
Akhirnya, hari pernikahan telah tiba. Keluarga Xavier begitu sibuk dengan acara. Sedangkan Tara dan Rafael terlihat biasa saja, tidak ada ekspresi sangat bahagia. Sama-sama tahu bahwa pernikahan mereka bukan hal yang membahagiakan.
Setelah acara inti selesai. Kini Tara dan Rafael harus menghadapi para tamu dari kalangan pebisnis. Karena identitas Tara, semua orang menghargainya dan ada sebagian yang kasihan pada nasib buruknya sebab harus menikahi pria lumpuh.
Meskipun tampan dan kaya, Rafael sudah cacat. Apa yang bisa membuat bangga? Namun, meskipun begitu. Keduanya sama sekali tidak terusik. Rafael tanmpan dengan kursi rodanya sedangkan Tara cantik dengan wajah acuhnya.
Pemandangan yang membuta Nathan tertarik dan memberikan nilai plus pada kakak iparnya. Senang melihat bahwa kakaknya menikahi wanita kaku dan acuh seperti Tara. Seperti memberikan cermin pada sang kakak setiap kali berhadapan dengan Tara.
"Selamat atas pernikahan kalian, Kak. Semoga segera ada anak diantara kalian. Aku benar-benar tidak sabar melihat seperti apa penampilan keponakan masa depan ku."
Ya, Nathan penasaran dengan anak yang akan lahir dari pria arogan dan wanita se belku es di kutub Utara.
"Aku bisa mengirim mu ke Antartika jika kau terus membuat keributan."
Bukannya tersinggung atau takut. Nathan malah tertawa, membuat Tara sedikit tertarik. Dia tidak pernah tahu kalau keluarga Xavier memiliki anggota keluarga yang receh seperti Nathan.
Sebenarnya bukan tidak tahu. Hanya saja Tara memang tidak pernah berniat mencari tahu. Baginya, menjadi wanita kaya adalah fokus utama sedangkan yang lain tidak penting.
"Kakak ipar, kau sangat cantik. Apa kau tidak menyesal memiliki suami arogan seperti kakak ku?"
"Tidak, semuanya tampak baik-baik saja."
"Kau wanita pertama yang sangat jujur.
"Terima kasih atas pujiannya."
"Benar-benar perbandingan yang sangat cocok untuk kak Rafael."
Setelahnya, Tara diam. Dia masih setiap mendorong kursi roda milik pria yang telah resmi menjadi suaminya meskipun tahu kursi roda itu bisa bergerak secara otomatis.
__ADS_1
Alasannya melakukan hal tersebut agar dia tidak dibawa pergi oleh sekelompok wanita sok akrab dan suka mencari perhatian. Apalagi sejak tadi, Olivia sudah mengirimkan kode padanya agar memperkenalkannya dengan Nathan.
"Apa kau tidak merasa lelah melakukannya?"
"Tidak, ini jalan satu-satunya lari dari para penjilat."
Rafael tertawa kecil. Lagi-lagi dia mendapati bahwa Tara bangat menarik dan pintar. Tahu bahwa sekarang dia sedang menjadi pusat perhatian.
"Tapi sepertinya kakak perempuan mu sangat ingin bergabung dengan kita."
"Abaikan saja, aku tidak pernah menganggapnya ada sejak pernikahan ini di langsungkan."
"Kau benar-benar abnormal."
Tara mengabaikannya. Terserah Rafael ingin mengatakan apa padanya. Wanita es, tidak peka dan acuh. Tara baik-baik saja dengan semuanya.
Namun, ketenangan Tara segera terhenti ketika Olivia dengan sangat tidak tahu malu menghampiri mereka. Wanita itu benar-benar tidak menyerah meskipun sudah diabaikan dengan sangat jelas.
"Adik, selamat atas pernikahan mu dan tuan Rafael. Aku senang atas kebahagiaan mu." Olivia masang wajah lembutnya.
"Terima kasih."
Hanya ucapan formal. Tara tidak benar-benar berterimakasih karena tahu ucapan selamat Olivia punya maksud lain. Olivia tersenyum lembut, berpura-pura tidak berdaya namun baik Rafael dan Nathan sama sekali tidak memperhatikannya. Bahkan keduanya sibuk dengan urusan mereka sehingga Olivia jadi tidak sabar.
