
Jhonson kembali ke kampus dan mulai mengajar di kelas. Kali ini dia mengajar mengajar di kelas semester enam. Semester enam kebanyakan isinya adalah kaum hawa. Mereka yang ketika melihat Jhonson masuk ke kelas matanya langsung berfokus kepada tubuh atletis dan wajah tampannya.
Di kampus hanya ada tiga orang dosen pria yang masih melajang. Status lajang Jhonson masih terpampang jelas. Karena memang pernikahannya sengaja disembunyikan. Nadin tidak ingin pernikahan yang terkesan buru-buru itu malah menjadi bahan gosip negatif tentang dirinya. Dia tidak mau kalau dirinya di tuduh hamil duluan atau wanita kegatelan. Banyak penghuni kampus terutama kaum hawa yang sangat tertarik dan mengantri untuk bisa memiliki dosen tampan itu.
Kepopuleran Jhonson membuat Nadin minder. Sebab dirinya yang bukan siapa-siapa menikah dengan seorang dosen tampan, kaya dan terkenal killer nya. Mungkin kalau dia masih berstatus anak pengusaha. pernikahan yang mendadak tidak akan pernah menjadi masalah. Sebab banyak anak pengusaha atau orang terkenal yang tiba-tiba menikah karena pernikahan bisnis atau mungkin karena one night stand.
.
.
.
Nadin berada di dalam kelasnya. Di dalam kelas dia fokus dengan bimbingan skripsinya yang sudah di setujui oleh sang suami. Nadin sangat berharap kalau kali ini tanpa revisi lagi agar dia bisa mengikuti sidang Minggu depan. Nadin ingin cepat lulus dan bekerja di perusahaan idamannya.
__ADS_1
"Nadin." panggil dosen pembimbingnya dan dia langsung berdiri dan berjalan ke arah dosen.
Nadin menyerahkan satu bundel skripsi yang sudah dia revisi kepada dosen pembimbingnya. Dengan cepat dosen pembimbingnya menerima dan memeriksanya.
"Tulisan kamu sudah sangat rapih, Nadin. Juga untuk penataan kalimat sangat pas. Kamu bisa ikut sidang Minggu depan."
Nadin bengong mendengar perkataan dosen pembimbingnya. Dia dengan spontan tersenyum lebar tak menyangka. Nadin rasanya ingin segera melayang di udara setelah mendengar pujian dan keputusan dari dosennya.
"terima kasih, pak. Saya akan kembali mempelajarinya dan saja juga akan berusaha yang terbaik dalam sidang." Nadin sangat gembira. Dia lolos tanya satu coretan pun dari sang dosen.
"Terima kasih. Nanti malam aku pasti datang. Kamu tenang saja." senyumannya sangat mengembang sempurna dan terlihat begitu senang.
Jhonson sedang berbincang dengan seorang wanita cantik tak jauh dari kelas Nadin. Nadin yang menyadari Jhonson melihatnya langsung berjalan cepat menuju kantin kampus.
__ADS_1
Nadin menghampiri Shasha yang ada di kantin bersama Neo. Shasha langsung senang melihat Nadin. Apalagi Neo saudara Shasha yang baru pindah kuliah di kampus mereka.
"Hai, Nad." sapa Neo dengan sumringah.
"Hai." Nadin menjawab dengan nada lesu.
"lesu banget. Kenapa? Belum bisa ikut sudah minggu depan?" tanya Shasha yang tahu sahabatnya habis masuk kelas bimbingan skripsi.
"lancar dan lulus kok." jawab Nadin dengan malas.
"terus kenapa mukanya ditekuk dan asem begitu?" tanya Neo yang sudah sok akrab dengan Nadin.
"males ceritanya. Nanti ajah." Nadin menaruh kepalanya di atas meja.
__ADS_1
semangat dan rasa senangnya pudar begitu saja karena matanya melihat hal yang tak biasa dari sikap sang suami. Nadin membolak-balik kepalanya hingga membuat dua orang yang duduk bersamanya pusing.