Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
menjadi wanita kaya


__ADS_3

"Aku benar-benar ingin mencakar wajah mereka tadi Sangat memalukan, dan hati ku sakit untuk menantu ku." Bella masih saja kesal dengan keluarga Moore, dan melampiaskannya di dalam mobil.


"Tenanglah, kau tidak boleh marah. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu." Alexander yang sudah sangat mencintai istrinya, bahkan tidak masalah di sebut budak cinta.


"Tapi setiap kali aku melihat menantu ku diperlakukan seperti itu, aku seperti melihat diri ku di masa lalu."


Hidupnya dengan Tara hampir sama. Hal tersebut jugalah yang membuat Bella semakin yakin menarik Tara keluar dari keluarga Moore. Dia tidak ingin kisah hidupnya terulang kembali. Belum tentu juga Tara akan dijual pada pria baik seperti Alexander. Memikirkannya saja Bella sudah merasa ngeri.


"Aku tahu, tapi jangan khawatir. Menantu kita bukan wanita lemah, apa kau tidak melihat bagaimana dia dengan santainya melawan mereka?"


"Kau benar, aku lupa bahwa dia menantu ku yang hebat." Bella senang setelah ingat bahwa Tara bukan wanita lemah seperti dirinya di masa lalu. Alexander yang gemas melihat wajah sang istri langsung melupakan sepasang mata sedih. Dia memberikan ciuman hangat pada istrinya, lalu berubah jadi panas namun harus berhenti.


"Tidak bisakah kalian memikirkan aku?!"


Seketika Bella mendorong Al menjauh. Dia menatap putra keduanya dengan wajah malu, benar-benar ingin memukul suaminya karena memperlihatkan adegan panas di hadapan putra kecilnya. Bagi Bella, hal tersebut sangat tidak baik meskipun putra mereka sudah dewasa.


"Maaf, Sayang. Ayah mu yang memaksa ibu."


"Ini maaf yang ke seribu kali, jika Ibu lupa." Nathan tidak marah hanya saja sering kesal pada tingkat mesum ayahnya. Bisa-bisanya dia mnembuat putranya sering menyaksikan adegan panas secara live meskipun hanya sekedar ciuman.


Jika saja dia sudah memiliki pasangan, mungkin Nathan akan mengabaikannya. Tapi, dia bahkan tidak memilikinya dan harus menyaksikan keromantisan orang lain tepat di depan matanya, dan berlangsung hampir hari jika dia secara tidak sengaja bergabung dengan kedua orangtuanya.


"Putra kecil ku sudah dewasa sekarang. Tapi masih sangat menggemaskan saat kesal." Bella memeluk Nathan, meninggalkan Alexander yang sedih karena sudah diabaikan.


"Bu, aku sudah dewasa! Jangan peluk." Sebenarnya ia tidak keberatan di peluk oleh ibunya. Malah senang, tapi mata seseorang seperti akan memberikan sinar laser yang mampu membunuhnya dalam beberapa menit kalau dia tidak melepaskan pelukan itu.


"Apa kau tidak ingin ibu peluk?" Sekarang Bella jadi sedih. Hal tersebut membuat Nathan lemah. Kesedihan ibunya adalah hal yang tidak akan pernah bisa


Nathan abaikan.


"Aku masih mau, Bu. Tapi mata seseorang seperti akan keluar jika aku tidak segera melepaskan pelukan mu."


Seperti itulah sifat anak kedua Bella dan Alexander. Berbeda dari sang kakak yang suka menanggung beban sendirian sedangkan Nathan mengajak ayahnya jatuh bersama.


Alexandre yang selalu jadi kambing hitam hanya bisa pasrah. Tapi dia tidak pernah membenci putranya. Dia mencintainya meskipun sempat memusuhinya. Ketakutannya akan kehilangan Bella yang


membuatnya pernah menjadi ayah kejam bahkan untuk kedua putranya. Hal tersebut jugalah yang menjadi alasan kenapa Al kini sangat nemanjakan kedua putranya dan membuat Bellasatu-satunya ratu di keluarga Xavier.


"Siapa? Katakan pada ibu? Beraninya dia mengancam putra kecil ibu." Dulu, Bella sangat ingin memiliki seorang putri. Tapi sepertinya Tuhan tidak mengizinkannya, dia melahirkan putra, dan memutuskan memanjakannya namun tidak sampai pada tahap arogan.


