
Adelia dan Diana bersiap untuk pergi ke rumah Jhonson mereka ingin membujuk Johnson agar bisa merubah keputusan dari Suganda.
"mah pokoknya kita harus bisa membujuk Kak Jhonson agar mau bicara sama kakek. karena aku nggak mau mah uang jajanku berkurang apa kata teman-teman aku." cerocos Adelia tanpa henti selama di mobil.
"duh Adelia udah deh stop! kamu jangan terus-terusan ngomong Mama tuh lagi nyetir nanti kalau kita kenapa-kenapa gimana?" kata Diana kepada Putri bungsunya.
Adelia akhirnya membungkam mulutnya sendiri ia berhenti bicara dan fokus melihat ke depan menemani ibunya yang sedang membawa mobil.
mereka tidak bisa membawa sopir untuk menemani mereka pergi ke rumah Jhonson. jika itu terjadi bisa-bisa sopir akan diintrogasi oleh Suganda dan rencana mereka akan buyar.
"mah, itu di sana rumah kak Johnson." Adelia menuju ke arah rumah yang berada di huk.
"iya Adel Mama juga tahu kamu nggak usah kasih tahu mama. mama lebih tahu dari pada kamu." Diana menaikkan sedikit nada bicaranya.
saat Diana menoleh ke arah Adelia, ternyata mobilnya mencium pagar rumah anaknya dan itu membuat sang pemilik rumah langsung keluar melihat apa yang terjadi di depan.
"mama." pekik Jhonson yang melihat mobil ibunya.
Diana membudurkan sedikit mobilnya lalu ia mematikan kendaraan besinya dan keluar dari dalam bersama dengan Adel.
"Jhonson, Mama kangen banget sama kamu Jhon." Diana memeluk putra sulungnya.
"Jhon, aduh kamu tuh disini itu keurus bener nggak sih sama istri kamu. kok kamu tirus kayak gini mukanya?" Diana memeriksa wajah tampan putranya.
melihat telagat mertuanya Nadin sudah bisa membaca kalau mertuanya itu sedikit cerewet dan juga menyebalkan.
"Mah ... Mama ini kenapa sih? kok bisa-bisanya ke sini terus nabrak pagar rumah aku?" ujar Jhonson.
"kita bicara di dalam saja, di sini panas
Mama mau minum minuman yang segar. suruh istri kamu untuk menyiapkan minuman yang segar untuk mama dan Adelia." perintah Diana.
__ADS_1
mereka semua masuk ke dalam rumah. Diana duduk di sofa bersama dengan Adelia. Johnson meminta agar Nadin menyuruh bi Imah membawa minuman untuk mereka semua.
"tidak mau. Mama mau istri kamu yang membuat minuman itu untuk mama dan Adelia bukan pembantu. Mama'kan sekarang sudah punya menantu, ya berarti menantu Mama yang harus melayani bukan pembantu lagi." sungut Diana
Mendengar perkataan mamanya. pria yang telah menjadi suami Nadin itu menarik oksigen dalam-dalam. lalu menghembuskannya perlahan. dia melakukan hal itu untuk mengatur emosinya agar tidak marah terhadap perilaku ibunya.
"Nadin aku mohon, tolong buatkan minuman untuk mama dan adikku. Terima kasih sebelumnya." Jhonson merasa tidak enak terhadap Nadin.
.
.
Nadine mengambil gelas panjang dari dalam rak piring. dia membuat minuman sirup yang menyegarkan dengan buah-buahan di dalamnya untuk ibu mertua dan juga adik iparnya.
"nyonya kenapa tidak memanggil saya. biar saya membuatkan minuman," kata bi Imah berjalan menghampiri Nadin.
"ibu mertuaku datang bersama dengan adik iparku. dia ingin aku yang membuatkan minuman untuknya. bukan di Imah, jadi biarkan saja. biar aku yang melakukannya," kata Nadin sambil berbisik.
kini imah mengerti mengapa asisten dari Pak sugandam bicara seperti itu. karena memang yang ia lihat sejak tadi ibu dari tuannya itu bersikap sangat tidak menyenangkan.
.
.
Nadin membawa nampan yang di atasnya terdapat empat gelas minuman dingin yang menyegarkan. Nadin berharap minumannya bisa membuat adem hati ibu mertuanya dan adik iparnya.
