Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Sangat Protektif


__ADS_3

Setelah di izinkan meninggalkan rumah oleh Rafael. Tara memutuskan pergi ke universitas untuk mengurus tugas akhir pendidikan S2 nya.


Sebentar lagi Tara akan wisuda, dan dia mulai sakit kepala karena bingung harus memberitahu keluarga Xavier tentang pendidikan nya yang jauh melampaui apa yang mereka ketahui.


Belum juga dia harus mengajak sang suami menghadiri acara wisuda. Tara yakin, Rafael akan sangat kecewa kalau dirinya tidak mengajak serta pria itu, ditambah lagi dia sudah menyatakan cinta padanya.


Bicara tentang cinta, ini masalah kedua Tara. Rafael memang tidak memaksa apalagi menuntut dirinya membalas dalam waktu dekat. Namun, dia juga tidak yakin apakah bisa benar-benar jatuh cinta pada pria yang sempurna di mata semua wanita.


"Kita sudah tiba, Nyonya." Bastian, pengawal pribadi Tara mulai sekarang memberitahu.


"Kau boleh pergi, aku mungkin akan lama."


"Tuan berpesan untuk menunggu anda hingga pulang."


"Baiklah." Beruntung hari ini Tara tidak berniat pergi ke klinik hingga dia tidak harus memutar otaknya mengusir Tian. Setelah itu, Tara pergi menuju ruang Dosen pembimbing. Tentu saja dia sudah membawa Disertasi yang sudah beberapa bulan ini sedang ia kerjakan.


Sangat terlibat bahwa dia mahasiswa idaman banyak dosen. Dan Tara juga sangat terkenal di universitas, baik bagi mahasiswa S1 dan S2 Para Dosen yang pernah menjadi pengajar Tara sering kali menceritakan pada murid di kelas lainnya kalau mereka harus menjadi seperti Tara.


Awalnya mereka tidak terlalu mengenal siapa Tara, mengingat identitasnya yang tidak di akui oleh keluarga Moore dan dia juga kutu buku. Ketika istirahat dirinya akan pergi ke perpustakaan, jarang pergi ke kantin karena dia sudah terbiasa makan sedikit dari rumah hingga lambungnya mengecil.


Namun, ketika semua orang tahu sosoknya. Para anak laki-laki, baik dari kalangan kaya, biasa hingga yang dianggap jenius mulai mengejarnya. Hanya saja, mereka selalu gagal akibat sikap dingin Tara.


Pada akhirnya, Tara mendapatkan julukan Dewi es karena tidak mudah di dekati dan mereka akan merasa kedinginan saat berdekatan dengannya.


"Kau selalu membuat ku terkejut, Nak. Bahkan tidak ada kata revisi setiap kali kau mengerjakan tugas-tugas mu." Dosen pembimbing Tara sangat menghargai kemampuan Tara.


"Aku hanya ingin segera selesai dan tidak menghabiskan banyak uang, Pak." Semua dosen tahu kalau hidup Tara tidak mudah. Beberapa dari mereka bahkan berniat membantu, seperti memberikan uang jajak lebih namun wanita muda tersebut selalu menolak.


"Baiklah, kau hanya tinggal mengikuti acar wisuda yang akan berlangsung dua bulan lagi. Kali ini, kau akan mengajak siapa?"


Semua dosen tahu kalau siswa favorit mereka sudah menikah dengan Pewaris keluarga Xavier dan merasa lega setelahnya.


"Ini menjadi beban untuk ku. Jika biasanya aku akan sendiri, tapi kali ini aku sudah memiliki suami dan keluarga Xavier sangat menghargai ku. Tapi, mereka juga belum tahu kalau aku mahasiswa S3"


"Biar ku tebak, kau pasti belum memberitahu mereka termasuk klinik mu."

__ADS_1


Tara memberikan senyum malu. Membuat sang dosen hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bingung dengan kebiasaan aneh Tara yang sudah terlihat misterius.


"Jangan seperti itu. Jika mereka bisa menerima mu, maka akan lebih baik jika kau jujur pada mereka."


"Akan ku pertimbangan."


Setelah berbicara sedikit, Tara akhirnya pergi meninggalkan universitas.


Tian yang berpikir kalau sang nyonya benar-benar lama menjadi terkejut. Namun tidak bertanya sebab bukan ranah nya.


"Bisakah kita berhenti di supermarket? Aku ingin membeli es krim dan coklat sebelum pulang."


