami juga mendengarnya, awalnya mami menganggap Papi mu gila. Namun, jika tidak kamu juga tidak bisa tahan jika tahu putri kami terhina." Nia menangis dan memeluk suaminya.
Jhonson menghampiri Nadin dan merengkuh kedua pundak istrinya.
"Semua yang dikatakan oleh kedua orang tuamu benar. Kakekku yang merencanakan semuanya untukku. Dia merekam semua ulah Muza. Dan Muza saat ini di skors karena ketahuan melakukan hal tercela." Jhonson menjelaskan apa yang dia ketahui dari kakeknya.
Nadin menangis dan Jhonson memeluk istrinya. Dia menangkap istrinya dengan menepuk-nepuk punggungnya.
Nadin merasakan kehangatan dari pelukan pria yang tengah memeluknya.
Raharjo dan Nia sangat bersyukur memiliki seorang menantu yang pengertian dan bijaksana.
Setelah suasana haru itu selesai. Mereka akhirnya bisa kembali berdamai dengan keadaan. Mereka duduk bersama di meja makan dan makan bersama sebagai keluarga
__ADS_1