
Raharjo berada dalam perasaan bimbang, dia sangat bingung harus memutuskan apa.
"Apa kau serius akan menikahi putriku?" tanya Raharjo.
Pria itu mengangguk." Benar sekali, kehidupannya akan kembali membaik, dia tidak akan kekurangan satu hal pun, dia juga tidak akan dibully oleh teman-teman di kampusnya karena menjadi orang miskin baru."
"Orang miskin baru?" tanyanya bingung.
"Putrimu, menjadi bahan bullying beberapa temannya, dia ingin sekali membalas tapi sepertinya, jika dia dalam masalah, maka izin beasiswanya akan dicabut."
Pria itu memberitahukan apa yang diketahuinya tentang Nadin,
Hati Raharjo hancur, dia tidak menyangka nasib putrinya akan menjadi bual-bualan orang karena keluarganya jatuh miskin, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi.
.
.
"Mih, Papih pulang." Nadin memberitahukan kedatangan papinya.
"Pih, dari mana saja sih? Mamih itu khawatir tau, kenapa Papih pergi lama banget?" Nia memberikan rentetan pertanyaan kepada suaminya yang baru datang.
"Aku habis mencari uang." Raharjo mendorong pelan tubuh istrinya.
Ada apa dengan Raharjo? Mengapa dia pulang dengan sikap yang sedikit kasar dan merasa sangat kesal setelah pulang dari rumah Pria misterius itu.
Nia merasa kelakuan suami tidak biasa, dia lantas menyusul masuk ke dalam kamar, sedangkan Nadin berpamitan untuk pergi kuliah.
Nia menutup pintu kamarnya. "Pih, ada apa? Kenapa wajahmu sangat gelisah?" tanya Nia dengan sangat hati-hati.
Nia takut menyinggung perasaan suaminya yang sepertinya sedang sangat sensitif hari ini.
"Aku menjadikan anak kita sebagai jaminan," tuturnya.
"Jaminan? Anak kita? Nadin." Bibirnya bergetar, dia tidak menyangka suami begitu ceroboh.
__ADS_1
"Aku tidak tahu lagi, bagaimana cara melunasi hutang judi itu, maka dari itu aku menerima tawaran pria tua yang aku tidak tahu siapa dia sebenarnya." Raharjo menunduk.
"Kamu menjual putri kita kepada pria tua?" teriak Nia.
"Mas, lihat aku." Nia membalikkan tubuh suaminya sehingga mereka berdiri berhadapan.
Nia menunjuk wajah suaminya dengan tangan bergetar dan air mata yang tumpah. "Mas, dia putri kita, dia putri yang begitu berharga bagi kita, dia adalah putri yang kita besarkan dengan penuh cinta, kenapa kamu tega!" Nia memukul dada suaminya, dia tidak menyangka tindakan suaminya terlalu jauh sehingga dia tidak bisa mencegahnya.
"Kamu gila, Mas!" teriaknya lagi.
Deraian air mata tak lagi dapat terbendung, dia tidak bisa membayangkan putri cantiknya yang selalu menjadi kebanggaannya, akan menjadi jaminan hutang suaminya. Putri yang selalu dia jaga, ternyata harus menderita di tangan pria yang menjadi seorang pria kejam, pria yang tega menjual putrinya sendiri.
"Aku tidak akan menyerahkan putriku yang berharga itu, dia adalah satu satunya harta yang tidak bisa dinilai dengan uang, yang tidak dapat ditukar dengan apapun." Jeritnya.
"Justru, karena dia adalah putri kita yang berharga, makanya aku menyerahkannya kepada pria itu, aku tidak mau, putriku menjadi bahan ejekan orang, aku tidak mau putriku merasakan penghinaan." Raharjo menatap Nia.
"Apa maksudmu?" tanya Nia.
"Nadin mengalami bullying di kampusnya, dia tidak bisa melawan karena takut beasiswanya dicabut." Cerita Raharjo.
