
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Ya, ayo kita pulang. Tubuh ku sudah tercium alkohol."
Jack hanya menatap Rafael aneh. Tidak, tuannya tidak sedang mabuk. Bahkan minum alkohol pun tidak untuk malam ini.
Namun, entah kenapa dia sangat ingin tubuhnya tercium aroma alkohol, tidak takut jika nanti Tara membencinya.
Setibanya di rumah. Rafael memasang wajah pura-pura mabuk anggur, semakin membuat Jack penasaran apa sebenarnya yang ingin pria itu lakukan.
Bukannya pergi ke kamar. Rafael malah mendorong kursi rodanya ke arah kamar Tara, dan Jack hanya bisa melihat dari kejauhan.
"Apa kau sudah tidur?"
Setelah mengetuk, Rafael membuka suaranya. Ingin memastikan kalau Tara belum tertidur. Tidak berapa lama pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Tara yang sepertinya baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Rafael menebak dengan benar.
"Kau belum tidur?"
Meskipun tahu kalau istrinya belum tidur, tapi Rafael tetap bertanya agar rencananya berhasil tanpa memperlihatkan celah mencurigakan.
"Aku baru selesai mengerjakan tugas kuliah ku. Apa
Kau habis minum?" Tara dapat mencium aroma anggur dari tubuh Rafael.
"Hm, aku harus melakukannya. Pertemuan bisnis membuat peserta harus minum."
Rafael sengaja membuat suaranya seperti sedang tidak nyaman. Dan hal tersebut membuat Tara percaya dengan pura-pura
"Apa perlu ku buatkan teh atau sup untuk mencegah kau muntah besok pagi?" Bagaimanapun dia seorang Dokter sehingga tahu apa efek dari minuman anggur
"Ya, aku ingin meminta bantuan mu. Pelayan sudah tidur, dan aku tidak ingin mengganggu mereka."
Jack yang mendengar pun terpana. Apakah tuannya harus melakukan kebohongan agar nyonya mereka bisa semakin dekat? Kini Jack juga paham kalau Rafael jauh lebih licik ketika ingin mendapatkan hati istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuatnya."
"Apa kau bisa mengantarnya ke kamar ku?"
"Tentu."
Tara tidak tahu bahwa Rafael akan melakukan sesuatu padanya, dan dia masih percaya pada apa yang Rafael sedang lakukan.
Setengah jam kemudian, Tara akhirnya tiba dengan sup di tangannya. Rafael kembali berpura-pura mabuk, sedangkan Jack sudah lama pergi.
Saat akan memberikan sup, tiba-tiba saja Rafael yang sudah duduk di atas ranjang menarik tubuh Tara hingga nampan yang dia pegang jatuh ke lantai. Beruntung Tara cepat tanggap sehingga tidak mengenai keduanya.
Rafael mulai bersikap seperti pria mabuk, dia memeluk Tara dengan hangat. Walau merasa kurang nyaman, Tara hanya bisa pasrah mengingat sang suami sedang di bawah pengaruh anggur.
Melihat bahwa Tara tidak melawan. Rafael semakin bersemangat, dia mengeratkan pelukannya. Terasa sangat nyaman, pelukan kedua yang membuatnya nyaman setelah milik ibunya.
"Apa kau merasa tidak nyaman? Aku akan mengambil sup untuk mu." Rafael menatap wajah Tara. Dia memang terlihat sangat mabuk, tapi bukan karena anggur melainkan cintanya pada Tara yang sudah berada di level sangat ketergantungan.
Tanpa aba-aba, Rafael tiba-tiba menarik tubuh sang istri sehingga wajah keduanya berdekatan.
Tapi tidak untuk Rafael. Dia sudah menantikan hal seperti ini, dan sudah belajar juga tentang memperlakukan ciuman perta dengan manis.
Tentu saja ini merupakan ciuman pertama keduanya. Rafael yang selama ini fokus pada pekerjaannya tidak pernah memikirkan menjalin hubungan dengan wanita manapun meskipun mereka secara suka rela datang kepadanya.
Pada awalnya, Tara ingi segera mendorong tubuh Rafael. Namun entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang menuntut untuk melanjutkan.
