
"Dulu, tapi beberapa tahun ini aku sibuk kuliah sehingga tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang." Dengan wajah normal, Tara berbohong tanpa sadar kalau Rafael sudah mengetahui rahasianya.
"Bagaimana dengan kelas mu ?" Karena istrinya masih enggan berkata jujur padanya. Maka Rafael memutuskan menunggu dan ikut dalam kebohongannya.
"Lumayan, sebentar lagi mungkin akan selesai."
Sebenarnya, ada rahasia lainnya yang Rafael belum tahu. Tara memang benar-benar kuliah. Dia mengejar gelar S2 nya di bidang ilmu kedokteran. Kebetulan Tara juga melanjutkan program S3 nya di universitas tempat dia memberitahu orang-orang jika dirinya sedang menempuh pendidikan S1 program Dokter.
"Aku mendengar bahwa kau akan menjadi calon Dokter muda! Pasti sangat hebat karena kau bisa tetap melanjutkan pendidikan ditengah ketidak beruntung mu hidup di keluarga Moore."
Tentu saja Rafael sengaja mengorek informasi dari Tara. Berpikir bahwa wanita tersebut akan mengatakan rahasianya secara tidak sadar.
"Kau terlalu memuji! Aku melakukannya karena guru SMA ku yang membantu ku. Semuanya bejalan lancar karena aku berhasil mendapatkan program beasiswa."
Semuanya memang kebenaran. Tara tidak akan melupakan kebaikan gurunya yang mengantarkannya menjadi seorang Dokter di usia muda bahkan tanpa membuang waktu.
"Apa kau bahagia dengan hidupmu?" Entah kenapa Rafacl tiba-tiba bertanya hal seperti itu pada Tara.
"Entahlah, aku bingung dengan kehidupan ku. Satu sisi aku merasa bangga karena bisa menjadi kuat, namun di sisi lain aku merasa lemah karena tidak memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan keluh kesah ku dan menjadi tempat ku bersandar kala aku mulai lelah dengan aktivitas ku."
hidup selama 23 tahun tanpa seseorang yang bisa benar-benar mengerti tentangnya. Tara mulai kehilangan semangat hidup namun tidak pernah melupakan visi dan misinya untuk menjadi wanita kaya
Mungkin visi dan misinya menjadi kaya hanya sebuah pengalihan atas kekecewaan yang keluarganya lakukan padanya.
"Kau bisa bersandar pada ku dan menceritakan keluh kesah mu padaku." Meskipun ini terdengarnaneh dan terlalu cepat. Tapi Rafael merasa bahwa dia pasti mampu menjadi seseorang yang Tara inginkan sejak dulu.
Mungkin juga karena dia tahu bahwa kisah Tara tidak semanis kisah kebanyakan anak perempuan kaya. Bahkan terkesan mirip dengan kisah ibunya di masa lalu. Rafael mulai mengasihani kisah Tara tanpa dirinya sadari bahwa itu semua awal dari jatuh cintanya pada
"Jangan bercanda seperti itu pada ku." Tentu saja Tara tidak sepenuhnya percaya. Dia tahu seperti apa Rafael. Pria yang acuh pada orang lain terutama wanita asing kecuali ibunya dan neneknya. Selebihnya, dia menganggap wanita seperti hal menjijikkan.
"Aku serius! Mungkin aku sudah mendengar bagaimana keluarga Moore melukai mu. Dan itu mengingatkan ku pada kisah ibuku di masa lalu."
Rafael tidak keberatan berbagai kisah pada Tara karena dia sudah sangat mempercayai wanita itu meskipun belum lama mengenalnya.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" Tara tidak pernah tahu kehidupan Bella di masa lalu. Bagaimanapun AI memang sengaja menutupinya dan kebetulan Tara juga tidak ingin ikuti campur dalam kehidupan orang lain.
"Kakek dan nenek dari pihak ibu ku sangat kejam. Mereka memperlakukan ibu ku seperti pelayan, dilukai fisik dan mentalnya lalu dijual ke pada ayah ku sebagai alat pembayaran hutang."
"Kau pasti bercanda."
"Apa aku akan mendapatkan keuntungan dari hal yang kau anggap sebagai candaan?"
Tentu saja tidak ada. Tara percaya itu. Hanya saja dia memang belum bisa menerima informasi tentang Bella yang lebih mengerikan darinya.
Tidak heran kalau di pikir-pikir sekarang. Wanita itu begitu menyayangi, padahal mereka baru satu kali bertemu. Bahkan kedatangannya seperti sebuah pertolongan dari rencana jahat keluarganya.
