
Berita Tara yang terkena tembakan sampai ke telinga Rafael. Tanpa menunda, pria tersebut langsung pergi meninggalkan perusahaan dengan wajah yang sangat gelap.
Semua karyawan yang melihat tidak berani bersuara, bernafas pun mereka sekuat mungkin untuk tidak membuat Suara.
Jika ditanya seberapa kejam Rafael ketika sedang marah, tidak ada yang berani membayangkan atau bahkan mengingat momen kekejaman pria tersebut beberapa tahun yang lalu ketika seorang karyawan wanita mencoba memanjat tempat tidurnya.
Bukan hanya di pecat, dia bahkan dimasukkan ke dalam buku hitam seluruh perusahaan hingga tidak bisa bekerja di mana pun. Belum cukup sampai di sana, Rafael memberikan kejutan yang membuat semua wanita tidak berani memikirkan bagaimana cara memanjat tempat tidurnya lagi. Karyawan wanita itubkehilangan kecantikannya, wajahnya rusak dan tidak berapa lama mereka mendengar kalau dia menderita penyakit mematikan.
Tentu saja mereka tahu dari mana penyakit itu datang. Nah, kekejamannya tidak berhenti sampai di sana. Mantan supir pribadinya yang telah dibayar oleh Shela untuk mencelakainya. Pria tersebut segera menghilang bak ditelan bumi setelah kecelakaan terjadi. Tidak perlu di tanya siapa yang melakukannya. Ini bahkan jauh lebih baik tanpa ikut campur dari Alexander.
Sesampainya di rumah sakit, operasi kecil sudah selesai dan Jack sedang menunggu di depan ruang VIP milik sang nyonya sambil memikirkan bagaimana cara menjelaskan kejadian hari ini dan kebodohannya pada sang tuan.
Jack tidak akan membela dirinya. Dia paham bahwa dia salah, meskipun niat Tara baik namun tetap saja dia salah karena tidak menyadari pergerakan musuh. Dia juga tidak akan protes kalau Rafael meminta nyawanya.
"Tuan."
"Kau mengecewakan ku, Jack ."
Suara Rafael begitu dingin hingga semua bawahan kecuali Jack ketakutan. Mereka sangat membenci para gangster dan dalang utama penculikan nyonya mereka.
Tidak ada yang berani menyalahkan Tara. Bagi mereka, Tara tidak pernah salah kalau salah akan kembali ke poin pertama, Tara selalu benar.
"Maaf, Tuan."
Tentu saja Jack tidak akan menyela atau membela diri dengan menjelaskan alasan Tara mengorbankan dirinya.
"Aku ak-"
sebelum Rafael menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang Tara.
"Tuan Rafael, nyonya Tara meminta anda masuk."
Semua orang yang ada di depan kamar segera paham kalau Tara kembali menyelamatkan nyawa mereka terutama Jack yang mungkin akan kehilangan nyawanya kalau Tara terlambat mencegah.
"Tunggu hukuman kalian."
Lalu Rafael menjalankan kursi rodanya ke dalam kamar. Wajah dingin dan arogannya langsung berubah khawatir serta sendu.
__ADS_1
Jika Jack dan yang lainnya tidak mengenal Rafael dengan baik. Mungkin mereka akan berpikir bahwa Rafael yang marah tadi bukan tuan mereka melainkan suami penuh cinta pada istrinya. Wajah seperti itu, hanya akan Rafacl perlihatkan di hadapan Tara.
"Bagaimana keadaan mu? Kenapa kau harus mengorbankan dirimu."
Tara bisa mendengar nada khawatir dalam perkataan Rafael. Membuatnya sedikit tersentuh. Sebelumnya, tidak ada yang pernah bersedia bertanya tentang keadaannya saat dirinya terluka.
Kalau saja Tara tidak ingat surat perjanjian pernikahan mereka, mungkin Tara berpikir bahwa pernikahan mereka berawal dari cinta dan Rafael sangat memanjakannya.
"Aku tidak bisa membiarkan orang yang menyelematkan ku mati konyol." Tara memberikan senyum cerah, seolah rasa sakit di tangannya tidak seberapa.
"Tapi tidak sampai melukai mu!" Ada nada cemburu dalam perkataan Rafael. Hal yang bisa Jack dan yang lainnya rasakan namun tidak untuk Tara.
Entah dia yang terlalu polos atau tidak pernah peka pada sekitar. Dia hanya merasa ada kekhawatiran namun itu juga masih bertanya-tanya kenapa pria itu mengkhawatirkannya.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama untuk mu dan keluarga Xavier."
Jack dan yang lainnya memutuskan menutup telinga. Perkataan Tara dapat di pastikan semakin membuat Rafael cemburu.
Tuan yang malang, arogansi dan kesombongannya tidak berpengaruh pada nyonya mereka bahkan sang nyonya tidak tahu kalau tuan mereka sudah jatuh cinta padanya.
