Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Kacamata


__ADS_3

Setelah sepakat menjadi teman. Hubungan Rafael dan Tara semakin dekat. Kadang mereka akan menyempatkan diri berbicara santai selama beberapa jam sebelum bekerja.


Pelayan yang melihat interaksi keduanya pun senang, tidak menduga kalau tuan mereka bisa kembali ceria setelah kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


Hanya saja, untuk hari ini sepertinya Tara harus menahan emosinya karena bertemu dengan keluarga Moore yang tidak tahu malu. Kakak perempuan dan ibunya kembali membuat ulah atau lebih tepatnya sengaja memancing emosinya.


Beruntung hari ini dia tidak menggunakan pakaian Dokternya atau semua rahasia yang sengaja ia tutupi terbongkar. Bisa ditebak bagaimana hidupnya ketika keluarga Moore mengetahui identitasnya selama ini.


Memang, selama ini Tara selalu menyembunyikan nama keluarganya ditambah lagi ayah, ibu dan kakak perempuanya enggan mengakuinya di depan umum sehingga tidak banyak yang mengetahui bahwa dia salah satu bagian dari keluarga tersebut.


"Bagaimana kabar mu, Adik? Sepertinya kau semakin sombong setelah menikahi tuan Rafael."


Tentu saja Olivia dan ibunya kesal dengan sikap Tara yang tidak pernah mau berkunjung atau memberikan izin mereka datang ke rumah Rafael.


Padahal, mereka sudah merencanakan banyak hal. Merayu Rafael sambil menunggu Nathan terpikat dan merespon rayuan Olivia. Tidak masalah jika tidak mendapatkan Nathan, kalau Rafael berhasil dia rebut,


Olivia tidak akan keberatan. Namun, jangankan Nathan. Untuk mendekati Rafael saja dia tidak bisa, salah satu alasannya karena Tara tidak pernah menyambut mereka.


Lagi pula, hanya wanita bodoh yang akan menyambut dua penganggu seperti mereka apalagi mengizinkan keduanya masuk ke rumah mereka lalu merayu suaminya. Tara tidak sebodoh itu meskipun dia dan Rafael tidak saling mencintai, namun demi kenyamanan bersama, Tara tidak akan membiarkan mereka masuk.


"Tidak sombong, hanya saja ku pikir akan lebih baik tidak sering berkunjung ke rumah sebab aku sudah menikah dan memiliki keluarga baru. Kalau tidak, suamiku akan berpikir bahwa aku tidak pernah perduli padanya."


"Kalau begitu biarkan aku dan ibu berkunjung ke rumah mu. Bagaimanapun kita masih keluarga dan kadang kami merindukan mu."


Melihat sudah banyak orang yang mendekat karena posisi mereka yang berbicara di depan sebuah kafe, Olivia semakin bersemangat dan memasang wajah sedih seolah-olah Tara telah menolak maksud baiknya.

__ADS_1


"Kakak mu benar, Nak. Kadang ibu masih sering teringat kenangan kita di rumah dan tiba-tiba merindukan mu. Tapi kau bahkan tidak berniat berkunjung atau bahkan mengizinkan kami datang ke rumah mu."


Tentu saja sang ibu mengikuti sandiwara yang Olivia buat. Dia sudah tidak sabar melihat Tara dihina oleh banyak orang, dan keluarga Xavier akan malu lalu meminta Rafael menceraikannya.


"Kami tahu bahwa suamimu adalah pewaris keluarga Xavier dan kau pasti takut aku merayunya. Tapi Adik, aku tidak pernah berpikir hal seperti itu, aku bahkan sudah memiliki seorang kekasih. Mana mungkin aku meninggalkannya dan membuat pernikahan adik perempuan ku rusak."


Bersikap seperti seorang wanita baik-baik. Olivia menikmati sandiwaranya, sayang dia tidak melihah wajah jengah Tara. la bahkan tidak memperdulikan tatapan orang yang mulai menuduhnya jahat. Memangnya mereka akan memantunya saat kesulitan Lagi pula dia tidak akan pernah lagi mendengarkan pendapat orang lain, dia yang memutuskan apapun yang ingin dirinya ambil.


"Ayah mu juga sangat merindukan mu, Nak. Dia bahkan sakit akibat sering kau tolak bertemu."


"Tolong izinkan kami berkunjung, ini demi ayah, Adik."


Bisik-bisik mulai terdengar, namun Tara terlihat biasa saja. Tidak terusik atau bahkan menganggapbpercakapan kedua wanita yang suka memainkan drama di hadapannya penting.


