Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 12 - Pengantin Baru


__ADS_3

Nadin dan Jonathan saling memandang. Mereka sangat terkejut dengan isi salah satu lemari.


"Lingerie!"


"Aaaaaaaaa"


Mereka berdua yang sama-sama terkejut berteriak dan Nadin langsung menutup lemari lalu mengunci lemari itu.


"Dengar, jangan pernah membuka lemar ini. Jangan juga membayangkan aku memakai baju tidak pantas itu." Nadin memberi peringatan.


"Siapa juga yang akan membuka lemari itu? Lagi pula aku juga tidak tertarik denganmu." Jonathan bicara dengan ragu.


Nadin masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Jonathan keluar kamar.


.


.


Jonathan melihat makan malam sudah tersaji di meja makan.


"Bi, Bi Imah," panggil Jonathan.


"Iyah Tuan." Bi Imah menjawab sambil menghampiri.


"Saya mau keluar dulu. Kalau Nadin mau makan malam, bilang tidak perlu menunggu saya."


Jonathan langsung mengambil kunci mobilnya. Mobilnya sudah diantar oleh sopir ke rumah barunya. Jonathan ingin menenangkan dirinya yang masih terkejut dengan pernikahannya.


"Temani aku." Pinta Jonathan

__ADS_1


Dia menghubungi salah satu temannya untuk menemaninya di sebuah cafe.


Jonathan memarkir mobilnya dan turun. Dia langsung memesan makanan dan minuman serta cemilan.


"Bro, banyak banget mesennya?" tanya Angga sahabat Jonathan.


"Lagi suntuk." Jonathan menyedot minumannya.


"Kenapa?" tanya Angga.


"Gue udah nikah." Jonathan memperlihatkan cincin nikahnya.


"Jangan bercanda, Bro. Enggak lucu tahu." Angga menepuk bahu sahabatnya.


"Serius, hari ini Kakek memintaku menikahi gadis yang ternyata mahasiswi gue sendiri di kampus." Cerita Jonathan.


"Serius? Nikah kok dadakan, udah kayak tahu bulat ajah. Digoreng dadakan." Angga tertawa kecil.


"Come on Bro. Gue tahu sifat Lo. Dia cewek yang suka Lo ceritain'kan?" Angga langsung bisa menebak.


"Ah, enggak seru. Masa langsung di nikahin. Aturan Lo itu harus kejar dia dulu. Berusaha luluhin hatinya." Angga mulai menggoda sahabatnya.


Jonathan terlalu sering menceritakan Nadin kepada Angga, sehingga sahabatnya itu langsung bisa menebaknya.


Jonathan dan Angga berbincang-bincang ringan.


Angga yang sang Master Asmara langsung memberikan beberapa kiat agar bisa meluluhkan hati wanita.


Jonathan hanya bisa mendengarkan. Dirinya yang hampir tidak pernah berpacaran sungguh sangat sulit mempraktekkan apa yang disarankan Angga. Jonathan bahkan tidak bisa membayangkannya.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang dengan sahabatnya dan pikirannya kembali waras. Jonathan kembali ke rumah nya.


.


.


Jonathan masuk ke dalam kamarnya dan dia melihat Nadin sudah berada di atas ranjang.


Nadin dan Jonathan yang terjebak dalam pernikahan yang tak sesuai dengan keinginan mereka, harus tidur bersama di rumah sederhana itu. Jonathan tidak mengerti kenapa kakeknya memberi rumah hanya dengan satu kamar saja.


"Dengar aku tidur di kasur. Bapak tidur di sofa." Nadin langsung menguasai seisi kasur.


"Kalau di rumah enggak perlu panggil saya Bapak. Panggil ajah aku Jonathan. Usia kita juga hanya beda beberapa tahun saja." Jonathan protes.


"Beberapa tahun? Dosen dengan gelar profesor sama mahasiswi yang masih S1 semester 8." Protes Nadin.


"Aku baru dia puluh tujuh tahun." Sentak Jonathan.


"Dua puluh tujuh tahun?" Nadin terkejut.


Dia benar-benar tidak menyangka kalau pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata masih sangat muda. Dia puluh tujuh tahun hanya berbeda lima tahun dengannya.


"Serius? Semua ini sudah menjadi profesor?" Nadin tidak menyangka.


"Benar aku mendapatkan kesempatan lompat kelas saat SMP dan SMA." Cerita Jonathan.


"Waoow hebat sekali." Nadin menjadi kagum.


Rasa kagumnya tetap tidak bisa menampik kekesalannya terhadap Jonathan. Pria itu selalu membuatnya kesulitan saat di kampus.

__ADS_1


Nadin kembali menjadi tidak ramah terhadap Jonathan. Dia tidur terlebih dahulu dan membiarkan suaminya tidur di sofa yang ada di dalam kamar mereka.


__ADS_2