
"Tara, apa kau tidak ingin kakak menemani mu di rumah baru mu? Apa kau akan langsung melupakan kami setelah menikah ?"
Olivia memasang wajah paling menyedihkan. Berharap ada yang bersimpati padanya, seperti yang sering ia lakukan pada orang lain. Namun, dia salah kali ini. Target yang ingin dia ambil simpati malah seekor harimau ganas. Bagaimana mereka tidak bisa melihat trik menjijikan rubah itu.
"Aku tidak akan melupakan kalian. Tapi, dari yang ku dengar dari kebanyakan wanita yang telah menikah. Keluarga mereka tidak ada yang menemani atau bahkan mengirim saudarinya ke rumah keluarga barunya. Apalagi sampai harus menginap, itu akan membuat orang berpikir bahwa aku terlalu tidak menghargai pernikahan ku."
Kini Olivia semakin dibuat malu oleh Tara. Dia akhirnya
sadar kalau anak kucing yang sering ia intimidasi di masa lalu telah berevolusi menjadi harimau ganas.
"Baiklah, karena kondisi suami ku yang kurang sehat akibat terlalu banyak bekerja, ditambah besok dia pun harus berangkat kekantor. Kami akan pulang lebih dulu. Ayah dan Ibu mertua, hati-hati di jalan. Selamat tinggal adik ipar."
Tanpa meminta izin pada keluarganya. Tara membawa Rafael ke mobil, meninggalkan semua orang yang memiliki masing-masing ekspresi. Kepergian mobil Tara membuat keluarga Xavier akhirnya sadar dan memilih pergi dari hotel. Sedangkan keluargabMoore, mereka menahan amarah akibat tidak dihargai oleh Tara.
"Ibu, Ayah. Dia sudah sangat keterlaluan!" Air mata kebencian Olivia membasahi kedua pipinya.
"Jangan menangis, Sayang. Ibu sakit melihatnya."
Putrinya, yang sudah ia besarkan dengan sangat hati-hati. Hari ini malah di permalukan oleh putri yang tidak pernah ia anggap keberadaannya.
"Aku membencinya, Bu. Hanya karena dia sudah menikahi pria lumpuh itu, dia langsung menjadi sombong dan berani melawan ku." Mata Olivia sudah.memerah sekarang.
"Ibu juga tidak menduga kalau dia bisa melakukan itu setelah menikah. Ini bahkanbbelum beberapa hari, namun permusuhan yang dia berikan pada kita sudah sangat dalam."
Kini nyonya Moore sadar kalau Tara bisa saja membalaskan dendamnya pada mereka akibat kejadian di masa lalu.
"Sepertinya dia sudah lama menunggu hari ini." Tuan Moore pun sadar dengan perubahan Tara yang tiba-tiba dan terlalu mengerikan.
"Kita harus segera membuatnya berpisah dan di benci oleh keluarga Xavier. Aku tidak akan bisa hidup tenang kalau sampai dia resmi menjadi nyonya Xavier masa depan. Dia akan menginjak-injak kita."
"Ya, kita akan membuatnya segera berpisah dari keluarga Xavier." keluarga Moore sedang sibuk memikirkan bagaimana cara memisahkan Tara dan Rafael.
sementara Tara akhirnya tiba di mansion milik Rafael. Tidak sebesar milik Bella dan Alexander. Namun bagi Tara, mansion itu sangat nyaman ketika di pandang.
__ADS_1
"Ini kamar mu mulai sekarang, dan perjanjian kita berlaku malam ini hingga batas yang tidak di tentukan."
Perjanjian mereka pun hampir sama seperti yang di lakukan Alexander pada Bella. Hanya saja, Rafael tidak akan memaksa meminta Tara tidur dengannya.nMereka akan pisah kamar, meskipun jaraknya hanya beberapa langkah. Kamar Tara ada tepat di depan kamar Rafael.
"Tentu. Tidak melanggar privasi orang lain, dan jangan melakukan kontak fisik." Tara terlihat senang dengan pengaturan yang dibuat Rafael. Dan entah kenapa pria itu merasa
sesuatu yang buruk akan menimpanya di masa depan. Entahlah, Rafael terlalu tidak terbiasa dengan sikap acuh Tara. Wanita itu seperti menganggap bahwa pernikahan mereka tidak penting, hanya sebatas penawaran hidup bebas. Padahal kalau di pikir-pikir, Rafael sudah melakukan prosedur pernikahan dengan sangat baik. Bahkan berani berjanji pada Tuhan kalau dirinya akan selalu menghormati Tara dan tidak melukainya.