"Sayang, kembali ke pelukan ku atau aku akan membuat putra kecil mu tinggal di rumah putra pertama mu." Kalau sudah seperti itu, Bella jadi kesal pada Al yang suka mengancamnya.


"Kau mengancam ku lagi!"


"Tidak, itu bukan ancaman. Jika kau ingin aku bisa melakukannya."


"Jangan lakukan! Aku akan kembali." Setelahnya, pelukan


hangat yang Nathan dapatkan menghilang.


"Ayah curang!"


"Kau yang mengajarinya, "jika kau lupa itu."


"Kapan? Aku bahkan tidak pernah mengancam ibu atau menjelekkan Ayah."


"Baru saja kau menjelekkannya


"Bersaing secara sehat, Oke." Mendengar perdebatan kedua pria yang sangat ia cintai. Membuat hidup Bella semakin berwarna, mereka akan selalu melakukan hal yang sama. Hanya saja sekarang Rafael tidak ada di sekitar mereka.


**********


"Anda tidak tidur, Tuan?"


Cucu pertama Albert yang bernama Jackson Grady.


Berprofesi sebagai orang kepercayaan Rafael menggantikan sang kakek yang telah mengabdi di keluarga Xavier.


"Sebentar lagi. Apa kau sudah menemukan pelakunya?"


"Ya, seperti yang anda duga. Dia wanita sama dengan yang menyakiti nyonya Bella di masa lalu."

__ADS_1


Pria berusia 28 tahun itu langsung menjawab pertanyaan Al dengan tegas tanpa memberikan jeda. Begitulah cara kerja orang-orang di keluarga Xavier.


"Ternyata dia masih hidup."


"Benar, ada kekuatan yang membantunya tetap hidup dan membuatnya sebagai alat menghancurkan keluarga Xavier, Tuan."


Rafael tersenyum geli. Wanita, atau bisa disebut sebagai mantan bibinya bahkan masih memiliki kekuatan untuk balas dendam. Dia benar-benar terlalu meremehkan lawan. Kecelakaan lima bulan lalu membuat semuanya berubah total. Rem yang rusak bukan alasan yang bisa diterima mengingat keluarga Xavier selalu di jaga ketat


bahkan sampai transportasi pun di periksa setiap kali akan pergi. Tapi, semuanya tiba-tiba terjadi dan begitu cepat. Rafael masih ingat wajah penuh luka ibunya, wajah penuh penyesalan.


ayahnya dan wajah sedih adiknya. Rafael akan selalu mengingat agar balas dendamnya pada mantan adik perempuan ayahnya lebih kejam dari yang biasanya dia lakukan pada musuh-musuhnya.


"Apa dia punya keluarga? Menikah mungkin?"


"Tidak ada, dia terlalu terobsesi pada tuan Alexander sehingga enggan menerima pria yang bahkan masih mencintainya hingga saat ini."


"Bukankah dia sangat bodoh!" Rafael cukup bersyukur karena wanita itu tidak memiliki anggota keluarga. Jadi, dia tidak perlu mengurus musuh-musuh yang tidak tahu alasan dibalik kebencian Shela pada keluarganya terutama ibunya.


"Ya, sangat amat bodoh. Lalu, apa yang ingin Tuan lakukan padanya?"


"Awasi saja dia dan kelompok itu! Belum saatnya aku membalas mereka. Ingat untuk menjaga ayah, ibu dan adik laki-laki ku."


"Apa nyonya tidak termasuk?" Kini Rafael jadi dilema. Tara tidak bersalah, dan jika dia menjadi korban Shela maka itu akan menjadi kesalahannya karena tidak melindungi istrinya


"Lindungi juga dia, tapi jangan langgar privasinya." Bagaimanapun, sejak janji pernikahan telah dibuat. Keselamatan Tara adalah tanggung jawabnya.


"Baik, Tuan."


"Dan minta pelayan wanita paruh baya untuk mengurus kebutuhannya mulai sekarang.' Sebenarnya, Rafael sedikit alergi pada wanita, terutama wanita muda yang mudah tergila-gila padanya. Hanya keluarga terdekatnya yang bisa menyentuhnya lalu Tara sebagai salah satunya yang tetap aman saat berada di sekitarnya.


