Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Dalang


__ADS_3

Kini Rafael dan Jack sedang berada di ruang bawah tanah tempat parkir khusus di rumah sakit. Tidak perlu ditanya kenapa mereka bisa mendapatkan ruangan tersebut. Rumah sakit merupakan milik keluarga Xavier sehingga Rafael lebih leluasa.


"Jadi, siapa dalangnya?"


Meskipun masih marah pada Jack. Rafael tetap bertanya pada pria tersebut dengan ramah.


"Tuan Devon. Alasannya, dia ingin memberikan pelajaran pada anda karena sudah merebut proyek pembangunan di kota T."


Rafael tertawa licik. Apa pria itu tidak tahu bahwa keberhasilannya memenangkan proyek senilai 1 Triliunan mudah? Dia bekerja siang dan malam agar para investor bersedia bekerja sama dengannya, lalu tiba-tiba saja pria bau kencur yang baru saja terjun ke dunia bisnis bersikap arogan padanya.


"Beri dia pelajaran."


"Baik, sebenarnya ada berita tentang nyonya, Tuan."


Ada nada keraguan di dalam perkataan Jack, namun jika dia menundanya. Bisa jadi sang tuan akan semakin marah ketika orang lain yang melaporkan.


"Apa itu?"


"Nyonya bukan putri keluarga Moore."


Sesaat, Rafael terdiam. Tidak tahu harus memberikan respon seperti apa setelah mendengar perkataan Jack tentang istrinya.


Tidak heran sebenarnya, wajah istrinya jauh berbeda dari karakteristik keluarga Moore yang umum.


"Lalu siapa keluarganya? Kau pasti tidak akan berani melaporkannya kalau belum mendapatkan bukti penting."


Rafael mengenal betul bagaimana Jack. Dia tidak akan membuang omong kOsong begitu saja tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.


"Ya, aku sudah mendapatkannya, Tuan. Keluarga Harris, dan alasan kenapa nyonya bisa berada di kelurga Moore cukup membuat ku tidak bisa memahami pemikiran keluarga Harris."


Jack sangat marah ketika mengetahui alasan keluarga Harris membuang putri mereka. Sangat sepele dan membuatnya ingin membunuh si tukang ramal. Bayangkan, ini sudah era modern dan masih saja ada yang mempercayai hal-hal aneh. Apalagi ini tentang darah daging.mereka, yang tidak pernah memiliki keinginan di lahir kan dalam kondisi yang buruk.


"Mereka mengatakan bahwa nyonya pembawa sial setelah seorang penipu berkedok peramal memberitahu tentang kelahiran nyonya."


Tentu saja Rafael juga marah ketika mendengar laporan Jack. Dia yang tidak terlalu mempercayai Tuhan saja tidak sebodoh itu untuk mempercayai seseorang peramal.


Bagus, dia akan mengingat alasan ini sehingga di masa depan ketika keluarga Harris mulai menyesali perbuatan mereka maka dia akan membeberkan alasan konyol mereka membuang putri mereka.


"Apa yang sedang keluarga Moore rencanakan?"


Rafael yakin keluarga Moore tidak akan pernah menyerah menghancurkan kehidupan Tara.


"Awalnya putri mereka berniat membeberkan identitas nyonya kepada nyonya Bella, namun tuan Moore melarang karena keluarga Harris sudah membayar mereka dengan mahal di masa lalu."


Lagi-lagi uang, Rafael jadi sedikit membenci uang. Istrinya sekali lagi di perdagangkan, kini ia pun mulai menyesali keputusannya memberikan banyak uang pada keluarga Moore. Seharusnya dia membuat mereka miskin sehingga tidak akan bisa merepotkan nya ketika menikahi Tara.

__ADS_1


"Buat mereka tetap diam, jika berani memberitahu dunia kalau istri ku bukan putri mereka. Potong saja lidahnya. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat istri ku sedih."


Meksipun tidak yakin apakah Tara akan sedih setelah mengetahui dia bukan putri kandung keluarga Moore. Rafael memutuskan meminimalisir kesedihan di masa depan.


"Baik, Tuan."


"Sekarang pergilah."


Jack yang di minta pergi sama sekali tidak bergerak, membuat Rafael mengerenyitkan dahi.


"Ada apa? Apa kau memiliki laporan lain?"


"Anda belum memberikan ku hukum, Tuan."


"Bukankah istri ku sudah membantu mu?"


"Tapi aku juga sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan nyonya terluka. Jika anda tidak memberikan hukuman pada ku, maka tidak ada gunanya aku hidup lagi, Tuan."


