Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Tidak Mau Jadi Duda


__ADS_3

Sekembalinya Rafael. Dia segera meminta adiknya pulang ke rumah dan tidak memberikan waktu untuk menolak. Bukan tidak berperasaan atau tidak tahu cara berterima kasih. Hanya saja, dia ingin memeluk istrinya malam ini tanpa gangguan agar kemarahannya pada keluarga Harris dan pria bernama Devon hilang.


Ya, bagi Rafael yang kini resmi menjadikan dirinya pemuja sang istri, pelukan adalah obat terbaik apalagi jika wanita itu bersedia memberikannya ciuman dengan suka rela. Kemungkinan besar Rafael bisa terbang ke langit sangking bahagianya.


"Kau benar-benar tidak berperasaan, Kak." Wajah Nathan penuh dengan keluhan.


"Aku akan memberitahu ibu bahwa kau sudah mengintimidasi ku! Lihat bagaimana ibu akan menarik telinga Kakak seperti di masa lalu."


Tiba-tiba saja Rafael ingat momen saat dirinya secara sengaja menjahili sang adik pada saat usianya sudah menginjak 15 tahun.


Saat itu, Nathan menangis. Semua orang yang ada di rumah kebingungan dibuatnya dan anehnya Rafael semakin suka membuat suara tangisan adik laki-lakinya itu lebih sering terdengar.


Tapi itu tidak lama sebab Bella yang terkenal tegas dan adil segera memberikan hukuman pada Rafael. Bahkan sang ayah pun tidak berdaya dibuatnya. Momen itu tidak akan pernah Rafael lupakan, bukan membenci ibunya tapi malah menganggap hal tersebut sangat menyenangkan. Setidaknya mudanya juga tidak monoton seperti yang orang-orang pikirkan.


"Jack, antar tuan kedua ke rumah dengan selamat tanpa lecet sekalipun." Rafael memutuskan menghentikan protes adiknya karena ini sudah larut malam dan mereka butuh istirahat.


"Baik, Tuan." Jack mengajak Nathan pergi.


"Aku akan memberi tahu kakak ipar kalau Kakak sudah


mengintimidasi ku! Kita lihat bagaimana Kakak akan menyelematkan diri kali ini."


Nathan yakin ketakutan terbesar Rafael setelah ibunya adalah Tara.


"Baik, laporkan itu besok. Sekarang pergilah, aku butuh


istirahat."


Dia bahkan menantikan hal seperti itu terjadi. Mungkin bisa melihat seperti apa istrinya membela adik laki-lakinya. Nathan yang sudah dewasa paham arti lain di balik perkataan kakaknya sehingga dia pergi sambil menghentakkan kakinya. Seperti seorang anak kecil yang tidak puas dengan keputusan ayahnya. Terlihat lucu hingga semua orang yang melihat mulai ragu apa Nathan adik laki-laki Rafael yang terkenal dengan julukan raja neraka dunia nyata.


Setelah ruangan sepi tanpa gangguan. Rafael memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum memeluk istrinya. Ketika tubuhnya yang setengah lumpuh berbaring di sisi sang istri. Rafael merasa sangat nyaman, namun juga mulai protes dengan kondisinya.


Sepertinya aku harus segera menyelesaikan pada wanita itu dendamn dan menemukan Dokter yang bisa mengobati kelumpuhan ini!


Rafael tidak bisa membiarkan dirinya digantikan oleh pria lain. Dia tidak takut istrinya mudah di rayu oleh pria lain terutama David, namun juga merasa tidak nyaman duduk di kursi roda. Dia ingin jalan-jalan seperti kebanyakan pasangan muda bersama istrinya.

__ADS_1


Pasti sangat menyenangkan jika hal seperti itu bisa terjadi. Membayangkan dirinya menggendong Tara di punggung sambil bercerita tentang hal-hal sepele. Kemauan untuk berjalan kembali semakin besar.


"Selamat malam wanita ku."


Rafael memberikan kecupan ringan di kening Tara lalu memeluknya. Keduanya jatuh ke dalam mimpi dan malam ini berjalan damai.


"Selamat pagi, Sayang."


Rafael memberikan senyum terindah ketika melihat mata Tara sudah terbuka dan mereka tengahmenatap.


"Pagi." Suara itu kecil penuh kegugupan namun Rafael merasa suaranya sangat manis.


"Apa tangan mu sudah tidak terlalu sakit lagi?"


"Tidak. Bisakah kita pulang?"


"Nanti, setelah Dokter mengatakan kalau tangan sudah bisa menjalani rawat jalan."


Sesaat, Tara ingin tertawa. Dia Dokter dan tahu seperti apa kondisinya, namun juga merasa tertawa adalah perbuatan yang keterlaluan ketika suaminya mengkhawatirkan kondisinya.


