Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Semakin Serakah


__ADS_3

Sesampainya di hotel. Rafael memutuskan lebih dulu mandi sedangkan sang istri duduk di ranjang sambil melihat ponselnya.


Ada banyak pesan dan panggilan, berasal dari David serta Fania. Satu persatu mereka bertanya kemana dirinya pergi dan kenapa tidak memberitahu.


Aneh, itu hal yang pertama kali terbesit di kepala Tara melihat kekompakan keduanya saat bertanya. Seolah-olah mereka sedang duduk bersama lalu sepakat memborbardir pesan padanya.


Atau bisa di katakan kalau mereka sudah seperti ayah dan Saat sedang sibuk melihat pesan, Tara tidak menyadari kalau Rafael sudah selesai dan sedang memandang ke arahnya.


Melihat senyum sang istri saat melihat ponsel. Rafael jadi cemburu, dia langsung menuduh David sengaja mengganggu istrinya. Tidak, hal tersebut tidak boleh terjadi.


"Aku sudah selesai, kau sebaiknya mandi. Kita akan makan malam."


Suara dingin Rafael mengejutkan Tara. Dia menatap pria tersebut, yang entah apa sebabnya terlihat marah.


"Baik." Sudah hapal bagaimana sifat asli Rafael. Bisa marah secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, Tara memutuskan diam dan menuruti apa yang pria itu minta.


Setelah masuk ke kamar mandi. Rafael yang di bawa oleh kursi rodanya pergi menuju ponsel Tara yang sedang bergetar seolah ada panggilan masuk.


Tubuhnya yang sudah berpakaian lengkap setelah di bantu oleh robot kursi rodanya memancarkan aura dingin dan tak tersentuh. Melihat siapa yang sudah memanggil istrinya. Rafael memutuskan mengangkatnya.


"Tuan David, tolong jangan ganggu istri ku. Itu membuat ku merasa tidak bahagia! Aku tidak suka membagi milik ku dengan Orang lain, dan Tara hanya akan menjadi milik ku selamnya."


Lalu, Rafael memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari pihak lain. Rafael tersenyum puas setelah berhasil membuat pria itu sadar kalau dirinya sudah menandai Tara sebagai miliknya.


Malam harinya setelah makan malam yang romantis. Rafael penasaran ketika melihat istrinya yang sedang mencari-cari sesuatu di tasnya.


"Apa yang sedang kau cari?"


"Tali Kur. Aku ingin membuat gelang dari cangkang kerang yang sudah ku kumpulan tadi sore."

__ADS_1


"Kau membawa hal seperti itu?" Tentu saja ini kejutan untuk Rafael. Tidak menduga kalau istrinya akan membawa hal-hal tidak biasa, berbeda dari wanita lain yang akan menyiapkan pakaian renang seksi dan baju tidur untuk merayu suaminya. Benar, sifat polos Tara sekali lagi membuat Rafael terkejut.


"Ya, aku sudah lama ingin membuat gelang dari cangkang kerang. Kebetulan kau membawa ku kepantai, jadi aku bisa.memilih bentuk yang ku suka."


Ternyata cangkang kerang yang istrinya kumpulkan tadi sore untuk dijadikan gelang. Tiba-tiba saja Rafael ingin memiliki satu, namun sedikit malu bercampur.gengsi untuk memintanya.


"Ketemu!" Tali yang Tara cari akhirnya dia dapatkan. Rafael ikut senang melihat wajah bahagia istrinya.


"Malam ini kita harus tidur satu kamar. Apa kau tidak keberatan?" Meskipun sudah terjadi, Rafael akan tetap bertanya.


"Tidak masalah, lagi pula kita sudah melakukannya di masa lalu"


Tara menanggap hal tersebut wajar namun bagi Rafael itu berita yang membahagiakan. Setelah itu, keduanya memutuskan diam. Mengerjakan tugas masing-masing. Pemandangan yang sangat romantis.


Ditengah kesibukan Rafael yang sedang membaca hasil laporan di laptop dengan kaca mata yang membuat sang istri kagum. Tara tiba-tiba mengganggunya.


"Tentu."


"Ulurkan tangan mu, aku ingin menggunakan pergelangan tangan mu sebagai pengukur."