"Aku benar-benar tidak menduga kalau ibu memiliki keluarga yang kejam seperti itu."
"Ya, aku juga tidak pernah menduganya. Bagaimanapun ayah sangat memanjakan ibu hingga masa lalunya tidak lagi menjadi momok menyeramkan. Dan ayah seperti obat untuk ibu."
Kali ini Tara setuju dengan perkataan Rafael. Beruntung bahwa ibu mertuanya bisa menikahi pria seperti ayah mertuanya. Tampan, kaya dan bertanggung jawab.
"Jadi, kau merasa kasihan pada ku?"
Kini Rafael mulai menekankan posisi Tara. Dia istrinya, dan akan selalu menjadi seperti itu hingga ma memisahkan. Rafael berjanji pada Tuhan untuk melindungi dan menghormati istrinya. Meskipun awalnya dia melakukannya secara tidak sadar, namun sekarang dia merasa beruntung karena melakukan janji dengan tulus di saat pernikahan mereka.
"Tapi kita tidak benar-benar pasangan suami-istri." Entah Tara yang terlalu polos atau masih belum mendapatkan makna dari kata-kata Rafael barusan.
"Apa kau membenciku?" Bukannya menjawab. Rafael malah bertanya.
"Tidak, kenapa aku harus membenci mu?"
"Mungkin karena aku lumpuh dan kau harus menikah dengan pria memalukan seperti ku?"
"Kau terlalu merendah. Di mata ku, kau seperti pria normal lainnya. Dan sekarang kita hanya sedang duduk di sofa sambil bercerita."
Memang benar. Tara tidak pernah menganggap Rafael lumpuh atau memalukan. Kata-kata itu sederhana, tapi
__ADS_1
makna yang Rafael dapatkan sangat berbeda. Jantungnya berdetak cepat, mungkin jika Tara melihat secara terinci, dia bisa menangkap telinga Rafael yang mulai memerah.
Dia mulai terlihat seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Jujur, baru Tara yang mengatakan hal tulus seperti itu padanya. Biasanya, orang-orang akan memujinya namun tidak tulus.
"Kalau begitu, apa kau keberatan hidup dalam jangka waktu lama dengan ku?" Dia harus pelan-pelan saat ingin melanjutkan rencananya.
"Kenapa kau ingin hidup dengan ku dalam jangka waktu lama?" Kini Tara mulai merasa ada hal aneh dalam diri Rafael.
"Jika aku mengatakan bahwa aku mulai nyaman tinggal besama mu. Apa kau keberatan? Atau menganggap aku pria aneh?"
"Bukan seperti itu, tapi dari yang ku dengar. Kau membenci wanita asing."
"Aku juga mendengar bahwa kau wanita dingin dan tidak suka berdekatan dengan pria. Tapi lihatlah, kau bahkan terlihat baik-bailk saja saat duduk di samping ku."
Masuk akal juga. Tara pun baru menyadarinya. Dia juga hampir sama dengan Rafael, entah dari sisi acuh ataupun tidak nyaman dengan orang lain.
"Bagaimana jika kita memulainya dengan berteman?"
"Teman?"
"Ya, teman. Kita bisa sering menghabiskan waktu bersama ketika lenggang. Berbicara, jalan-jalan dan mungkin pergi ke rumah hutan ku."
"Rumah hutan?" Entah kenapa Tara jadi tertarik dengan penawaran Rafael tentang berteman.
"Aku memiliki rumah hutan di dekat sini. Saat jenuh, aku sering pergi ke sana. Di sana juga ada sungai alami dengan ikan yang bisa ditangkap untuk di bakar."
"Apa kau akan mengajak ku ke sana jika kita berteman?"
Tentu saja Tara tertarik dengan tawaran Rafael setelah mendengar lokasi rumah hutan milik Rafael.
"Ya, kita bisa menginap di sana saat kau libur. Aku jamin kau tidak akan menyesal."
"Baik! Kita berteman." Tara mengulurkan hari kelingkingnya ke arah Rafael.
__ADS_1
"Ayo, sebagi teman kita harus saling mengaitkan jari kelingking." Jari kelingking Tara begitu imut hingga Rafael merasa jari besar nan panjangnya bisa mematahkannya.
Meskipun ini kali pertama Rafael melakukannya. Tapi entah kenapa dia tidak keberatan dan jari kelingking mereka saling bertautan.