
Keesokan paginya. Pelayan mengetuk pintu kamar Rafael, aktivitas yang sudah biasa di lakukan. Mereka tidak tahu bahwa tadi malam nyonya mereka di jebak oleh sang tuan dengan pemadaman listrik tiba-tiba.
Ya, Rafael memang meminta Jack memadamkan listrik agar istrinya bisa tidur bersamanya. Sangat licik, bahkan Jack tidak pernah bisa menduga kalau sang tuan cukup berani.
Melihat bahwa tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Pelayan sedikit panik dan meminta Jack untuk membuka. Awalnya, Jack hanya berpikir kalau Tara sudah kembali ke kamarnya dan rencana Rafael gagal.
Sayang, matanya harus melihat hal romantis di pagi hari yang ada di dalam kamar ini.
Rafael masih setia memeluk tubuh istrinya, sedangkan Tara entah kenapa tidak bisa bangun hingga pukul 7 pagi. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
Melihat keduanya masih setia berpelukan, Jack dan pelayan saling menatap paham. Berniat keluar diam-diam tanpa menggangu.
Namun langkah kaki mereka kalah jauh dari pergerakan Tara yang tiba-tiba bangun dan menyadari sedang ada yang tidak beres di sekitarnya.
Benar saja, Tara menjadi sangat malu saat melihat kehadiran Jack dan pelayan wanita. Dia bahkan dengan tidak berperasaan melepaskan pelukan Rafael hingga pria itu terbangun.
Tidak membuang-buang waktu. Tara berlari keluar kamar seperti seorang pencuri yang ketahuan oleh sang pemilik rumah. Baik Jack dan pelayan hanya bisa tersenyum geli.
Sungguh, ekspresi Tara dan kecepatan larinya seperti drama manis di pagi hari. Belum lagi, tuan mereka terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda penyesalan
atau bahkan malu karena sudah menjebak istrinya tidur bersama.
"Anda terlalu berani, Tuan."
"Terima kasih atas pujiannya."
Kini Rafael sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Pelayan wanita yang mendengar percakapan keduanya langsung paham apa yang sedang terjadi dan memutuskan untuk membantu tuannya mendapatkan nyonya mereka. Bagaimanapun, nyonya seperti Tara sangat jarang. Mereka tidak ingin kehilangan wanita itu.
"Tapi anda tidak memikirkan resikonya."
"Hidup itu harus berani mengambil resiko agar bisa mendapatkan apa yang di inginkan."
"Anda jauh lebih licik dari saat menghadapi rekan bisnis."
Berpura-pura mabuk, lalu meminta listrik di padamkan. Sungguh, Jack tidak bisa menerima kelicikan Rafael dengan mudah.
"Di masa depan, kau akan melihat bagaimana liciknya aku demi mendapatkan cinta istriku."
"Aku akan menunggu hari itu terjadi, Tuan." Rafael tertawaan kecil, tidak merasa malu sedikit pun atas apa yang dilakukan tadi malam.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
Melihat bahwa Jack seperti sedang bimbang antara melaporkan atau tidak. Rafael yang sudah bekerja dengannya bertahun-tahun dapat menebak dengan benar.
"Semalam nyonya bertemu dengan keluarga Moore. Kedua wanita itu berniat menyulitkan nyonya namun gagal karena nyonya melawan. Bahkan, mereka menderita rasa malu akibat permainan nyonya."
Mendengar bahwa keluarga Moore, terutama ibu dan kakak perempuan sang istri telah mencoba menyulitkan istrinya. Rafael jadi kesal dengan keluarga tersebut. Tidak bisakah mereka berhenti membuat masalah? Atau jangan mengganggu istrinya? Ini sangat menyebalkan mengingat Rafael sudah tahu bagaimana kejamnya keluarga itu pada istrinya di masa lalu.
Belum lagi sebelum acara pernikahan di mulai. Dengan tidak tahu malu, tuan Moore dan istrinya datang ke rumah keluarga Xavier, meminta uang balas jasa karena telah membesarkan Tara. Bukan jumlah kecil.
Rafael awalnya tidak terlalu mempermasalahkannya, namun setelah di pikir-pikir. Keduanya seperti sedang menjual putri mereka, dan bahkan menuntut uang perawatan sedangkan sejak kecil, Rafael yakin Tara tidak pernah di perlakukan adil oleh mereka.
"Sepertinya mereka tidak merasa bersalah setelah menjual putri mereka dengan harga yang sangat tinggi."
Bukan bermaksud merendahkan Tara. Rafael memberikan uang itu hanya untuk membuat mereka tidak membuat keributan atau masalah.
Namun lihat apa yang sedang terjadi? Belum lagi kalau sampai istrinya mendengar tentang uang balas jasa itu. Mungkin dia akan semakin terluka.
"Mereka berniat menjadikan putri tertua sebagai nyonya Xavier dan menghancurkan hidup nyonya Tara, Tuan."