Bukankah wajar sebenarnya, Tara seorang wanita yang sudah dewasa dan dia melakukan hal tersebut dengan suaminya. Pria yang sudah sah di mata hukum maupun agama, menjadi miliknya meskipun pernikahan mereka di awali dengan surat perjanjian.
Meskipun tidak membalas, namun tubuh Tara sudah sangat rileks sehingga Rafael semakin bersemangat. Kini Tara bahkan sudah duduk di atas pangkuan Rafael. Dia juga bisa merasakan ada hal janggal di bagian tubuh tertentu dari suaminya, namun hanya bisa diam sebab Rafael seperti enggan melepaskan ciuman mereka.
Rafael yang melihat wajah memerah istrinya akibat bagian bawahnya terbangun hanya bisa tersenyum dalam hati. Dia tidak merasa malu, bahkan senang karena akhirnya sang istri tahu bahwa dia pria yang normal.
Setelah ini, Rafael akan membuat surat perjanjian itu diperbaharui dan dimusnahkan agar tidak menjadi penghalang di masa depan.
__ADS_1
Ya, dia ingin memiliki Tara seutuhnya. Tidak akan
membiarkan siapapun mengambilnya.
Setelah puas dengan ciuman pertama mereka yang memberikan masing-masing pengalaman yang tak terlupakan. Rafael melepaskan bibirnya dari bibir sang istri.
Tidak meminta maaf, Rafael membenamkan wajahnya di pundak sang istri. Aroma bunga tercium darinya hingga membuat Rafael rileks. Dia menyukai semua tentang istrinya.
"A-aku akan kembali ke kamar."
Setelah mengatakan hal tersebut, tiba-tiba lampu rumah padam. Kamar Rafael yang diterangi cahaya bulan dari pintu kaca yang mengarah ke balkon membuat Tara panik.
Dia memang tidak takut pada kegelapan, hanya saja berada di kamar berdua bersama seorang pria normal dan hanya diterangi oleh cahaya bulan sedikit menakutkan.
Tentu saja Rafael tidak akan membiarkan Tara keluar dari kamarnya malam ini. Dia ingin memeluknya saat tidur, kini Rafael semakin serakah dan egois.
Namun dia tidak merasa itu salah sebab mereka tidak memiliki orang yang di cintai sehingga sah-sah saja kalau dia mengejar cinta istrinya.
"Apa kau sudah tidur?"
Merasa bahwa tidak ada pergerakan dari sisi sang suami. Tara sedikit tenang. Benar saja, Rafael memang sudah tidur namun masih memeluk erat tubuh Tara. Bahkan tidak membiarkan wanita itu pergi.
Pada akhirnya, Tara hanya bisa pasrah. Dia memilih tidur di ranjang yang sama dengan suaminya dalam posisi di peluk.
Tidak, Tara tidak marah atau perlakuan Rafael yang melanggar surat perjanjian mereka. Dia menganggap kejadian malam ini sepenuhnya salah anggur yang suaminya minum dan pertemuan bisnis yang di lakukan pria itu.
Tara tidak pernah menyalahkan Rafael. Larut malam, Rafael tiba-tiba terbangun. Dia hampir saja melupakan wanita yang sedang terbaring di sisinya, masih berada di pelukannya.
Senyum Rafael mengembang saat melihat tidur pulas istrinya. Kini mulai menyesal karena sudah memberikan surat perjanjian sebelum mereka menikah.
Andai saja dia tidak melakukannya, andai saja dia menerima kehadiran Tara dengan tangan terbuka, bukan sikap sombong. Mungkin wajah cantik yang sedang tertidur itu akan menjadi pemandangan indah yang akan selalu ia lihat sebelum dan sesudah tidur.
Hah, kini Rafael mencela dirinya yang tidak bisa berpikir bijaksana seperti ketika dia akan menentukan pilihan dalam dunia bisnis.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mu di ambil oleh pria lain. Kau milik ku, Tara! Akan selalu menjadi milik ku."
Rafael berbisik pelan lalu mengecup kelopak mata, hidung dan bibir mungil istrinya sebelum kembali ke alam mimpi. Malam ini, tidurnya sangat nyenyak.