"Jangan lakukan apapun yang dapat membuat mu terluka Aku masih bisa melindungi mereka dan kau tanggung jawab ku. Melihat mu tergores sedikit saja sudah membuat ku berani membunuh mereka yang melukai mu, jadi jangan coba-coba melukai diri mu untuk orang lain."
Tara terharu. Dia pun bisa melihat kalau Rafael tulus saat mengatakan kalimat barusan. Membayangkan kalau dia akan di lindungi pria sehebat Rafael. Tara merasa Tuhan akhirnya baik padanya.
"Terima kasih." Rafael bisa mendengar suara serak menahan air mata. Dia juga tahu kalau istrinya sudah tersentuh mendengar ucapannya.
Kembali, kursi roda berubah jadi robot dan meletakkan tubuh Rafael di atas ranjang yang sama dengan Tara. Jack memang sengaja memilihkan ranjang besar untuk tuannya tiduri bersama nyonya mereka.
Rafael menarik kepala istrinya dan membenamkan nya di dadanya. Dia benar-benar ingin melindungi wanita itu, memberikan yang tebaik untuknya dan bersedia melawan dunia hanya agar sang istri tetap menjadikannya tempat pulang.
Anehnya, bukan merasa lega. Tara malah menangis sesenggukan. Ini pelukan yang hangat, Tara suka itu.
"I-ini kali pertama ada yang begitu baik pada ku. Aku benar-benar bukan wanita cengeng."
Tara malu menangis, dan dia berniat menjelaskan. Rafael yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum kecil namun tangannya tidak pernah berhenti mengelus punggung dan rambut istrinya.
Dia juga bersyukur karena sang istri tidak keberatan dia peluk. Hubungan mereka semakin baik hingga Rafael tidak sabar menunggu hari dimana dia bisa sepenuhnya memiliki hati dan tubuhnya Tara-nya.
__ADS_1
"Aku tidak akan meledek istri ku bahkan jika kau cengeng. Lagi pula wanita harus cengeng agar prianya bisa memanjakannya."
"Kau pasti berbohong! Banyak laki-laki yang membenci wanita cengeng."
"Tapi aku tidak, aku suka melihat mu cengeng. Dengan air mata dan ingus di hidung. Pasti lucu." Pembicaraan mereka cukup menyenangkan.
"Kau mengejek ku."
Tara mencubit perut kotak suaminya. Hal yang membuat Rafael merasa geli dan memberikan kecupan ringan di puncak kepala Tara. Tentu saja Tara tidak dapat merasakannya karena dia sibuk meringis kesakitan akibat tangannya yang di operasi.
"Maaf, aku tidak ingat bahwa tangan mu terluka." Rafael meniup-niup perban di tangan Tara. Membuat Tara seperti seorang anak kecil yang akan berhenti menangis ketika di tiup lukanya.
"Sudah tidak apa-apa."
Memang, meskipun masih terasa sakit tapi Tara merasa tangannya tidak berdenyut seperti tadi.
Rafael tidak berani memeluk terlalu erat. Dia hanya meletakkan kepala sang istri di atas lengannya lalu membantu wanita itu tertidur.
"Tuan, sahabat nyonya sedang berkunjung." Suara Jack tidak kuat namun juga bisa Rafael dengar.
"Biarkan dia masuk." Rafael sudah tahu kalau istrinya memiliki seorang sahabat, namun belum bertemu secara langsung sebab ketika mereka menikah Tara tidak mengundang siapapun dari pihaknya.
"Baik." Jack meminta Fania masuk ke dalam. Ketika nasuk, Fania langsung di suguhkan pemadam yang membuat wanita manapun iri pada keberuntungan Tara. Menikahi putra mahkota keluarga Xavier. Tidak hanya tampan, dia juga menjadi idola banyak ibu yang ingin menjadikannya menantu.
Kehebatannya dalam bisnis sama tingginya dengan sang ayah. Tentu saja banyak pengusaha yang memiliki putri ingin menyerahkannya pada Rafael meskipun pria itu lumpuh.
Tapi, karena sudah ada Tara. Kini semua orang menargetkan Nathan. Putra kedua keluarga Xavier yang masih terlihat sendiri hingga saat ini.
"Dia sedang tidur, mungkin kau bisa berkunjung di lain waktu" Bukan niat Rafael mengusir, namun dia juga tidak mau istrinya bangun dari tidurnya nyenyak.
"Saya bisa menunggu, Tuan."
Kekhawatiran Fania dapat dilihat jelas oleh Rafael. Dia cukup menghargai jalinan persahabatan antara istrinya dan putri mahkota keluarga White.
"Kalau begitu aku akan menitipkannya sebentar pada mu."
Rafael sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa dalang dibalik penculikan istrinya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Dengan mata kepala sendiri, Fania melihat kursi roda Rafael berubah jadi robot lalu membawa tubuh pria itu duduk di atas dan kembali ke penampilan asli.
Semuanya membuat Fania takjub dan tidak percaya. Benar-benar tidak bisa berkata-kata.