Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Rasa Nyaman


__ADS_3

Sore hari, Tara yang sedang tidak banyak pekerjaan di kliniknya sudah pulang ke rumah. Selesai mandi, dia langsung turun ke lantai bawah mengambilbmakanan ringan yang ia pesan pada bibi pelayan.


Tanpa sepengetahuannya, Rafael hari ini juga telah kembali dari perusahaan dan sedang duduk di sofa. Sengaja ia lakukanbkarena sudah lama dirinya sibuk bekerja hingga lupa bersantai. Ditambah lagi kondisi fisiknya sedang lemah akibat lelah bekerja.


"Apakah makanan itu enak?"


Langkah kaki Tara terhenti dan keripik kentang yang ada di mulutnya jatuh akibat terkejut setelah mendengar suara Rafael yang kehadirannya tidak dia sadari.


Tawa kecil keluar dari sisi Rafael saat melihat penampilan terkejut Tara yang baginya itu sangat lucu. Entahlah, tiba-tiba saja Rafael merasa Tara sangat menarik apalagi ketika menyadari kalau istrinya itu tidak menyadari kehadirannya.


"Kau sudah kembali."? Setelah mengutip keripik kentang yang jatuh lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di ruangan. Tara kembali normal dan memutuskan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Rafael.


Tidak ada ekspresi malu atau tertegun ketika melihat sosok Rafael. Tara terlihat biasa-biasa saja hanya sedikit terkejut akibat tidak menyadari kehadirannya.


"Ya, apa makanan itu enak?"


"Tentu, kalau tidak aku tidak akan meminta bibi membeli stok banyak. Apa kau ingin mencobanya?" Meskipun sedikit tidak rela karena harus berbagi, tapi sebagai orang yang menumpang dan hidup dari uang Rafael. Tara berusaha berbaik hati.


"Tidak, untuk mu saja. Lagi pula aku bisa melihat betapa kau memuja makanan itu dan enggan untuk membaginya." Kini Rafael merasa nyaman ketika berbicara dengan Tara.


Tara yang mendengar hanya tertawa kecil. Dia melanjutkan makannya tanpa memperhatikan bahwa apel adam Rafael naik turun ketika melihat cara wanita itu makan. Ada perasaan aneh yang baru Rafael sadari setiap kali melihat bibir mungil istrinya yang merah muda tanpa menggunakan pelembab ataupun lipstik.


"Kau sebaiknya mengurangi makanan seperti itu dan beralih ke buah-buahan. Itu jauh lebih baik untuk kesehatan."


"Terima kasih, aku akan melakukannya." Tara tidak


keberatan. Dia sudah menganggap Rafael teman sehingga tidak masalah jika pria itu memberikan nasehat.


"Kau tidak keberatan aku mengatur pola makan mu?" Tentu saja Rafael sedikit terkejut.

__ADS_1


"Kenapa harus keberatan? Bukankah yang akan membeli buah-buahan itu uang mu? Selama tidak menguras kekayaan ku maka aku baik-baik saja." Tara setengah bercanda dan Rafael tersenyum kecil saat teringat perkataan adiknya tentang Tara yang punya visi dan misi menjadi wanita kaya.


"Apa kau merasa kurang dengan uang bulanan yang ku beri?"


"Tidak, itu bahkan sangat banyak. Meskipun aku suka uang dan ingin menjadi wanita kaya, aku tidak akan menguras habis harta mu."


"Aku punya banyak uang. Dan tidak keberatan membaginya sedikit pada mu."


"Itulah kenapa aku tidak ingin serakah. Jika kau sedikit pelit, mungkin aku akan membuat mu miskin dalam waktu singkat."


Percakapan keduanya cukup menyenangkan. Para pelayan yang lalu lalang tersenyum kecil setiap kali telinga mereka mendengar kata-kata Tara. Semua orang yang ada di rumah sangat menyukai Tara. Dia wanita baik, tidak sombong dan tidak pernah menggunakan posisi untuk menekan bawahan.