"kamu tolonglah Mama. bicaralah kepada kakekmu agar ia tidak membatasi uang jajan mama dan juga Adelia." pinta Diana kepada putranya dengan memaksa.
"Ma, maafkan aku aku tidak bisa membantu. jika itu sudah keputusan kakek, maka aku tidak bisa mengubahnya. Mama seharusnya tahu seperti apa sikap kakek dan mama seharusnya bisa mengantisipasi hal ini terjadi . dengan cara mengerem kebiasaan berbelanja Mama yang terlalu boros." Jhonson menolak permintaan mamanya.
Nadin yang berjalan menghampiri mereka mendengarkan samar-samar pembicaraan mereka bertiga. ternyata mama dari suaminya merupakan seorang wanita yang boros sama persis seperti maminya dulu.
__ADS_1
"silakan diminum Ma dan siapa namanya?" tanya Nadin dan tidak mengetahui nama adik iparnya sendiri.
"aku Adelia panggil saja Adel." ketus Adelia yang menjawab pertanyaan kakak Iparnya.
"Adelia, jaga sikapmu. dia adalah kakak iparmu. jadi kamu harus lebih sopan kepadanya, seperti kamu sopan terhadapku." Jhonson sedikit memarahi adiknya.
"Jhonson kamu nggak perlu memarahi adik kamu. dia juga salah kenapa dia tidak tahu nama adik kamu." Diana berbalik memarahi Jhonson.
"tapi ma, Adelia itu seharusnya sopan terhadap Nadin karena Nadin itu adalah istriku," katanya membela istrinya.
"Sudah tidak perlu dibahas lagi mengenai ini. yang harus kita bahas adalah apakah kamu mau membujuk kakekmu untuk tidak membatasi pengeluaran mama dan juga adik kamu? itu yang perlu kita bahas itu yang terpenting bukan istri kamu." Diana menjadi marah terhadap sikap putranya.
Jhonson menggelengkan kepalanya melihat sikap ibunya yang semena-mena terhadap istrinya itu membuat harga dirinya terluka.
"aku tidak bisa membantu mama! terlebih kalau kalian berdua masih tidak bisa menghargai istriku. maka sampai kapanpun permintaan tolong seperti apapun, aku tidak akan menuruti kalian. apalagi masalah keuangan aku setuju dengan kakek." Jhonson melipat kedua tangannya di dada.
"lihat baru beberapa minggu saja menikah. sikapmu sudah berubah seperti itu. apa yang dilakukan istrimu sehingga bisa merubah sikapmu yang manis menjadi membantah seperti ini?" Diana malah bersikap lebih tak sopan lagi.
Nadin lalu langsung pergi dari ruangan itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Selama ini dia tidak pernah marah atau sakit hati ketika di ejek oleh orang lain. Hanya saja saat ini yang mengejek adalah wanita yang sudah melahirkan suaminya sendiri. Ya Tuhan, cobaan apalagi yang harus dilalui oleh Nadin saat ini. Dia mendapatkan suami yang sempurna. dan berharap pernikahannya yang sudah sedikit dia terima menjadi sempurna saja. Namun, ternyata sesuatu yang di luar ekspektasinya terjadi. Mertuanya memang sejak awal menolak pernikahan mereka, tapi tidak menyangka sikap itu berlanjut sampai saat ini.
"Lihat, karena ulah mama. Dia jadi sakit hati. Aku sudah berusaha untuk mendapatkan hatinya, tapi mama malah membuatnya begini." Jhonson menjadi tambah marah kepada mamanya.
"Kamu kenapa sih Jhonson? Kenapa kamu malah membela dia?" Diana menjadi kesal.
"Mah, dia istriku. Karena sikap mama seperti ini makanya aku marah. kalau mama bisa menghargai dia. Aku juga tidak akan begini."
"Sudah lah, mama kemari ingin bicara baik-baik kepadamu, ternyata sikapmu malah begini. Mama tidak akan menerima wanita itu sampai kapanpun karena dia sudah merebut putra kesayangan mama." Diana mengambil tasnya dan mengajak putrinya Adelia pulang.
Jhonson menjadi jengkel dengan sikap ibunya yang seperti anak kecil. Karena tidak dituruti permintaannya malah mencecar Nadin.
__ADS_1
Jhonson melangkah menuju kamarnya. dia ingin melihat keadaan istrinya yang sejak tadi mengurung diri di kamar karena sikap mamanya Jhonson.