Rafael tahu itu, dan memang sikap tanggung jawab Jack membuatnya puas.


"Kalau begitu, minta kepala pelayan memberi mu cambukan."


"Terima kasih, Tuan." Jack langsung pergi meninggalkan Rafael.


"Beruntung?" Keningnya berkerut tidak mengerti saat mendengar kata-kata sang sahabat.


"Biar ku tebak, kau pasti tidak melihat bagaimana suami mu sangat mencintaimu.? Entah kenapa, Fania begitu antusias dan semangat saat menceritakan sosok Rafael.


"Kau mulai membual lagi."


"Aku serius, Oke! Dia benar-benar mencintai mu."


"Mustahil, wanita seperti ku tidak pantas untuknya."


Tara paham siapa dirinya. Keluarganya tidak pernah mencintainya, bahkan terkesan tidak mengharapkan kehadirannya. Ditambah penghinaan keluarga David di masa lalu, ada sedikit rasa tidak percaya diri dalam diri Tara Kesal,


Fania memukul pelan kepala Tara. Tentu saja dia sangat sensitif ketika melihat bagaimana Rafael memperlakukan Tara. Mereka memang tidak pernah bertemu, bahkan baru satu kali. Namun, Fania sadar kalau Rafael sudah jatuh cinta pada sahabatnya. Kalau tidak, mana mungkin dia bersedia tidur satu ranjang, memberikan pelukan hangat dan memintanya untu tidak menganggu Tara ketika tidur.


Jika memang tidak mencintai, Rafael pasti tidak akan repot-repot meninggalkan perusahaan dan memberikan ruangan VVIP. Bisa saja dia hanya memberikan ruang VIP.


"Kau benar-benar tidak merasakan atau memang kau tidak ingin tahu tentang Orang-orang sekitar mu."


"Bukankah kau tahu bahwa aku kurang mempercayai cinta."


"Apakah kau tidak mau jatuh cinta dan di cintai oleh Rafael?"

__ADS_1


Ini pertanyaan yang membuatnya bingung. Apakah dia bisa jatuh cinta? Apakah cinta Rafael tidak berbahaya Atau apakah dia akan bahagia setelah menggunakan hati?


"Aku takut jatuh cinta."


"Kau bahkan belum pernah merasakannya tapi sudah menyimpulkan bahwa itu akan berakhir sakit."


"Aku pernah." Tara berusaha membela dirinya meskipun dia tahu itu percuma.


"Tidak, itu bukan jatuh cinta."


"Bukankah sama? Aku hampir menyukainya."


Fania semakin kesal dibuatnya. Tentu saja berbeda, tidak ada cinta sebelumnya sehingga tidak bisa di kategorikan sakit hati meskipun terhalang restu.


"Ku pikir kau sebaiknya mencoba. Apa kau tidak bosan hidup seperti ini? Tidak pernah merasakan manisnya di manjakan dan sakitnya ketika cemburu."


Kini Tara terdiamn, dia memang mulai merasa jenuh dengan hidupnya yang monoton, namun tidak berani melangkah dari zona nyaman karena takut terluka.


"Kau harus mencobanya! Aku juga yakin kalau jatuh cinta kali ini tidak akan memberikan mu luka. Yang terpenting, kau harus percaya padanya."


"Apa aku tidak bisa tetap sendirian?"


"Tidak, kau harus mencoba atau kau akan menyesal karena menyia-nyiakan cinta dari pria seperti Rafael."


Melihat ketegasan sahabatnya. Tara jadi diam, tidak berani menyangkal karena dia yakin penilaian seorang sahabat selalu benar.


"Hm, akan aku pikirkan."


"Gadis pintar! Sudah saatnya kau bahagia, dan aku percaya tentang penilaian ku pada suami mu.


Setelah berbicara sebentar, Fania yang cukup lama pergi dari perusahaan memutuskan pamit.


Ketika menutup pintu, dia terkejut melihat Rafael sedang menunggu. Yakin kalau pria itu sudah mendengar pembicaraan mereka.


"Apa anda keberatan berbicara sebentar dengan ku, Nona?" Tidak ada tanda-tanda kemarahan. Membuat Fania lega.


"Tentu." Keduanya pergi ke ujung lorong yang sepi.


"Terima kasih."


Ucapan terima kasih itu membuat Fania terpana. Ada rasa bangga karena bisa membantu dan mendengarkan kata Kramat dari pria sekuat Rafael.


"Aku hanya mencoba membantu sahabat ku, Tuan."


"Panggil nama. Bagaimanapun kau adalah sahabat istriku dan aku harus memperlakukan mu dengan baik."

__ADS_1


__ADS_2