
Nadin menolak keras permintaan Papi dan Mami nya. Menurutnya ini tidak masuk akal. Dirinya belum siap untuk menikah muda.
"Dengar kalau kamu tidak menikah dengan pria itu. Kamu sama saja ingin membunuh Mami dan Papi." Raharjo mulai mengintimidasi anaknya sendiri.
Nadin menggeleng. "Pih, Nadin bisa cari uang untuk melunasi semua hutang Papi kepada para penjudi itu."
"Nadin, ini bukan hanya masalah hutang, ini juga masalah kamu dan masa depanmu." Raharjo memasang wajah seriusnya.
"Pih, kenapa harus jadi seperti ini? Mih, kenapa harus aku yang jadi korban keegoisan kalian?" protes Nadin.
Nia tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menangis.
"Rias dia, jangan sampai riasannya luntur." Perintah Raharjo.
Nadin menjadi terpojok, dia benar-benar ingin kabur rasanya dari rumah besar ini.
"Mba Nadin, saya mulai ya." Perias pengantin itu memulai prosesnya.
Nadin tidak mengatakan sepatah katapun, dia tidak tahu harus menjawab apa, jika menolak mata Papinya akan mengancam.
Nadin pasrah, selama proses merias wajah, Nadin hanya bisa menatap kosong dirinya di cermin.
Hari ini dia harus rela melepaskan masa lajangnya. Pernikahan yang dia idamkan bersama dengan pria yang dia cintai kelak harus sirna.
Pernikahan yang dibayangkan oleh Nadin bukan yang seperti ini, dia berharap bertemu dengan pria yang dia cintai, berkenalan dan menjalin kasih romantis.
Nadin selesai di rias dan selesai mengenakan gaun pengantinnya.
Nadin dibawa oleh Nia dan Raharjo ke depan, tempat akad nikah akan diselenggarakan.
Beberapa nak saudara dari keluarga suganda sudah berkumpul.
"Jhonson, kamu duduk di samping wanita ini." Perintah Suganda.
Jhonson terkesiap mendengar perintah dari kakeknya.
"Bu-bukannya, kakek yang mau menikah dengan wanita ini?" tanya Jhonson penuh tak percaya.
"Sudah duduk di sampingnya," seru Suganda lagi.
"Pah, aku tidak setuju menikahkan Jhonson dengan wanita sembarangan!" Tolak Diana.
"Diam kamu Diana. Ini sudah keputusanku, aku tidak mau kehilangan darah dagingku lagi." tegas Suganda.
"Maksud Papa?" tanya Diana.
"Sudah, acara akan di mulai." Suganda sudah jengkel.
Nadin yang sejak tadi mendengar kata Jhonson dan mendengar suara yang akrab di telinganya, penasaran ingin melihat apa benar dugaannya.
"Tidak ... tidak mungkin, pria galak itu tidak akan pernah menjadi suamiku. Ini pasti hanya nama dan suaranya saja yang mirip. Wajahnya pasti bukan dia, buktinya dia menuruti saja apa kata kakeknya. Kalau pria itu sudah pasti kakeknya akan dia bentak." Nadin mencoba mengelak pikirannya.
Akad nikah di mulai, penghulu menjadi pemimpin dalam prosesi ini.
"Sah" kata mereka yang menjadi saksi pernikahan.
__ADS_1
"Saling berhadapan, pasang cincin dan bersalaman." Penghulu memberi waktu.
Nadin dan pria yang sudah sah menjadi suaminya, saling berhadapan.
"Kamu!"
Teriak mereka berdua.
"Kalian saling kenal?" tanya Diana.
"Jelas mereka saling kenal. Mereka adalah dosen dan mahasiswi nya." Suganda menaikan salah satu alisnya.
Sungguh mereka tidak menyangka kalau akan menjadi suami istri.
Dosen yang menjengkelkan dan mahasiswi yang nyebelin.
Pasangan yang klop, tapi mereka pasti bisa menjadi pasangan yang serasi.
"Kamu, perlakukan istrimu dengan baik, dan kamu ... Perlakukan menantumu dengan baik. Kakek sudah menyiapkan rumah berikut dengan isinya. Hadiah pernikahan kalian, sopir akan mengantar." Suganda memilih minumannya.
Mereka menikmati pesta sederhana yang dibuat oleh Suganda.
Resepsi akan di gelar dua bulan yang akan datang sesuai dengan kesepakatan Suganda dan Raharjo.