Setelahnya, Rafael entah bagaimana tiba-tiba saja mengambil inisiatif memberikan kecupan selamat pagi. Awalnya hanya kecupan ringan, namun entah kenapa rasa hausnya mengambil alih.


Tara mungkin tidak keberatan. Bagaimanapun dia tahu kalau Rafael sudah menyatakan cintanya, dan dia yakin cinta itu bukan omong kosong. Hanya saja, Tara belum terbiasa sehingga tidak tahu harus membalasnya seperti apa.


Rafael tidak keberatan dengan sikap pasif istrinya. Dia lebih memperdalam ciuman mereka, mulai menjelajahi setiap sudut rongga mulut istrinya.


Tidak ada rasa jijik mengingat mereka baru saja bangun dan belum menggosok gigi.


Tangan Rafael pun kini mulai bergerak, tidak menyentuh bagian-bagian yang akan membuatnya semakin tersiksa. Dia hanya mengelus puncak kepala istrinya, membuat wanita itu nyaman.


Hanya saja, Rafael harus menghentikan ciuman itu sebab dia merasa bahwa nafas istrinya mulai tidak beraturan. Bibir itu semakin merah dan Rafael hampir saja menyambung apa yang sudah terpaksa ia hentikan.


"Jangan lupa bernafas, Sayang. Aku tidak ingin menjadi duda hanya karena istri ku lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik saat berciuman."


Rafael menggoda Tara. Tara yang malu menyembunyikan wajahnya di pelukan Rafael. Sangat nyaman, dan dia mulai menikmatinya. Sebenarnya, jika ditanya kenapa bisa dia dengan mudah nyaman pada Rafael mengingat dia terkenal sangat dingin. Itu hal yang mudah. Sejak awal pernikahan dia sudah berjanji akan melindungi keluarga Xavier yang sudah menganggapnya ada di rumah mereka.

__ADS_1


Karena sudah berjanji, maka alam bawah sadarnya mengambil alih lalu mulai mudah beradaptasi dan menganggap Rafael temannya.


Jadi, meskipun belum ada cinta diantara keduanya. Tara sudah merasa nyaman, dilindungi seperti Rafael satu-satunya pria yang akan selalu ada di sisinya meskipun dunia mengutuk kerasnya.


"Kau menjengkelkan."


Tidak marah, mana mungkin Rafael tega memarahi istrinya. Dia bahkan tersenyum kecil sambil sesekali memberikan usapan di punggung serta kecupan di rambut halus istrinya. Semua tentang Tara begitu memabukkan untuknya.


"Jika aku benar-benar mati, apa kau akan mencari pengganti ku?"


Pertanyaan itu begitu tiba-tiba hingga Rafael sedikit terperangah.


"Tidak akan ada yang mati. Kau akan tetap hidup dan kita pasti menua bersama."


Memikirkan hal yang belum terjadi. Rafael tidak bisa tetap tenang, bagaimana dia bisa hidup baik-baik ketika istrinya pergi meninggalkannya.


"Jawab pertanyaan ku."


"Aku sudah menjawabnya."


"Bukan itu!" Tara jadi sedikit kesal hingga berani meninggikan


"Keras kepala." Dengan sayang Rafael mengacak-acak


rambut halus istrinya.


"Aku bahkan tidak ingin hidup lagi ketika kau pergi meninggalkan ku. Jadi, bagaimana bisa aku mencari pengganti? Kemungkinan besar aku pergi menyusul mu."


Jawaban itu terdengar sangat jujur. Membuat Tara yang tadinya hanya ingin menggoda kembali terharu. Dia benar-benar merasa di hargai dan di anggap layak setelah dua puluh tahun lamanya di abaikan oleh keluarganya.


"Lalu, kalau aku jelek dan tidak bisa memberikan mu anak. Apa kau akan mencari pengganti ku?"


"Itu lebih tidak mungkin terjadi. Bagi ku, setelah sumpah setia di hadapan Tuhan. Aku tidak akan pernah menyakiti mu dengan alasan konyol seperti itu. Kita akan menghadapi semuanya bersama, tidak perduli bagaimana dunia memperlakukannya dengan tidak adil. Aku akan membuat mu merasa adil meskipun harus menentang dunia."


"Kau seperti pria yang sudah sering jatuh cinta." Tentu saja Tara semakin percaya kalau Rafael pria baik. Dan jatuh cinta padanya tidak pernah salah ataunmembuatnya terluka seperti yang di katakan Fania kemarin.

__ADS_1


"Kau cinta pertama ku dan cinta terakhir ku. Aku bisa mengucapkan hal seperti ini karena aku sudah benar-benar jatuh cinta pada mu. Apapun yang orang lain bilang berlebihan, di mata ku tidak sama sekali dan kau pantas mendapatkannya."


__ADS_2