"Hm." Lalu, Rafael pergi meninggalkan Tara yang tengah
sibuk melihat suasana rumah barunya. Kesan pertamanya pada rumah Rafael cukup bagus. Jauh dari kebisikan kota dan suara tranportasi. Sangat sejuk karena masih mengandalkan pepohonan sebagai sumber oksigen.
Setelah puas melihat sekeliling. Tara akhirnya masuk dalam kamarnya. la cukup senangkarena diberikan kamar yang pemandangan langsung menghadap hutan.
Kekayaan keluarga Xavier tidak perlu di pertanyakan lagi. hampir semua tanah yang ada di Negara A milik mereka, termas perhutanan yang semakin dilestarikan oleh Alexander karena Bella suka dengan pemandangan alam.
Pola pikir itu juga menurun ke putra pertama mereka yaitu Rafael. Pria itu merasa sangat damai ketika tinggal di kelilingi oleh hutan yang lebat.
"Berjalan lancar, suamiku kaya dan aku mendapat tempat hunian yang nyaman."
"Kau sangat beruntung. Ingin terbebas dari para serigala berbulu domba, malah di beri hadiah istimewa. Aku jadi iri pada mu."
"Maka kau harus mencari pria yang sepertinya."
"Itu seperti mimpi di siang bolong."
Tara tertawa ketika mendengar perkataan sahabatnya. Ya, mereka sedang bercerita tentang hari pernikahan karena sang sahabat harus melakukan ujian semester sehingga tidak bisa hadir di acara.
Lain dengan Tara yang tidak perlu lagi sekolah dan hanya melakukan formalitas agar keluarga Moore tidak tahu. Sang sahabat yang terlahir dengan otak normal harus menjalani serangkaian pendidikan di perguruan tinggi dalam jangka waktu tertentu.
"Aku sangat iri dengan isi otak jenius mu! Kenapa aku harus terlahir normal."
"Seharusnya kau bersyukur, setidaknya kau memiliki keluarga yang sama normalnya dengan otak mu."
__ADS_1
Amandea Rafania White. Putri keluarga White yang sama kayanya dengan keluarga Moore. Sahabat satu-satunya Tara yang selalu mendengarkan keluh kesah Tara tentang keluarganya.
"Hm, maaf aku melupakan mu."
Fania merasa bersalah sekarang. Dia seharusnya tidak iri pada Tara. Mengingat bahwa kehidupan wanita itu jauh dari kata bahagia.
"Tidak apa-apa. Sekarang aku sudah baik-baik saja bahkan bisa menjalankan visi misi ku sebagai wanita kaya yang berpengaruh."
Kini suara tawa terdengar. Fania tahu Tara sedang berusaha mengobati luka hatinya akibat kekecewaan pada keluarganya.
"Ya, tapi kau harus ingat bahwa aku sudah menemani mu. Kau di larang sombong, dan ketika aku sakit kau harus memprioritaskan aku!"
"Siap ibu CEO."
"Kau menggoda ku! Aku bahkan belum setuju dengan nama itu."
Fania kesal karena hidupnya sudah di tentukan. Dia satu-satunya keturunan keluarga White sehingga harus menerima beban sebagai pewaris white.
"Entah kau suka atau tidak. Kau harus menerimanya."
"Kau bahkan lebih kejam dari ayah ku."
"Aku hanya sedang memberitahu mu."
"Aku ingat, jadi jangan mengungkitnya. Hati ku sakit setiap kali ingat bahwa setelah ini harus menjadi wanita kaku."
"Bersyukur lah, tidak semua orang bisa menikmati posisi mu."
"Kau benar! Seharusnya aku bersyukur, dan setelah jadi CEO, aku bisa membuat mu menjadi bawahan ku."
"Tentu, jika kau bisa membayar ku mahal, maka aku akan siap melayani mu." Tawa kedua wanita itu
mengisi kamar masing-masing. Sekarang perjalanan bebas Tara telah di mulai.
__ADS_1