"Tuan Nathan. Apakah saya boleh memanggil anda dengan nama saja? Bagaimanapun kita sudah jadi ipar, dan akan terdengar akrab kalau saya bisa memanggil nama anda."
Tidak pernah dalam hidup Olivia sekalipun dirinya diabaikan. Dia kesal pada tingkah acuh Nathan dan Rafael, namun tidak bisa berkomentar banyak sebab rencananya bisa gagal total.
"Maaf, tapi aku tidak ingin akrab dengan mu, dan satu hal lagi. Tara memang sudah resmi menjadi anggota keluarga Xavier. Hanya saja, di mata kami, kalian hanya orang asing yang sudah merawat Tara. Tidak lebih ataupun kurang, jadi jangan banyak berharap."
__ADS_1
Baik Nathan dan Rafael bukan pria polos ataupun tidak bisa menebak wanita seperti Olivia. Keduanya sudah sering menghadapi jenis Olivia lainnya, sehingga tidak akan terganggu apalagi menaruh perhatian pada mereka.
Apalagi, penilaian kedua orang tua mereka membuat keduanya semakin yakin kalau Olivia bukan wanita baik-baik. Kalau tidak, mana mungkin Bella mengabaikan putri pertama keluarga Moore yang terkenal lembut dan penuh santun, malah memilih Tara. Wanita yang terkenal sangat acuh dan tidak perduli pada hidup orang lain.
"K-kenapa? Apakah Tara mengatakan hal-hal buruk tentang ku?"
Mungkin bagi sebagian pria, perkataan Olivia terdengar biasanya saja. Tapi di telinga keluarga Xavier terutama dua tuan muda, Olivia seperti sedang menjelek-jelekkan adiknya di hadapan keluarga suaminya.
"Tidak, dia bahkan tidak pernah menyinggung soal kalian. Hanya saja, penampilan mu membuat mata ku hampir buta. Make up dan pakaian yang digunakan seolah-olah kau sedang menghadiri Club tempat pria tua kaya mencari mangsanya."
Olivia tersinggung, tidak menduga kalau Nathan akan sangat keterlaluan tentang penampilannya. Memang kenapa kalau dia menggunakan hal-hal berani malam ini Toh tidak ada yang terganggu, dan niatnya sudah jelas. Ingin mengambil perhatian Tara untuknya.
"Anda salah paham, saya hanya ingin terlihat bahagia untuk adik perempuan saya yang sedang menikah."
Para tamu mulai berbisik-bisik tentang Olivia. Mereka memang sudah melihat penampilan Olivia. Namun, tidak merasa terganggu hingga Nathanbmengatakan kalau penampilannya sangat menyilaukan mata.
"Tapi para pria hidung belang akan berpikir bahwa kau sedang ingin merayu mereka dan mencari Sugar Daddy kaya."
"Tidak, saya tidak berani melakukan hal-hal seperti itu." Olivia semakin dibuat malu.
"Benarkah? Kalau begitu aku hanya akan meminta maaf karena sudah memberitahu mu tentang pendapat ku mengenai pesona mu malam ini." Ada nada ejekan dan Olivia bisa menangkapnya.
Melihat situasi putrinya tidak baik. Nyonya Moore langsung menghampiri dan menegur Tara yang sejak awal diam tanpa ada niat membantu Olivia.
"Bagaimana bisa kau membiarkan tuan Nathan salah paham tentang penampilan kakak mu?"
Nada bicaranya terdengar manis, namun Tara bisa melihat sorot mata ibunya yang penuh kebencian. Lagi-lagi, Tara harus menerima semua kesalahan yang Olivia lakukan. Hal itu membuatnya muak dan motivasi menjadi wanita sukses serta kaya semakin menguat.
"Apa dia memberikan ku kesempatan untuk membela Dia bahkan tidak meminta ku memperkenalkannya pada adik ipar ku! Jadi, kenapa aku harus menjadi korban dari kesalahan yang diperbuatnya."
__ADS_1
Suara Tara biasa saja. Namun Rafael dan Nathan bisa tahu bahwa wanita tersebut sudah sering menjadi karung tinju serta kambing hitam atas kesalahan Olivia.