Rafael yang kurang nyaman dengan kursi rodanya memutuskan pindah ke sofa sendirian. Jika dalam keadaan sehat, mungkin Rafael akan baik-baik saja. Tapi karena kondisi fisiknya sedang terserang virus demam, dia lemah dan sengat kesulitan pindah.


Tara yang awalnya hanya ingin mengawasi jadi tidak tega. Berniat membantu tapi takut Rafael tersinggung. Jack yang juga ada di sana pun tidak berdaya. Sudah sering kali Rafael marah kalau dirinya ikut membantu pria itu bergerak bebas.


Sebenarnya, kelumpuhan itu hanya terjadi di bagian tulang tempurung lutut hingga tungkai. Sedangkan ke atas hingga kepala normal.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau terjatuh. Aku tidak berniat melanggar isi perjanjian kita."


Setelah selesai, Tara langsung meminta maaf. Membuat Rafael merasa baik-baik saja. Tidak ada ketersinggungan seperti biasa Orang-orang yang berniat membantunya.


"Tidak apa-apa. Maaf karena membuat mu kesulitan." Nafas Rafael mulai tidak beraturan. Kelelahan dan demam membuatnya sulit bernafas dengan baik.


"Kau demam!" Kini Tara secara tidak sengaja kembali nenyentuh Rafael di keinginan. Mengecek suhu tubuh pria tersebut dan benar, suaminya sedang demam. Pantas saja dia membutuhkan orang lain untuk pindah.


"Hanya demam biasa, besok akan kembali membaik." Anehnya Rafael merasa baik-baik saja setelah di sentuh oleh Tara.


"Tapi harus segera di obati agar tidak semakin parah Tunggu di sini, aku akan mengambil obat di kamar ku."

__ADS_1


Tanpa nenunggu jawaban Rafael. Tara langsung berlari ke lantai dua menuju kamarnya untuk mengambil obat demam yang memang sering ia bawa ke rumah untuk berjaga-jaga.


"Anda baik-baik saja, Tuan?"


Jack penasaran kenapa Rafael begitu santai ketika Tara menyentuhnya.


"Ya, dan tolong selidiki identitas asli Tara. Aku tidak yakin dia hanya seorang mahasiswi."


Kecurigaan Rafael memang sudah ada sejak tahu dia akan menikah dengan Tara. Tapi, ia memutuskan mengabaikannya, namun sekarang ia semakin penasaran sebab Tara memiliki obat sendiri bukan obat dari rumahnya


"Baik, Tuan."


Tara kembali dari kamar, dia membawa banyak obat demam yang telah di resep dokter. Kini kecurigaan Rafael dan Jack semakin bertambah. Jika mereka tidak mengenal Tara beberapa bulan yang lalu. Mungkin mereka berpikir bahwa Tara seorang Dokter bukan mahasiswi.


"Terima kasih karena sudah meresepkan obat untuk ku."


"Sama-sama. Kau harus banyak beristirahat, jangan terlalu membebani diri mu." Secara tidak sadar Tara sudah memberitahu orang-orang kalau dia punya rahasia cukup besar.


"Tentu. Apa kau sudah lapar?"


"Belum, tapi jika kau ingin makan malam, aku bisa menemani."


"Kalau begitu ayo kita makan malam. Lagi pula aku harus


minum obat."


"Benar, aku hampir melupakan itu. Ayo kita pergi."


Tara menunggu Rafael kembali ke kursi rodanya. Kali ini pria itu bisa pindah dengan baik. Lalu, keduanya menuju ruang makan. Makan malam terasa berbeda kali ini. Ada perasaan senang dalam diri Rafael ketika melihat bahwa Tara tidak memperlihatkan rasa kasihan untuknya.

__ADS_1


Seolah-olah dia normal dan bantuan tadi hanya adegan kecil yang sudah di lupakan. Benar kata ayahnya. Tara berbeda, seharusnya dia mencari tahu lebih dulu sebelum memberikan surat perjanjian. Tapi tidak masalah. Rafael akan memperbaiki semuanya. Sekarang dia sedang berencana memperbaharui surat perjanjian mereka dan meminta Tara menjadi istrinya dalam artian yang sebenarnya.


__ADS_2