
Tara masih belum berani bertatapan dengan Rafael setelah mendengar pernyataan cinta dan panggilan sayang yang lembut dari pria itu.
Semuanya masih seperti mimpi baginya. Meksipun ada David di awal, namun dia belum pernah merasakan hal aneh seperti yang dia rasakan terhadap Rafael.
"Tuan, kami sudah membawakan makanan untuk anda dan nyonya." Suara pengawalmenghentikan keheningan aneh di dalam ruang rawat.
"Bawa masuk."
"Baik." Penjaga masuk lalu meletakkan makan siang yang sengaja Rafael pesan dari rumah mereka. Kesehatan Tara menjadi prioritasnya sehingga makanan yang dibuat oleh pelayan rumah mereka merupakan pilihan terbaik.
Setelah penjaga pergi. Rafael.mengambil makan siang lalu membantu sang istri makan. Kebetulan tangan kanannya sedang di perban sehingga tidak nyaman makan menggunakan tangan kiri.
"Ayo, buka mulut mu."
"Aku bisa makan sendiri. Tangan ku tidak lumpuh."
"Aku tahu, tapi sekarang istri ku sedang sakit dan biarkan aku merawatnya."
Kini Rafael benar-benar berubah. Seolah-olah dia baru saja mengalami metamorfosis setelah tertidur cukup lama. Dia mulai memperlihatkan sikap memanjakan pada Tara, hal yang selama ini memang tidak pernah ada dalam diri Rafael. Mungkin tumbuh bersamaan dengan interaksinya bersama Tara yang mampu membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Wajah Tara bahkan memerah ketika melihat tatapan cinta dan telinganya memerah saat mendengar suara lembut pria itu. Makan siang hari ini, sangat berbeda dari makan siang Sebelumnya. Semua tampak harmonis.
Setelah makan siang Rafael meminta Tara istirahat, kini Tara layaknya kucing pemalas yang di manjakan oleh tuannya.
Saat ruangan hening, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan pelan. Para pengawal yang menjaga di depan pintu sudah memberitahu kalau nyonya mereka sedang istirahat dan keributan akan mengganggu istirahatnya.
"Bagaimana kondisi kakak ipar, Kak?"
Nathan yang mendengar bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakak iparnya segera pergi ke rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Tidak terlalu serius. Apa kau memberi tahu ayah dan ibu?"
Rafael tidak ingin ibu atau ayah nya tahu. Mereka pasti akan sedih, terutama sang ibu. Ditambah lagi saat tahu bahwa alasan terjadi penculikan karena bisnis pasti ibunya akan merasa sangat bersalah. Meskipun Rafael mulai curiga, pelakunya memiliki motif lain selain persaingan bisnis.
"Tidak, ibu pasti akan memarahi dirinya sendiri kalau sampai tahu bahwa menantu kesayangannya terluka karena urusan bisnis kita."
Tentu saja Nathan tidak akan membiarkan masalah yang masih bisa kakaknya sendiri tanganin sampai di dengar oleh keluarga besar terutama ibunya.
__ADS_1
"Apa kau bebas malam ini?"
Rafael akan membiarkan Nathan salah paham tentang motif pelaku. Tidak ingin hal-hal yang belum terkonfirmasi tersebar luas.
"Ya, kau ingin menitipkan kakak ipar pada ku?"
Tidak perlu ditanya bagaimana Nathan tahu pemikiran kakaknya. Mereka sudah tumbuh bersama, dan sebagian besar waktu yang mereka habiskan berama mampu membuat keduanya saling memahami bahkan tanpa penjelasan.
"Hm, pria itu harus diberi pelajaran."
"Baik, aku akan menjaga kakak ipar dengan sangat baik. Bahkan nyamuk pun tidak bisa menggigit kakak ipar." Meskipun terdengar berlebihan, tapi Rafael tahu bahwa adiknya pasti akan melakukannya.
"Aku akan membiarkan proyek di kota I menjadi milikmu
Wajah Nathan menjadi sangat cerah. Meskipun dia tidak berniat meminta, tapi ketika kakaknya sendiri memberikannya, maka dia akan sangat berterima kasih
Proyek di kota I memang tidak sebesar proyek yang sedang kakaknya kerjakan di kota T. Tapi, itu juga tidak bisa di anggap remeh, dan mungkin bisa bisa meminta liburan pada ayahnya setelah berhasil menyelesaikannya.
"Oke. Terima kasih, Kak."
Larut malam, setelah melihat istrinya kembali tertidur nyenyak. Rafael mulai bergerak, tidak lupa ia memberikan kecupan di kening dan bibir mungil istrinya.
