Wanita Sedingin Salju

Wanita Sedingin Salju
WSS 6 - Menolong atau menjebak?


__ADS_3

Raharjo pergi keluar rumah pagi-pagi sekali. Dia pamit kepada istrinya untuk mencari udara segar. Sebenarnya dia sedang berbohong. Dia pergi keluar dan sedang kebingungan kemana dia harus mencari uang agar bisa membayar hutangnya.


Raharjo jalan ke sana kemari lagi hari ini, dia mencari lagi pekerjaan, usahanya selalu gigih dalam mencari kerja, karena dia juga tidak mau terus-terusan terusik dengan keberadaan para penagih itu.


Raharjo menyetop sebuah angkot dan menaikinya, dia berencana untuk pergi ke sebuah pasar yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya mengontrak.


Setelah melihat pasar. Dia langsung menghentikan laju angkot dan membayar biayanya. Raharjo yang selama hidupnya sudah menjadi sukses tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di pasar. Hari ini Raharjo kembali menginjakkan kakinya di pasar setelah bertahun-tahun lamanya.


Pasar yang terlihat cukup padat dengan pembeli, sedikit banyak sampah berserakan, dan bau tubuh orang yang sudah bercampur aduk menjadi satu di dalam. Itulah ciri khas dari pasar. Namun, pasar tetap dibutuhkan oleh mereka yang ekonominya menengah ke atas untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari meski harus berjejal masuk ke dalamnya.


Raharjo yang sudah sampai di depan pintu gerbang pasar. Pria itu ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam pasar. Rasa mual di dadanya sudah tertahan sampai tenggorokannya. Dia rasanya ingin sekali mengeluarkan isi perutnya tapi dia tahan.


Raharjo mengambil ancang-ancang untuk masuk kedalam pasar. Namun seseorang menghentikannya seketika.


"Bapak Raharjo?" Seseorang menghampirinya, ketika melihat pria tua ragu masuk ke dalam pasar.


"Benar saya Raharjo, anda siapa?" tanya Raharjo karena merasa tidak kenal dengan orang yang memanggilnya.


"Bisa Bapak ikut kami?" tanyanya.


"Tidak, saya tidak bisa, saya sedang mencari pekerjaan." Tolaknya langsung.


Raut wajah Raharjo langsung ketakutan, dia takut orang-orang ini adalah para komplotan dari penagih hutang, dia merasa takut karena belum bisa melunasi hutangnya ditambah, dia takut jika ikut akan habis babak belur di hajar.


Raharjo yang ketakutan, ingin rasanya dia menerobos masuk ke dalam pasar, tapi langkahnya terhenti karena kedua tangannya di pegang oleh orang-orang yang mengenakan setelan berjas dan berkacamata hitam.


Buliran keringat dingin sudah keluar dari pori-pori kulit keningnya.


"Maaf, kami tahu, Bapak takut kepada kami." Tebak mereka.


"Saya ... Saya tidak takut." Raharjo menunjukkan wajah beraninya.


"Saya hanya ingin pulang." Raharjo mencoba melepaskan diri namun tidak berhasil dilakukannya.


Kini Raharjo tidak dapat lagi menutupi ketakutannya. Dia sudah tersudut dan pasrah.


"Tenang Pak, kami tidak akan menyakiti anda, kami tidak berada di pihak para penagih hutang itu," ujarnya.


Raharjo yang mendengar percakapan mereka, dia bingung kenapa orang itu bisa tahu tentang hutangnya kalau bukan komplotan para penagih hutang.


"Kamu tahu saya berhutang?" tanyanya.


"Benar, Pak. Kami sudah mengawasi Bapak sejak beberapa hari lalu, dan kami ingin membawa Bapak menemui seseorang yang bisa membayar hutang-hutang Bapak." Tegasnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian ingin membantu saya? Padahal kita tidak saling kenal." Raharjo ingin memastikan lagi sebelum dirinya di seret paksa untuk ikut.


"Ada seseorang yang ingin bicara, setelah Bapak ikut dengan kami, Bapak bisa tahu maksud dan tujuannya membantu." Pria itu membuka jalan.


