Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 18 - Bicaralah


__ADS_3

Jhonson menemani Nadin di Klinik. Dia menjaga Nadin dengan baik.


Nadin sudah cukup baikan dia ingin pulang.


"Sebaiknya kita pulang. Jika aku berlama-lama di klinik ini. Biayanya akan semakin membengkak." Nadin ingin melepas selang infusnya.


"Nadin. Please jangan seperti ini. Kamu masih sakit, kamu enggak perlu pikirin biaya klinik." Jhonson menghentikan aksi Nadin.


"Aku hampir lupa. Kamu dan keluargamu mempunyai segalanya. Jadi sudah pasti biaya klinik ini bukan masalah." Nadin hampir berkaca-kaca.


Nadin bicara seperti itu hanya untuk meluapkan rasa kesalnya kepada semua orang.


"Kamu kenapa? Keluargaku memang salah karena menikahkan kita dengan paksa, tapi ini semua juga ada andil kedua orang tuamu."


"Oh, kamu benar. Ini semua ada andil kedua orang tuaku. Kalau bukan karena mereka aku mungkin tidak akan menikahimu. Mereka semua memperlakukan aku seperti barang." Nadin menangis, tapi berusaha menahannya juga.


"Nadin, sebenarnya kenapa? Saat pertama kita pindah. Sikapmu sepertinya biasa saja. Kenapa sekarang kamu menjadi dingin begini?" tanya Jhonson yang aneh dengan perubahan sikap Nadin.


"Kamu tidak perlu tahu urusanku. Urus saja urusanmu sendiri." Nadin mencabut selang infusnya dan langsung turun dari ranjang klinik.


Nadin pergi meninggalkan Jhonson yang berusaha menghalanginya.


"Nadin ... Nadin." Jhonson mengejar Nadin.


Beberapa perawat klinik menghampiri Nadin yang tangannya sedikit mengeluarkan darah.


"Bi, Ibu mau kemana?" tanya perawat.

__ADS_1


"Saya mau pulang." Nadin terus berjalan.


"Tapi, Bu." Perawat hendak mengejar Nadin, tapi Jhonson melarang.


Jhonson dengan cepat mengejar istrinya yang masih butuh perawatan.


Nadin menghentikan sebuah ojek dan menaikinya.


"Nadin ... Nadin." Jhonson berteriak, tapi Nadin sudah menjauh.


"Aaah!" Teriak Jhonson.


Jhonson menghampiri mobilnya dia akan mengejar istrinya.


Jhonson terus menjelaskan penglihatannya agar bisa melihat kemana arah Nadin akan pergi. Dia tidak boleh kehilangan jejak wanita itu.


Jhonson mulai kesal dengan sikap istrinya. Dia bukan kesal karena Nadin melawan atau tidak menurutinya. Dia kesal karena Nadin tidak perduli dengan kesehatan dirinya sendiri. Rasa khawatir Jhonson begitu besar kepada istrinya.


.


.


Ojek yang di tumpangi oleh Nadin berhenti di sebuah rumah yang nampak bagus dari luarnya.


"Tunggu di sini dulu."


Nadin memencet bel rumah beberapa kali namun tidak ada satu orangpun yang keluar dari dalam rumah itu.

__ADS_1


"Kemana mereka? Apa mereka sudah tidur?" Nadin terus memencet bel tanpa henti.


"Neng, ongkos ojeknya jadi gimana?" tanya tukang ojek.


"Tunggu ya, Bang. Saya sedang berusaha membangunkan kedua orangtua saya." Nadin kembali berusaha memencet bel rumah.


"Mih, Pih. Buka pintunya. Aku mau masuk dan bicara dengan kalian. Mih, Pih." teriakan demi teriakan tak jua di dengar dan tak ada yang membukakan pintu.


Nadin menangis di depan pintu pagar rumah baru kedua orangtuanya.


"Mih, Pih." Nadin terus memanggil.


Ojek yang tadi di tumpanginya hanya bisa melongo karena penumpangnya menangis di depan pagar rumahnya.


"Bang, Ini ongkosnya." Pria bertubuh ideal dengan tinggi 185cm itu memberikan selembar uang seratus ribu.


"Kembalinya."


"Ambil saja. terima kasih sudah mau menunggu istri saya. Kamu boleh pergi sekarang." Jhonson merendahkan tubuhnya dan memeluk istrinya yang tengah menangis.


"Kenapa menangis? Rumah siapa ini?" tanya Jhonson.


"Mih, Pih. Buka pintunya." Nadin melepas pelukan Jhonson dan berdiri kembali.


Hujan kemudian turun membasahi mereka yang sedang berdiri di depan rumah.


Nadin menggoyang-goyangkan pagar rumah orangtuanya dengan kencang, tapi tidak ada satu orangpun yang keluar.

__ADS_1


"Jadi ini rumah kedua orangtuanya." Jhonson memandangi rumah itu dengan mendetail.


__ADS_2