"Jika aku tidak mengizinkan kalian datang ke rumah ku, lalu apa? Apakah aku harus membiarkan siapa saja bisa masuk ke dalam sedangkan suamiku bahkan tidakbpernah menyambut kehadiran kalian? Belum lagi kalian sering menghina fisik, aku tidak suka mendengar ada yang mengkritik keadaan suamiku bahkan di belakannya atau di belakang ku sekalipun."


"Apa maksud mu, Adik? Kami tidak pernah menghina tuan Rafael sama sekali."


Olivia jadi gugup ketika mendengar jawaban Tara sedangkan mereka tidak pernah mengatakannya langsung. Dari mana dia tahu? Kini Olivia semakin gugup saat memabayangkan kalau ini ada kaitannya dengan Rafael.


"Begitukah? Kalau begitu aku salah menilai kalian. Tapi kenapa wajah mu terlihat sangat gugup seolah-olah kau sudah melakukan hal-hal buruk untuk suamiku?"


Ini keahlian Tara yang sudah dia sembunyikan selama bertahun-tahun. Bermain kata hingga membuat lawannya tidak mampu membalasnya. Dan benar, Olivia kehilangan kata-kata. Senyum Tara mengembang meskipun hatinya sangat kesal. Bagimana tidak kesal, dia sedang lelah dan melihat wajah kedua wanita itu, dirinya semakin lelah bahkan harus ikut dalam sandiwara amatir mereka.


"Dan ya, benar bahwa aku takut kau merayu suamiku. Bukan karena kau cantik, bagaimanapun aku jauh lebih cantik dari mu. Hanya saja wanita serakah biasanya memang suka melakukan segala macam cara agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku benci harus melawan wanita menjijikan seperti itu, sangat melelahkan dan membuang waktu."

__ADS_1


Lalu, Tara pergi meninggalkan kerumuman yang kini menatap Olivia dan sang ibu dengan sangat jijik.


Sesampainya di rumah, rasa lelah Tara seketika hilang saat melihat sosok Rafael yang sedang duduk di sofa sambil fokus pada laptop yang ada di meja.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" Jack penasaran dengan ekpresi Tara yang sedang memandang tuannya. Wanita itu bahkan tidak bergerak dari posisinya.


"Tuan Jack, bisakah anda migir sedikit. Aku sedang melihat wajah tampan dengan kaca mata tuan mu."


Perkataan Tara mengalihkan fokus Rafael dan membuat Jack tersenyum kecil. Hah sudah terbiasa dengan kejujuran sang nyonya.


Tentu saja Rafael dibuat salah tingkah ketika mendengar pujian istrinya, terlebih tatapnnya juga sangat polos hingga dia seperti seorang kelinci putih yang menggemaskan.


"Ehem, kau sudah pulang? Apa hari mu menyenangkan?"


Rafael berusaha mengalih pandangan sang istri. Dia benar-benar malu, bahkan Jack bisa melihat kedua telinga tuannya memerah.


Pemadangan yang sayang untuk di lewatkan. Jack benar-benar tidak menduga kalau wanita polos seperti Tara bisa membuat pria yang sering kali di gambarkan seperti seorang singa merasa malu.


"Hm, lumayan. Kau terlihat sangat tampan saat menggunakan kaca mata." Pujian Tara menyerang Rafael kembali hingga pria itu terbatuk ringan.


"Apa kau baik-baik saja? Perlu ku ambilkan air?" Benar, Tara sangat polos tentang ekpresi manusia.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Dan terima kasih atas pujian mu! Apa kau senang melihat ku menggunakan kaca mata?"


Tantu saja Rafael tidak keberatan menggunakan kaca mata setiap hari demi Tara.

__ADS_1


"Ya, kau seperti seorang senior di kampus." Tara sangat antusias, terlihat jelas kalau dia begitu jujur ketika berbicara. Rafael tersenyum kecil, ingin rasanya di mengelus puncak kepala wanita yang sedang berada di hadapannya. Mata polosnya membuat ia semakin jatuh cinta padanya.


Benar, Rafael tahu bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Tara dan sebentar lagi akan mendapatkan wanita itu apapun caranya. Tidak masalah kalau dia harus memanfaatkan kepolosan sang istri, Rafael merasa itu baik-baik saja. Toh, dia tulus mencintainya tidak akan meninggalkan atau bahkan menkhianatinya, baginya satu dan hanya ada Tara.


__ADS_2