
Nadin yang berada di rumah sahabatnya yaitu Shasha. Sebenarnya alasannya hari ini pergi kerumah Shasha pagi hari bukan karena untuk mengerjakan tugas Shasha. Dia hanya butuh sahabatnya di sisinya. Karena baginya Shasha yang bisa di ajak bicara. Sedangkan sahabat lainnya sedang sibuk dengan beberapa tugas akhir.
Shasha mendekati Nadin yang duduk di meja belajar.
"Din, Lo ada apa?" tanya Shasha.
"Sha ... Gua benci dengan hidup ini. Kenapa rasanya gua itu seperti pepatah mengatakan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula." Nadin merasa hidupnya seperti pepatah yang dikatakannya.
"Din. Gua tidak mengerti maksud Lo. Coba katakan dengan jelas." Shasha memeluk sahabatnya.
"Orang tua gua, mereka udah jual gua dan hidup gua, Sha." Nadin menangis.
"Maksudnya apa?" Shasha semakin tidak paham.
"Dua hari lalu, Gua nikah Sha." Nadin mulai menceritakan kisahnya.
"Nikah? Jangan ngaco deh Din kalo ngomong. Jangan bikin lelucon yang enggak lucu." Shasha tidak percaya dengan pengakuan Nadin.
Bagi dirinya, mana ada orang nikah dadakan. Mana ada orang nikah, tapi sahabatnya enggak ada yang di undang.
"Beneran. Gua udah nikah. Demi melunasi hutang bokap." Nadin sangat sedih.
__ADS_1
Shasha memeluk sahabatnya lagi. Sungguh dia tidak mengerti kenapa bisa Nadin mengalami hal seperti ini. Dia sangat tahu kalau sahabatnya ini ingin menikah dengan pria yang dicintainya suatu saat nanti ketika sudah sukses nanti.
"Siapa pria yang menikahi sahabat gua ini?" tanya Shasha.
"Gua belum bisa ungkap identitas orang itu." Nadin masih merahasiakan identitas suaminya.
"Ya udah, kalau begitu lebih baik kita pergi ke kampus. Ketemu sama temen-temen dan bikin Lo happy lagi." Shasha mengajak Nadin pergi ke kampus.
"Rasanya Gua males Sha, ke kampus." Nadin yang selalu semangat pergi kuliah, tiba-tiba menjadi enggan.
"Din, kenapa harus begini? Kan Lo yang bilang, kalau kampus satu-satunya tempat yang bisa bikin Lo happy karena bisa ketemu sama sahabat Lo." Shasha jadi bingung dengan sikap sahabatnya saat ini.
Din, mungkin saat ini Lo lagi dalam masalah. Sehingga tidak bisa berpikir jernih. Apapun masalah Lo. Gua akan selalu ada buat Lo. Dimana Nadin yang dulu gua kenal, Nadin yang selalu ceria, frontal dan tidak pernah bolos kuliah.
Shasha merasa sedih melihat kondisi sahabatnya sekarang. Dia terus mencoba membujuk sahabatnya itu. Dia tidak ingin sahabatnya ketinggalan mata kuliah dan bea siswanya di copot oleh dekan.
"Din, kita berangkat yuk. Hari ini kan kita satu kelas." Shasha membujuk sahabatnya lagi.
Sahabatnya itu menoleh ke arahnya. Lalu dia mengangguk. Nadin mengikuti saran dari sahabatnya untuk pergi kuliah.
.
__ADS_1
.
Jhonson yang sudah sampai di kampus. Mulai mencari keberadaan istrinya yang sejak pagi sudah minggat dari rumah.
Meski dia belum diterima oleh Nadin, tapi sebenarnya Jhonson memang menaruh hati kepada mahasiswanya itu. Sebenarnya dia bersyukur sekali kakeknya sangat peka dan menikahkan mereka berdua.
Jhonson juga sebenarnya tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana kakeknya bisa membuat mereka menikah.
"Apa Nadin sudah datang?" tanya Jhonson kepada salah satu teman sekelas istrinya.
"Belum, Pak." Mahasiswa itu sedikit takut saat ditanya oleh Jhonson.
Saat Jhonson akan pergi dari kelas Nadin ternyata dia malah berpapasan dengan istrinya itu.
"Ikut ke ruangan saya." Jhonson memberi perintah tanpa melihat wajah murung istrinya.
Nadin tidak menghiraukannya. Dia langsung masuk kelas. Untungnya hari ini mereka tidak ada jadwal kelas Jhonson.
"Din, enggak ke ruangan Pak Jhonson?" tanya Shasha.
"Enggak perlu." Nadin duduk di bangkunya.
__ADS_1