Flashback On
Raharjo dan Suganda saling menanda tangani surat perjanjian.
"Saya minta di tambahkan," kata Raharjo.
"Saya minta, acara pernikahan sederhana, hanya ada keluarga inti saja dan saya minta resepsi di laksanakan dua bulan setelah pernikahan."
Perjanjian disetujui oleh kedua belah pihak.
Flashback Off
Nadin berpisah dengan kedua orang tuanya. Nadin yang sudah menjadi istri sudah pasti akan tinggal dengan suaminya.
Nia dan Raharjo pulang diantar oleh anak buah Lugo.
"Kalian, akan diantar oleh sopir. Ingat jangan sampai ada pertengkaran atau perceraian," pesan Suganda.
.
.
Nadin dan Jhonson sampai di rumah baru mereka yang merupakan hadiah pernikahan dari kakek Suganda.
"Kamu kenapa bisa terjebak dalam situasi ini?" tanya Jhonson
"Aku juga tidak tahu kenapa, awalnya aku diminta ikut orang tuaku pergi ke acara nikahan. Itu saja, dan ternyata aku yang dinikahkan." Nadin duduk di sofa.
"Aku juga sama, aku pikir kakekku yang akan menikah." Jhonson merasa frustasi, tapi di satu sisi senang.
"Dengar, kita kan dosen dan mahasiswa, kalau bisa jangan sampai ada yang tahu hubungan kita." Pinta Nadin.
__ADS_1
"Saya juga tidak mau, memangnya hanya kamu yang tidak mau, kamu pikir saya senang menikah dengan cara seperti ini? Saya memiliki khayalan tinggi untuk acara pernikahan saya." Jhonson bicara panjang lebar.
"Kalau begitu, dimana aku akan tidur?" tanya Nadin.
"Aku juga belum tahu, lebih baik kita berkeliling saja. Lagi pula rumah ini tidak terlalu besar." Jhonson langsung menjelajahi sisi rumah mereka.
Nadin mengekori Jhonson dari belakang.
"Sepertinya ini kamar utama." Jhonson membuka pintu kamar dan melihat.
Nadin hanya melongok dari pintu saja, dia tidak ikut masuk. Takut nanti akan terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.
"Dimana kamarnya lagi? Sepertinya tidak ada tanda-tanda kamar." Nadin kembali melihat sekitar dan saat dia kearah dapur dia menemukan satu kamar kecil di sana.
"Ini, ada satu kamar lagi, aku akan tidur di kamar ini." Nadin menunjuk kearah kamar.
"Sepertinya itu kamar untuk asisten rumah tangga." Jhonson melongok ke dalamnya.
"Benar, Nyonya, tuan."
Suara perempuan membuat kedua penghuni baru itu terkejut.
"Si-siapa kamu?"
Nadin melihat dari atas sampai bawah tubuh wanita paruh baya itu.
"Napak," bisik Nadin.
"Napak lah, emang kamu kira dia hantu? Kebanyakan nonton horor sih!" Cetus Jhonson.
"Kok Bapak bisa tahu sih?" bisik Nadin lagi.
"Tahulah, tampang-tampang kalian udah kebaca. Suka nonton horor tapi penakut." Cetusnya lagi.
Nadin langsung menoleh kearah Jhonson dan memasang wajah kesal.
"Saya asisten rumah tangga yang ditugaskan membantu Nyonya dan tuan. Perkenalkan saya Imah." Imah memperkenalkan dirinya.
"Saya Jhonson dan ini Nadin." Jhonson memperkenalkan diri mereka.
"Tuan dan Nyonya, kamar kalian di sana. Kamar sudah saya rapihkan dan pakaian kalian juga sudah tersedia di sana." Imah menunjukkan ke arah kamar pengantin baru itu.
Iman membawa mereka ke dalam kama.
"Bi Imah, kami bisa masuk sendiri ke dalam kamar." Nadin memasang wajah frustasi.
Mereka masuk kedalam kamar dan memeriksa kondisi di dalam kamar mereka.
"Periksa, kali ajah ada alat penyadap atau kamera tersembunyi." Nadin memerintah Jhonson.
"Hei! Kamu kira keluargaku apa? Mana ada kamera tersembunyi dan alat penyadap." Kesalnya.
Nadin membuka lemari dan betapa terkejutnya dia melihat isinya dan jhonson juga terkejut.
Mereka saling berpandangan dengan wajah tak menyangka.
__ADS_1
Apa yang mereka lihat?