"Baik, Tuan." Jack tahu seperti apa Rafael. Kesannya pada Tara juga cukup baik, wanita itu jauh dari kata 'mengusik' seperti yang selalu ia berikan lebel pada wanita lain.


Setelah percakapan itu selesai. Rafael melanjutkan pekerjaannya sebentar lalu pergi ke kamar untuk istirahat. Hampir semua aktivitasnya dibantu oleh robot sedangkan Jack hanya membantunya mengerjakan urusan perlindungan keluarga


Menjadi Wanita Kaya Kehidupan Tara banyak berubah. Sangat di manjakan oleh keluarga Xavier. Ibu mertuanya bahkan sering berkunjung dan mengajaknya berbicara melalui telepon. Setidaknya, Bella bisa menempati posisi ibu yang selama ini Tara idam-idamkan. Setidaknya, kehadiran Bella menyembuhkan luka hati Tara yang hancur akibat perlakuan tidak adil ibu dan ayahnya di masa lalu. Dan suaminya,


pria itu tidak pernah melanggar privasinya. Tidak mengatur gaya hidup seperti apa, dan bahkan mereka jarang bertemu. Biasanya, Rafael akan pergi bekerja lebih dulu dan Tara akan pulang kerja larut malam. Hanya saat pertemuan keluarga mereka akan terlihat bersama. Tara juga mulai ahli dalam berakting. Drama yang dibuat Rafael langsung bisa ia masuki tanpa memberikan celah. Meskipun semuanya terlihat aman. Hidup Tara sedikit terusik akibat gangguan kecil keluarga Moore dan pria yang selalu mengatakan mencintainya.


Tentu saja Tara langsung melihat niat aslinya. Dia ingin menjadi nyonya Xavier dan menikahi Nathan, adik ipar tampannya yang sebenarnya seusia dengannya.


"Keluarga mu benar-benar lintah darat."


"Aku setuju dengan pendapat mu."


"Kau wanita yang aneh.


"Kenapa kau menganggap ku aneh?"


"Kau tidak keberatan aku menghina keluarga mu."


"Aku bukan tidak keberatan, hanya saja aku berpikir realistis. Jika aku membela mereka, apa yang akan ku dapatkan? Dan jika aku membiarkannya apa yang akan terjadi padaku?"


Kebal terhadap keluarga Moore. Membuat Tara tumbuh menjadi wanita berhati dingin dan enggan memberikan kasih sayang pada orang-orang yang bahkan tidak memperlakukan dengan baik.


"Kau benar, dan aku suka memiliki kakak ipar yang realistis sekaligus berhati dingin seperti mu


"Terima kasih atas pujian mu


"Rencana apa yang akan kau lakukan setelah lulus kuliah?"


Karena sudah di prediksi akan menjadi pewaris dari sebagian harta keluarga Xavier. Nathan sudah didik sejak lama dan juga sudah menyelesaikan pendidikannya dengan melompat kelas.


"Mencari uang dan menjadi wanita kaya raya serta terhormat."


"Ini sama anehnya dengan jalan pikiran mu yang realistis."


"Aku akan mewujudkannya agar kau percaya."


"Aku percaya, hanya saja kenapa kau masih memikirkan hal seperti itu sedangkan sekarang kau sudah resmi menjadi istri dari putra pertama keluarga Xavier. Bahkan tidur pun kau bisa mendapatkan uang jika kau mau."


"Tapi itu bukan kekayaan ku. Bukan milik ku, bukan dari hasil kerja keras ku. Yang ku inginkan adalah harta yang ku dapatkan dari kemampuan ku. Aku ingin balas dendam pada mereka yang sudah menyakiti ku dengan menjadi hebat. Dengan uang aku bisa membeli segalanya termasuk nyawa mereka,"

__ADS_1


Nathan benar-benar terpana mendengar perkataanbaneh Tara. Meskipun begitu, dia tetap merasa bahwa saudari iparnya sangat menarik.


"Kalau begitu, kau harus segera mewujudkannya dan jangan lupakan aku."


"Tentu."


Nathan tertawa bahagia, perkumpulan keluarga yang


biasanya terasa bosan karena dia harus bersaing dengan sang ayah dalam merebutkan cinta ibunya


menjadi menyenangkan setelah Tara hadir.