Karena tugas akhirnya telah selesai, Tara ingin merayakannya sendiri. Sama seperti di masa lalu.


"Sesuai keinginan anda, Nyonya."


Lalu mereka pergi meninggalkan universitas dan berhenti di supermarket. Tara sama seperti kebanyakan wanita yang suka berbelanja. Dia dengan tidak berperasaan memasukan segala macam jenis makanan selain es krim dan coklat yang harganya cukup mahal.


Karena Rafael menekankan bahwa dia harus menghabiskan uang pemberiannya. Maka Tara melakukannya.


Mereka yang biasanya menggunakan uang pemberian suami dengan berbelanja barang bermerek, jalan-jalan keluar negeri dan berkumpul bersama para sosialita. Maka Tara berbanding terbalik, dia bahkan tidak repot-repot mengganti pakaiannya yang terlihat biasa-biasa saja.


.


Saat akan pergi, Tara tiba-tiba melihat ada sesuatu yang aneh. Dan tanpa Tian bisa mencegah, sang nyonya berlari ke tengah jalan raya yang sedang ramai.


Perbuatan Tara menarik perhatian para pengguna jalan termasuk Tian. Di detik berikutnya, suara jeritan para ibu menggema. Untungnya tidak ada adegan berdarah.


Tara berhasil menyelamatkan anak perempuan berusia 4 tahun yang hampir di tabrak oleh mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Andai saja Tara terlambat satu menit, mungkin nyawa anak itu akan hilang.


"Apa kau baik-baik saja, Nak?"


Wajah Tara cukup pucat, ini momen pertama kalinya dia menyelamatkan seorang anak kecil dari mobil yang sudah menghilang entah kemana.

__ADS_1


Mungkin karena ketakutan, anak perempuan itu langsung menangis di pelukan Tara. Orang-orang yang menyaksikan adegan mengerikan tadi pun mulai mengelilingi Tara dan anak perempuan tersebut.


"Tidak apa-apa, jangan menangis." Tara menepuk pelan punggung anak kecil itu untuk menenangkan.


Seorang wanita muda yang Tara duga sebagai pengasuh anak tersebut tiba-tiba datang dan berniat menarik anak perempuan yang sedang ada di pelukannya. Hal tersebut membuat Tara tidak suka, dan dia merasa pengasuh itu tidak kompeten.


"Saya sudah mengatakan bahwa anda tidak boleh berjalan di pinggiran. Dan lihat apa yang terjadi!"


Suaranya ketus dan itu membuat orang-orang termasuk Tara tidak suka.


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu padanya? Dia sedang ketakutan tapi kau malah memarahinya." Tara kesal.


"Ini bukan urusan mu!" Wanita muda itu malah memarahi Tara.


"Ya, ini memang bukan urusan ku tapi sikap mu pada anak ini sangat menjengkelkan. Jika aku menjadi ibunya, mungkin kau sudah ku bunuh."


Memang sangat kejam, tapi Tara tidak pernah menjadi baik pada orang-orang tidak tahu diri.


"Beraninya kau!" Saat tangannya akan memukul wajah


Tara. Segerombolan pria berpakaian hitam langsung menuju Tara. Membuat semua orang ketakutan.


Wajah mereka yang datar dengan tubuh tegap, langsung melindungi Tara dan mendorong wanita muda yang berniat menyakiti nyonya mereka.


Tara mengenal mereka. Ternyata suaminya benar-benar akan melakukan hal-hal merepotkan seperti itu demi keselamatannya.


Pengasuh itu ketakutan, dia tidak menduga kalau wanita yang sudah menggagalkan tugasnya melenyapkan nyawa anak kecil tersebut memiliki identitas tidak biasa.


Orang-orang pun mulai mencari tahu siapa sebenarnya Tara. Mengingat hanya orang-orang paling kaya lah yang bisa melakukan hal tidak terduga seperti menyewa banyak bodyguard demi keselamatan.


"Anda baik-baik saja, Nyonya" Tian memastikan sang nyonya harus baik-baik saja atau nyawa mereka jadi taruhannya.


"Ya, dari mana kelompok ini datang?" Itu yang menjadi pertanyaan besar Tara mengingat dia hanya bersama Tian tadinya.


"Mereka selalu mengikuti kita dalam radius sepuluh meter, Nyonya."

__ADS_1


Ingin rasanya Tara protes pada Rafael yang terlalu protektif, namun percuma karena pria itu tidak akan mentolerir apapun yang mengancam nyawanya.


__ADS_2