Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Baik." Hanya orang bodoh yang akan melewatkan


kesempatan menjadi kerabat dengan Rafael. Dan Fania tidak akan menjadi salah satu dari orang bodoh tersebut.


Fania tahu keuntungan apa saja yang bisa dia dapatkan ketika menjalin hubungan baik dengan keluarga Xavier.


"Aku akan mengingat kebaikan Nona Fania."


"Tidak perlu, cukup anda mencintai dan memperlakukan Tara dengan baik. Aku akan benar-benar berterimakasih."


"Pasti, aku tidak mungkin menyakiti wanita ku." Rafael senang mengetahui kalau istrinya punya sahabat yang cukup peka pada sekitar.


"Senang mendengarnya."


Setelah itu, Rafael mempersilahkan Fania pergi sedangkan dia masuk ke ruang rawat sang istri. Di sana, Tara sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Jangan pikir ranjang tersebut seperti pada umumnya ranjang rumah sakit. Tidak, ranjang yang di tiduri Tara sama mewahnya dengan yang ada di rumah.


Tentu saja itu adalah perintah Rafael. Rumah sakit segera mempersiapkan ruang rawat ketika Tara sedang menjalani operasi kecil.


"Bagaimana tangan mu?" Kini Rafael sedang berusaha naik ke ranjang istrinya kembali.


"Sudah tidak sakit. Apa aku boleh pulang?" Lukanya tidak parah, sehingga dia merasa tidak perlu menginap di rumah sakit.


"Tetap di rumah sakit untuk malam ini! Aku tidak ingin suatu terjadi kembali."


Rafael tidak mengerti kenapa Tara lebih memilih pulang alih-alih menikmati perawatan yang nyaman di rumah sakit. Walaupun dia tahu mungkin saja hal itu karena istrinya seorang Dokter. Biasanya Dokter memang jauh lebih tahu kondisi mereka dari pada orang biasa.


"Tapi ini tidak parah, dan ku pikir berada di sini cukup merepotkan."


"Kau tidak nyaman?"


Jika istrinya tidak nyaman, maka Rafael akan membawanya ke rumah sakit lain. Kesehatan dan keselamatan Tara menjadi prioritasnya, bahkan jika lukanya kecil Rafael akan membuatnya seperti sebuah luka besar.


"Tidak, aku hanya merasa tidak enak saat kau harus membayar mahal perawatan ku. Apalagi ruangan ini tingkat VVIP. Pasti menguras banyak uang mu."


Ini hal yang membuat Rafael semakin yakin untuk menahan Tara di sisinya. Wanita itu tidak pernah memiliki niat serakah.


"Aku bisa mencarinya lagi. Uang bisa di dapatkan, tapi kesehatan dan keselamatan mu jauh lebih penting."


Hanya Rafael yang bisa mengatakan dengan mudah tentang uang yang terdengar seperti sebuah kertas biasa.


Tiba-tiba Tara teringat dengan perkataan Fania tentang perasaan Rafael padanya. Apa itu benar? Jika seperti itu, kini dia mulai paham kenapa jantungnya sering berdetak kencang setiap kali berada sangat dekat pada Rafael.

__ADS_1


Kini, keduanya sedang duduk di atas ranjang yang sama. Rafael menarik selimut istrinya untuk menutupi bagian pinggang. Tidak ingin Tara-nya kedinginan atau merasa buruk.


Melihat secara jelas setiap perbuatan kecil namun manis dari sisi Rafael. Tara semakin merasa tidak nyaman tapi tidak berniat pergi jauh.


"Apa kau lapar?"


"Bel-" Tiba-tiba saja perut Tara berbunyi, membuatnya malu namun Rafael tidak mengejek. Malah ia mengusap puncak kepala sang istri dengan sayang.


"Aku sudah memesan makan siang untuk kita. Apa kau bisa menahannya? Atau perlu ku minta perawat membawa makanan rumah sakit."


"Tidak perlu, aku bisa menunggu." Kedua pipi Tara memerah, menambah kesan imut di mata Rafael. Dia bahkan tanpa segan-segan mencubit kedua pipi lembut istrinya. Jari-jari panjang dan dingin itu menyentuh wajahnya. Tara merasa dunianya berhenti sejenak,


perasaan itu berbeda dari saat dia mulai mengenal David di masa lalu.


"Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini?" Karena tidak bisa menahannya. Tara akhirnya bertanya.


"Karena kau istri ku. Apa kau keberatan?"


"Tapi kita memiliki surat perjanjian sehingga rasanya aneh kau bersikap seperti suami penuh cinta pada ku."


"Apa kau keberatan?" Rafael bertanya sekali lagi dan mengabaikan perkataan Tara.


"Jika kau tidak keberatan, maka aku tidak perlu menghentikannya. Kau pantas, dan sepertinya kau satu-satunya wanita asing yang pantas ku perlakukan seperti itu."


Kini Tara terdiam. Dia bingung, namun juga sedikit senang sebab Rafael tidak marah padanya atau bahkan itu. menuntutnya membalas perasaan


"Kau tidak perlu memaksa perasaan mu. Ayo kita coba bersama, dan aku tidak keberatan menunggu mu."


"Apa artinya?" Firasat Tara mulai tidak enak.


"Mari kita hapus surat perjanjian itu. Aku ingin kau menjadi istri ku dalam konteks yang sebenarnya."


Nah, kini Tara panik. Meskipun dia belum sepenuhnya paham dengan maksud Rafael. Namun dia merasa bahwa setelah surat perjanjian di hapus, maka pria yang ada di hadapannya akan mulai menyentuhnya lalu permintaan calon penerus akan mulai sering ia dengar.


"Kenapa harus menghapusnya?"


Rafael gemas mendengar perkataan polos istrinya. Dia paham kalau Tara memang belum sepenuhnya mengerti maksudnya.


"Aku tidak akan memaksa mu. Kita bisa menghapusnya setelah kau benar-benar siap menjadi nyonya Rafael, bukan sebagai nyonya Xavier."


"Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Tara menggembungkan pipinya. Melihatnya, Rafael jadi semakin tidak bisa menahan untuk memberikan kecupan ringan.

__ADS_1


Benar saja, kedua mata Tara membesar ketika bibir hangat itu kembali memberikan kecupan, meskipun kali ini ada di pipinya.


"Kau!" Tara menjadi malu.


"Aku jatuh cinta pada mu dan surat itu tidak lagi penting. Maaf karena harus memberikan surat perjanjian dengan poin yang mengerikan pada mu. Kali ini, biarkan aku menunjukkan pada mu bahwa aku berbeda dari mereka yang selalu menyakiti mu. Aku berjanji, bahwa hanya kau yang akan menjadi istri ku."


Karena Fania sudah memberitahu istrinya bahwa dia jatuh cinta. Rafael masih belum puas, dia ingin mengatakan pada wanita yang ada di hadapannya kalau dia benar-benar jatuh cinta padanya.


"I-ini terlalu cepat."


"Aku tidak keberatan menunggu."


"Tapi aku tidak yakin bisa menerima mu."


"Percaya pada ku, dan kau tidak perlu berusaha. Biarkan aku yang membuktikannya pada mu. Ini tugas ku sebagai seorang pria sekaligus suami."


Tara kehilangan kata-kata. Di satu sisi, dia merasa gejolak aneh di hatinya setelah mendengar pernyataan cinta Rafael yang tiba-tiba.


"Anehnya, jantung ku merasa tidak nyaman setelah mendengar pernyataan mu."


"Itu pertanda kau juga bersedia menerima ku."


"Begitukah?"


"Ya, ingin mencobanya?"


"Apa tidak akan sakit? Aku takut cinta mu seperti cinta keluarga ku."


"Mungkin aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan tetap membuat mu tersenyum setiap hari, namun kau harus percaya kalau aku akan berusaha membuktikan jika aku suami terbaik untuk mu."


Senyum kecil Tara bisa terlihat. Dia, anehnya senang mendengar janji Rafael yang jauh berbeda dengan janji kebanyakan pria di drama yang sering ia lihat di masa lalu.


Tidak ada kata-kata cinta atau lembut. Namun Tara merasa Rafael sangat tulus ketika mengatakannya.


"Baik."


"Terima kasih." Rafael senang. Dia tidak menduga kalau hari ini, setelah Fania menasehati dan memberikan saran pada sang istri. Dia berani menyatakan cintanya dan sepertinya cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan.


"Hm, aku akan mengingat setiap janji yang kau ucapkan."


"Tentu, Sayang. Aku pasti akan menepati janji ku."

__ADS_1


__ADS_2