"Sangat berani!"
"Apa yang ingin anda instruksikan pada ku, Tuan?"
"Jangan ikut campur, balas dendam biar menjadi urusan istriku. Kau hanya perlu menjaganya dari kejauhan."
"Baik, Tuan."
********
"Bos, nona Olivia ingin bertemu dengan anda."
Baru saja Rafael tiba di perusahaan dan sudah ada gangguan yang tidak menyenangkan. Sepertinya keluarga Moore tidak pernah mengenal kata mundur. Membuat Rafael hilang kesabaran.
"Abaikan saja, aku tidak ingin melihatnya."
"Sebenarnya ini bukan kali pertama, Bos. Nona Olivia sudah sering melakukan kunjungan, hanya saja kami tidak melaporkannya pada anda."
Kini Rafael menatap ke arah asistennya. Tiba-tiba saja dia memiliki sebuah ide bagus untuk Olivia.
__ADS_1
"Biarkan dia masuk. Dan kirimkan rekaman cctv yang berisi entangnya berkunjung ke sini.
"Buat dia terlihat seperti wanita yang berniat merayu suami adik perempuannya." Bukankah itu balas dendam yang menyenangkan. Setidaknya dia akan membantu Tara sedikit.
"Baik, Bos."
Semuanya di lakukan dengan cepat. Sang sekretaris pun tidak lupa mengambil rekaman hari ini.
Begitu Olivia di izinkan masuk. Dia menguba ekspresinya menjadi seorang penggoda, tidak memikirkan bahwa ada cctv yang mengawasinya.
"Selamat pagi, Tuan Rafael." Sapa Olivia dengan ramah, dia bahkan tidak manggil adik ipar pada pria itu.
"Apa mau mu?" tanya Rafael datar.
"Saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan anda sebagai sekretaris, Tuan. Saya bisa melakukan apa saja, bahkan jika anda merasa lelah saya bisa memijat anda."
Benar-benar sangat memalukan. Rafael bahkan ingin muntah dibuatnya. Apakah Olivia tidak tahu bahwa perusahaannya minim karyawan wanita. Kebanyakan dari mereka adalah pria, bahkan dua sekretarisnya adalah seorang pria.
Bukan berarti dia menyukai pria. Hanya saja, bekerja dengan wanita muda sangat menjengkelkan apalagi yang memiliki fantasi menjadi nyonya Rafael.
"Apa kau pikir perusahaan ku membutuhkan seorang wanita? Apa kau tidak melihat kalau sembilan puluh persen dari mereka adalah pria? Kau bahkan berani menjadi sombong di hadapan ku! Meminta ku menjadikan mu sekretaris ku dan bersedia mengambil posisi pelayan. Maaf, aku pria beristri. Ayah ku pun selalu mengajari ku untuk menghormati istriku dan menolak segala jenis wanita j*lang
Olivia terpana, bahkan merasa malu karena sudah di hina dan disebut jal"ng.
"Anda sangat kejam, Tuan. Apakah Tara yang meminta anda melakukan hal seperti itu pada ku? Bagaimana bisa anda menghina kakak ipar anda?" Olivia mulai menangis di hadapan Rafael. Sayangnya air mata itu tidak berguna di matanya.
"Jika kau sudah tahu siapa aku, kenapa kau tidak bersikap sopan pada ku? Bukankah sebagai seorang kakak ipar, kau harusnya tidak berkunjung sendiri ke perusahaan adik ipar mu lalu memaksa menjadi wanita pengh*bur untuknya."
"A-aku."
"Keluar dari ruangan ku, dan jangan pernah perlihatkan wajah menjijikkan mu itu! Seperti yang sudah adik ku katakan sebelumnya. Kami hanya menganggap Tara bukan keluarga Moore. Ingat posisi mu dan berhentilah berfantasi menggantikan posisi Tara. Dia istri ku, dan akan selamanya seperti itu."
Awalnya Olivia tidak mau pergi meskipun sudah di hina sedemikian rupa. Tapi Rafael tidak kehilangan ide, dia malah meminta penjaga membawa paksa Olivia lalu membuangnya tepat di pintu masuk perusahaan agar semua orang tahu bahwa wanita itu sudah berniat tidak baik pada adik iparnya.
Belum menghilang ! akibat di usir dengan kejam Internet kini malah menghinanya. Para netizen yang melihat rasa malu rekaman cctv tentang usaha Olivia menggoda adik iparnya mulai mencaci maki Olivia beserta keluarga Moore.
Akun anonim yang tidak dikenal tanpa henti menyebarkan rekaman itu dengan tulisan 'kakak perempuan yang berniat merebut suami adik perempuannya'. Para pembenci Olivia dari kalangan putri pejabat dan artis segera ikut meneruskan postingan tersebut.
Setelah hari ini, Olivia sudah dipastikan akan kehilangan kemegahannya.
__ADS_1