Wanita yang awalnya ia pikir sulit di dekati, sombong dan dingin ternyata cukup mengenyangkan untuk dijadikan teman berbicara. Pembicaraan mereka pun tidak monoton seperti ia berbicara denganbkakak laki-lakinya.


"Apa yang sedang kalian bicara? Ibu juga ingin mendengarnya."


Kini Bella ikut berkumpul dengan Nathan dan Tara, sedangkan suami dan putra pertamanya duduk sedikit jauh. Tampak seperti sedang membicarakan bisnis keluarga.


"Tidak ada, kami hanya sedang membahas keluarga Moore yang tidak tahu malu." Nathan tidak suka membohongi ibunya. "


Kenapa Ibu bisa bergabung dengan kami? Kemana perginya pria posesif itu?"


"Nak, dia ayah mu. Jangan bicarakan dia dengan buruk saat dia tidak ada. Jika kau kesal, maka kau bisa membicarakannya dengan baik."


"Sesuai keinginan Baginda Ratu."


"Kau membuat ibu malu." Interaksi Bella dan Nathan sekali lagi membuat Tara iri. Andai dia bisa terlahir dari rahim ibu sebaik Bella. Mungkin dia akan sangat bahagia serta bisa hidup normal.


"Dia sedang membicarakan bisnis dengan suami kakak ipar mu. Telinga ibu akan tuli kalau lebih lama berada dekat mereka."


"Bisa-bisanya Ibu mengatakan hal seperti itu."


"Kenapa ibu tidak bisa?"


Nathan langsung mengecup pipi cantik ibunya. Kapan lagi dia bisa melakukan hal seperti itu jika ayahnya ada di sekitar. Bahkan untuk meminjamnya saja sang ayah tidak memberikan diskon. Nathan benar-benar menyerah atas sifat posesif ayahnya pada ibunya.


"Sayang, bagaimana kabar mu dan Rafael? Apa dia sering bertindak kasar atau malah mengabaikan mu?"


Kini fokus Bella teralih pada Tara yang diam sejak awal ia bergabung dengan mereka.


"Semuanya baik-baik saja, Bu. Dia suami yang baik, jadi Ibu tidak perlu khawatir."


"Apa kau tidak sedang berbohong pada ibu?"


"Mana mungkin aku berani melakukannya, Bu. Rafael memang sangat baik pada ku."


Bagi Tara, sikap acuh Rafael dan tidak melanggar pribadinya adalah kebaikan Rafael yang harus.di puji di depan ibu mertuanya.


"Syukurlah, kau tahu bahwa ibu benar-benar ingin kau bahagia. Meskipun putra ibu lumpuh, tapi dia pria yang baik."


Ada nada sedih dalam kata-kata Bella. Ibu mana yang tidak terluka saat melihat kondisi putranya yang tiba-tiba mengalaminya hal buruk.


"Bu, aku tidak pernah mempermasalahkan kondisi Rafael. Cukup dia tetap menghargai ku sebagai seorang wanita dan aku memiliki ibu mertua yang sangat baik seperti mu. Semuanya masih terasa seperti mimpi untuk ku."


Baik Bella maupun Nathan bisa melihat keseriusan dan ketulusan Tara saat mengucapkan kalimat di atas. Tentang keberuntungannya menikahi Rafael yang lumpuh.


"Apa kau tidak merasa beruntung memiliki adik ipar


yang tampan seperti ku?" Goda Nathan.


"Tentu aku beruntung, aku juga bersyukur punya ayah mertua yang baik dan kaya raya." Tara mencoba mencairkan suasana yang sedikit belku akibat perkataannya tadi.


"Yah, aku juga mengakuinya. Aku pun merasa bersyukur memiliki ayah kaya raya."


Lalu, tawa itu kembali mengisi ruang tamu. Candaan antara Nathan dan Tara membuat perasaan Bella membaik.


"Terima kasih, Sayang. Ibu benar-benar sangat beruntung bisa memiliki menantu sebai diri mu."


Kali ini, pelukan hangat Bella menghampiri Tara yang sudah sangat kesepian.


"Aku akan melindungi mu, Bu. Sekuat tenaga ku! Kalian

__ADS_1


harus tetap baik-baik saja." Janji Tara dalam hatinya. Dia sudah memutuskan akan melindungi keluarga Xavier.


__ADS_2