"Ingat untuk menjaga kakak ipar mu dengan baik. Jangan biarkan nyamuk atau semut menggigitnya. Jika aku tahu ada tanda luka di kulit istri ku, maka proyek yang ku beri akan ku ambil kembali."
"Siap, Kak!"
Lalu, Rafael pergi meninggalkan rumah sakit bersama Jack yang baru saja datang setelah menerima hukuman yang terbilang sangat ringan untuknya. Dia bahkan terlihat baik-baik saja.
"Dimana pria itu?"
"Kebetulan dia sedang ada di kediaman Harris, Tuan. Pria itu adalah tunangan putri bungsu keluarga Harris."
"Sepertinya penculikan istri ku ada sedikit kaitannya dengan putri mereka."
Entah kenapa, setelah mendengar laporan Jack. Rafael merasa kalau putri bungsu keluarga Harris tidak sesederhana itu dan kemungkinan besar dia adalah dalang sebenarnya. Kalau di pikir-pikir kembali, pria bernama Devon tidak pernah menyinggungnya bahkan tidak berani. Ditambah lagi, setelah menyelidiki secara jelas, perusahaan Devon tidak pernah ikut bersaing dalam proyek di kota Ini semakin menarik perhatian Rafael. Jack pun baru menyadarinya. Dia merutuki kebodohannya yang tidak memikirkan hal tersebut.
"Sepertinya dia tahu kalau dirinya memiliki kakak perempuan."
__ADS_1
"Aku juga berpikir seperti itu, Tuan. Kemungkinan besar ada yang membuatnya berani menyinggung anda melalui nyonya."
"Selidiki."
"Baik, Tuan."
Setelah itu, Rafael memutuskan menunggu Devon di jalan yang akan pria itu lewati nanti. Belum saatnya Rafael menunjukkan identitasnya pada keluarga Harris. Mengingat pasti adik perempuan istrinya tahu kalau kakaknya memiliki suami kaya,
pasti akan sangat berbahaya kalau dia semakin memperlihatkan kalau Tara sangat berarti di hidupnya. Benar saja, tepat pukul 1 pagi. Mobil Devon terlihat dari kejauhan dan kelompok Rafael langsung bergerak menghalanginya.
Wajah Devon memucat ketika melihat kehadiran Rafael. Raja neraka yang versi dunia nyata. Sangat menyeramkan meskipun sedang duduk di kursi roda.
"A-apa yang sedang ingin tuan Rafael lakukan? Kenapa anda menghentikan mobil saya di tengah malam."
Meksipun takut, Devon yang tidak ingin kehilangan reputasinya sebagai seorang pria gagah dan banyak digemari oleh wanita berusaha bersikap tegas walau terdengar gugup.
Rafael tertawa mendengar perkataan Devon yang sombong namun penuh ketakutan. Ternyata reputasinya sebagai raja neraka masih tetap utuh.
"Aku hanya ingin membalas apa yang sudah tuan Devon lakukan pada istriku."
"Istri?" Sepertinya Devon pun tidak tahu bahwa wanita yang tunangannya minta untuk di lecehkan adalah istri Rafael.
"Jack!"
Tanpa menjawab pertanyaan. Rafael meminta Jack dan kelompoknya memberikan pukulan pada Devon. Tidak sampai kehilangan nyawa sebab dia mulai merasa kalau mempermainkan keluarga Cristopher dan Harris sangat menyenangkan.
Pukulan demi pukulan Jack dan kelompoknya berikan pada Devon. Tidak malu saat pria itu mengatakan bahwa mereka bukan pria karena berkelompok.
Kebencian mereka pada Devon sama besarnya dengan kebencian tuan mereka Rafael.
Selain sudah menyakiti nyonya mereka, dia juga membuat Jack, yang merupakan kepala pengawal terkena imbasnya. Kebencian ini, tidak mudah dihilangkan.
"Bawa dia ke hadapan ku."
Setelah Devon kehilangan setengah kesadarannya. Rafael meminta mereka berhenti dan membawanya.
Spidol permanen berwarna merah mulai mencoret lengan dan wajah Devon.
__ADS_1
Tulisannya cukup menakutkan. Nona, jika anda ingin menyentuh istriku, maka sebaiknya kau menempa sebuah makam indah untuk istirahat terakhir mu.
Lalu kata-kata di wajah. Dari Raja Neraka. Setelah puas. Rafael melemparkan spidol lalu membiarkan tubuh Devon yang sudah babak belur terbaring di rerumputan yang ada di pinggir jalan raya. Mereka bahkan masih baik hati karena tidak membiarkannya di tengah jalan.