"Oke." Apapun, bahkan jika istrinya meminta ia menyebrangi lautan dan mendaki gunung. Rafael akan melakukannya dengan senang hati. Sedikit berlebihan memang, tapi demi cinta orang-orang akan melakukan hal yang aneh untuk membuktikannya. manis Tara membuat Rafael


"Terima kasih." Kata-kata manis Tara membuat Rafael semakin jatuh cinta, hingga rasanya dia akan mati jika tidak melihat sang istri barang satu hari saja.


jemari putih sang istri mulai mengaitkan tali Kur pergelangan tangan suaminya. Interaksi keduanya begitu manis hingga rasanya Rafael ingin waktu berhenti beberapa detik saja.


Bulu mata lentik istrinya, bibir mungil dan pipi yang lembut seperti kulit bayi. Ingin rasanya Rafael menyentuh mereka lalu mengulang ciuman beberapa waktu yang lalu. Namun tidak, dia harus bisa menahan semuanya karena tidak mau Tara jijik padanya.


"Apa kau suka?" Setelah selesai. Tara belum melepaskan gelang yang ada di pergelangan Rafael.

__ADS_1


"Ini cukup unik dan menarik."


Sebisa mungkin Rafael memasang wajah normalnya. Namun di dalam hati, ia ingin mengatakan bahwa dia ingin gelang itu menjadi miliknya. Lagi-lagi Rafael ingin menjadi semakin serakah.


"Kalau begitu, ini menjadi milik mu sebagai ucapan terima kasih ku karena sudah membawa ku ke pantai untuk liburan."


Suara itu sangat polos dan tulis. Hampir saja Rafael melompat di atas kasur kalau tidak ingat bahwa dirinya sedang lumpuh. Sebahagia itu ketika dia mendapatkan hadiah hasil buatan tangan istrinya. Bahkan gelang pertama yang dia buat, kini Rafael mulai berhalusinasi kalau Tara juga sengaja melakukannya.


"Hm, aku akan menerimanya karena kau sudah berusaha sangat keras."


Meskipun bahagia, Rafael sebisa mungkin tidak memperlihatkannya. Belum saatnya, dia harus menunggu ketika Tara mulai sepenuhnya mempercayai dirinya dan mereka bisa memperbaharui surat perjanjian pernikahan mereka.


setelah itu, Tara melanjutkan pekerjaannya hingga pukul sebelas malam Rafael yang tidak ingin istrinya merasa lelah, meminta wanita itu berhenti dan pergi tidur.


Ketika suasana kamar hening dan hanya terdengar nafas pelan istri. dari sisi Tara. Mata Rafael terbuka. Dia mulai mendekati tubuh sang istri Rasanya dia tidak akan bisa tidur nyenyak kalau tidak bisa menuntaskan rasa hausnya untuk menyentuh dan mengecup bibir mungil tersebut secara diam-diam.


Rafael menatap puas ke arah istrinya. Wajahnya yang damai ketika tertidur seperti lukisan paling sempurna di mata Rafael. Menyentuh dengan pelan. Rafael tersenyum ketika mendapati bahwa Tara tidak merasa terganggu. Dia bahkan masih sangat damai, hal yang sangat Rafael syukuri sekaligus khawatir. Takut jika sewaktu-waktu hal itu akan menjadi bumerang untuk istrinya.


"Aku harus menjaga mu lebih ketat setelah ini."


Tidak di perbolehkan tidur di rumah orang lain dan melakukan interaksi dengan banyak orang. Maaf, Rafael memang sangat serakah untuk apa yang sudah dia klaim. Puas menyentuh, kini Rafael mendekatkan dirinya pada sang istri.


Jika itu orang lain, mungkin mereka akan segera bangun mengingat usaha Rafael yang membawa tubuhnya yang setengah lumpuh. Namun entah kenapa Tara sama sekali tidak terusik. Mungkin karena lelah setelah bermain di pantai. Atau karena dia sudah percaya pada Rafael sehingga menurunkan kewaspadaannya. Entahlah, tapi Rafael senang dengan sikap Tara yang tetap tidur nyenyak hingga dia berhasil memberikan kecupan selamat malam di bibir mungil tersebut.


"Selamat malam Tara. Selamat malam Sayang, selamat malam istri ku."


Bisik Rafael lembut lalu mulai membenamkan wajahnya di pelukan sang istri. Masa bodoh jika orang-orang mengatakan dia serakah dan suka mengambil keuntungan.


Yang Rafael tahu bahwa, dia ingin merasakan tidur di pelukan istrinya dan aroma tubuhnya sudah seperti obat tidur paling manjur di dunia ini untuknya.

__ADS_1


__ADS_2