Raharjo sangat ragu dengan pernyataan pria berjas itu. Namun dia tidak bisa mengabaikan tawaran itu karena dia juga tidak bisa mencari uang sebanyak itu meski harus banting tulang.


Raharjo akhirnya mengikuti kemana mereka pergi, Raharjo masuk kedalam mobil, mereka membawanya ke suatu tempat.


.


.


Di rumah Nia sedang menanti suaminya pulang. Sejak kepergiannya tadi pagi, suaminya belum lagi menunjukkan batang hidungnya.


"Si Papih kemana sih? Kok belum juga pulang?" Nia celingukan menunggu sosok suaminya di depan rumah.


Tidak lama Nadin datang membawa sarapan.


"Mih, kenapa di luar?" tanya Nadin.


"Papih kamu pergi tapi belum pulang, katanya mau ke depan sebentar." Nia bicara sambil terus celingukan.


"Nanti juga pulang, enggak mungkin kabur, Papih'kan enggak punya uang." Celetuknya.


Nadin sungguh anak yang berbakti, meski masih kesal kepada papinya tapi dia tetap mengurusnya.


Nadin dan Nia membicarakan bagaimana cara melunasi hutang-hutang papinya.


"Sudah, Mih. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Nadin coba cari pekerjaan lain, supaya kita bisa melunasi hutang Papi secepatnya." Nadin menyuap kembali nasinya.


.


.


Mereka akhirnya tiba di sebuah istana besar yang memiliki halaman yang begitu luas.


Rumah mewah ini lebih mewah dan lebih luas dari rumah yang pernah dia miliki. Raharjo benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Raharjo ditemani oleh beberapa orang yang berjas tadi, masuk ke dalam rumah.


"Silahkan tunggu di sini." Pria itu mempersilahkan Raharjo duduk di sofa.


Menapaki rumah megah itu. Membuat Raharjo mengingat masa lalunya. Raharjo mengenang masa-masa indah tinggal di rumahnya yang mewah.

__ADS_1


"Bagus juga rumahnya, pasti dia seorang pengusaha sukses." Raharjo menatap sekitar.


Muncul seorang pria yang sudah berumur. Terlihat mereka sangat jauh berbeda usianya. Raharjo kagum kepada seorang pria yang sudah tua tapi tetap memiliki power dalam kehidupannya.


"Selamat datang." Sapa seorang pria yang lebih tua dari pada Raharjo.


"Selamat pagi." Sapa Raharjo sambil bangun dari duduknya.


"Anda Raharjo?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.


"Benar, saya Raharjo." Raharjo menjabat tangan pria itu.


Pria tua itu duduk di bangku sofa yang terletak bersebelahan dengan bangku yang Raharjo duduki.


"Silahkan duduk," kata pria itu.


"Saya cukup prihatin dengan kondisi anda saat ini, saya dengar bisnis anda bangkrut dan anda sekarang terlilit hutang karena berjudi." Pria itu berkata antara prihatin atau mengejek tidak ada bedanya.


Raharjo merasa dirinya sedang diejek, dia tidak tahu apa tujuan pria itu memintanya bertemu.


"Maaf, saya dengar anda memiliki seorang putri yang pintar," ujarnya sambil duduk di bangku sofa.


"Benar."


"Aku ingin membantumu melunasi hutangmu dan memberikan sebuah rumah untukmu, kamu juga bisa memiliki penghasilan sendiri." Tawarnya.


"Anda ingin membantu? Anda juga ingin memberiku tempat tinggal? Kenapa?" tanya Raharjo yang merasa janggal dengan niat pria tua itu.


"Aku ingin kamu memberikan putrimu untukku!" Wajah pria itu berubah menjadi serius.


"Putriku? Untuk apa?" tanyanya.


"Untuk dinikahi." Pria itu menatap tajam.


Sungguh rasanya jantung Raharjo ingin copot dari tempatnya, dia tidak menyangka kalau seorang pria tua menyukai putrinya.


"Apa kamu setuju dengan penawaran dariku?" tanya Pria tua itu.


.


.


Jawaban apa yang akan diberikan oleh Raharjo? Apakah dia akan menolak atau sebaliknya dia akan menerima tawaran yang begitu menggiurkan.

__ADS_1


__ADS_2