"Aku tidak akan membiarkan putriku menikahi pria tua yang kamu bicarakan." Tegas Nia.
Nia keluar dari dalam kamar. Hatinya benar-benar hancur bagaikan serpihan, dia tidak tahu lagi dimana akal pikiran suaminya, dia tidak lagi mengenal siapa pria yang bersamanya kini.
Nia masuk ke dalam kamar putrinya, dia pandangi semua foto yang terpajang di dinding kamar. Nia menatapi wajah dalam bingkai foto itu, dia merasa gagal menjadi seorang istri dan seorang ibu, dia menyesal tidak bisa mencegah suaminya bermain judi, andai waktu dapat diputar, dia akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, dia akan merawat keluarganya, bukan asik menghambur-hamburkan uang makan bersama teman-temannya ke sana dan ke sini.
Sungguh waktu sangat berharga, jika menyia-nyiakan sedetik saja, sudah pasti akan tertinggal, apalagi jika menyia-nyiakannya dalam waktu lama, sudah pasti tidak akan pernah bisa mengejar ketertinggalan, yang ada hanyalah penyesalan karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
.
.
Nadin pergi ke kantin kampus dengan Shasha, di sana mereka sudah ditunggu oleh Merry dan juga Justin, empat sahabat ini berkumpul.
"Pesen makan sana, hari ini gue yang traktir kalian." Justin memberikan buku menu dan meminta sahabatnya memesan makanan.
__ADS_1
Justin menawarkan terlebih dahulu kepada Nadin dan kedua sahabatnya yang lain, mulai meledeknya.
"Waw waw waw, Ladies First guys. Let you see Shasha, sahabatmu mulai menunjukkan niatnya." goda Merry kepada Justin dan membuat Nadin bingung.
"Why?" tanya Nadin.
"Dia lagi mau deketin Nadin, gitu kan maksudnya, Mer?" tanya Shasha lugu.
Kali ini Merry tidak marah kepada Shasha, meski lemot tapi pertanyaannya pas kali ini.
"Yes! Right." Merry menjentikkan jarinya.
"Apaan sih lu berdua, nih buku menunya, tenang masih banyak." Justin memberikan buku menu kepada kedua gadis itu.
Merry dan Shasha tertawa. "Biasa ajah kali, mukanya sampe kaya kepiting rebus begitu." Ledek Shasha yang membuat Merry semakin terkekeh.
Melihat keakraban keempat mahasiswa itu, membuat seseorang merasa memiliki saingan, tapi entah benar-benar saingan atau bukan, karena pria muda itupun bingung, ingin maju atau tetap berdiri di tempat dan hanya memandangi saja.
.
.
Seseorang membisikkan sesuatu ditelinga pria tua, pria yang memberikan pertolongan untuk ayah Nadin.
"Dasar bocah nakal, kenapa dia tidak bertindak, apa dia hanya ingin menjadi pecundang seperti Papanya?" Kesal pria tua itu.
Suganda mengepal kedua tangannya, dia mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam saat kejadian buruk menimpa keluarganya, saat kejadian buruk itu menjadikannya pria yang penuh pengawasan, seorang pria yang menjadikan dirinya lebih berhati-hati lagi agar tidak kehilangan.
Hati yang pernah patah itu, meski kini sudah dijahit dengan sangat rapih tapi tetap saja bekasnya masih terlihat jelas, sehingga bayangan duka itu tetap berada ditempatnya, tidak pergi dan tidak juga menempati, bayangan penyesalan itu masih terukir jelas, kini Suganda ingin memperbaikinya, dia tidak ingin jahitan yang sudah rapih itu terbuka kembali.
"Tetap awasi bocah nakal itu, aku tidak akan membiarkannya kehilangan apa yang dia sukai, seperti papanya dulu." Perintah Suganda.
Dengan cepat beberapa anak buahnya mengawasi pria muda itu, pria muda yang begitu berharga untuk pria tua.
.
__ADS_1
.