
"Berikan anak itu pada ku."
Dia harus segera menyelesaikan tugasnya dan pergi menjauh atau nyawanya akan menjadi taruhannya.
"Tidak, aku tidak mau bersamanya. Dia jahat." Anak perempuan tersebut langsung menolak melepaskan pelukan pada Tara. Membuat semua orang menatap benci pada sang pengasuh.
Mereka percaya bahwa wanita muda itu pasti benar-benar kejam dan sudah melakukan hal mengerikan hingga anak kecil yang tidak berdosa tersebut takut padanya.
"Nona, anda tidak bisa mengatakan hal seperti itu tentang saya. Tuan Jasper dan nyonya Sierra pasti akan salah paham."
Kini sang pengasuh memutuskan bersikap lembut karena takut wajah aslinya di ketahui oleh Jasper.
"Tidak, aku tidak mau pergi bersamanya. Kakak, tolong bawa aku." Air matanya kembali mengalir hingga Tara ikut sedih.
"Baik, kakak akan membawa mu pulang. Apa kau tahu dimana alamat mu?"
"Ya."
"Kalau begitu, dimana supir pribadi keluarga mu?"
"Dia menyuruh paman supir pergi."
Tara benar-benar benci pada pengasuh itu. Dia bahkan lebih kejam dari ibu tiri dalam versi Tara.
"Tian, bisakah kau membawa kita ke rumah anak kecil ini?" Hal yang Tian semakin mengagumi Tara. Wanita itu selalu meminta pendapatnya dan tidak bersikap arogan pada bawahannya.
"Tentu, Nyonya. Lalu bagaimana anda ingin kami mengurus wanita itu?"
"Abaikan saja, dia tidak pada tahap kita harus membuang waktu mengurusnya."
"Sesuai keinginan anda, Nyonya."
Tara dan kelompoknya pergi meninggalkan lokasi. Penggunaan jalan yang berkeliling pun sudah membubarkan diri, meninggalkan sang pengasuh yang menatap kosong pada sosok Tara yang mulai menghilang.
Di dalam mobil, Tara mencoba mengajak anak perempuan yang sangat menarik perhatiannya. Pipinya yang chubby dengan mata berwarna coklat, ingin rasanya Tara menggigit pelan pipi lembut itu.
"Siapa nama mu?"
"Aynara George Harris, Kak. Ayah dan ibu memanggil ku Ara."
Suaranya yang lembut dan ada wangi susu di sekitarnya, membuat Tara ingin memiliki satu seperti Ara.
"Nama yang bagus, kau bisa memanggilku kakak Tara."
"Tara dan Ara, nama kita Sama."
Tian yang mendengar dan melihat betapa kompaknya kedua wanita beda usia menjadi ikut gemas. Dia bahkan tidak melewatkan kesempatan merekam untuk mengirimnya nanti pada sang tuan agar pria itu termotivasi mendapatkan anak secepat mungkin dari Tara.
__ADS_1
"Ya, nama panggilan kita hampir sama."
Perjalan cukup menyenangkan. Hingga mereka tiba di kediaman Jasper. Di sana, penjaga keamanan cukup tertarik melihat mobil mewah yang hanya kalangan tertentu bisa memilikinya.
"Paman, biarkan kakak Ara masuk." Suara menggemaskan Ara melunak ketegangan di wajah penjaga rumah. Dia segera membukakan pintu gerbang lalu mobil Tara masuk ke dalam kediaman yang sama mewahnya dengan milik suaminya.
Pengurus rumah tangga yang kebetulan mendengar kedatangan nona mudahnya langsung membuka pintu, dan dia terkejut saat melihat siapa yang mengantar.
"Nona, dimana pengasuh anda?"
"Paman, aku ingin bertemu ayah dan ibu." Wajah Ara jadi sedih kembali, membuat pengurus rumah tangga langsung paham ada sesuatu yang tidak beres.
"Baik."
"Ayo, Kak." Ajak Ara pada Tara.
"Mungkin aku harus pergi, kau bisa masuk." Tara sedikit tidak nyaman ketika berada di sekitar rumah mewah tersebut.
"Ayo, Kak. Ayah dan ibu Ara baik." Tidak tega melihat wajah sedih Ara. Tara memutuskan ikut masuk sedangkan Tian menunggu di luar.
Saat masuk, perasaan Tara semakin tidak nyaman. Dia tidak tahu kenapa hal seperti ini terjadi padanya, dan juga tidak mencoba mencari tahu lebih jauh.
Dengan patuh, dia duduk sisi Ara. Para pelayan segera memanggil tuan dan nyonya mereka.
Tidak berapa lama, Jasper yang kebetulan tidak pergi bekerja turun bersama Sierra istrinya. Sesaat, Jasper merasa Tara sangat familiar. Namun tidak tahu dimana dia pernah melihatnya. Dia bahkan merasa dekat dengan gadis muda yang duduk bersama putrinya.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis? Dan dimana pengasuh mu?" Sierra segera memeluk tubuh putrinya.
"Ara benci kakak pengasuh, dia hampir membuat Ara tertabrak mobil." Seketika Sierra dan Jasper terkejut namun tidak pada Tara yang sudah melihatnya sejak awal.
"Kurang ajar! Beraninya dia." Jasper tentu saja sangat marah.
"Tapi Ayah, Ara bertemu kakak cantik ini. Dia menyelamatkan Ara dan nama panggilan kami juga sama."
Jangan ditanya kenapa Ara bisa berbicara cukup banyak dan paham tentang kejahatan pengasuhnya.
Ara dan Tara memiliki kejeniusan yang sama meskipun masih Tara yang berada di atas.
"Terima kasih karena sudah bersedia menyelamatkan nyawa putri kami." Sierra menatap Tara, dia baru sadar kalau sosok Tara sedikit mirip dengan suaminya.
"Sama-sama, Nyonya."
"Siapa nama mu?" Kini Jasper yang bertanya.
"Atara Calsea Xavier, Tuan."
Karena sudah menikah, dan Rafael yang sangat memaksa nama keluarganya di ganti. Tara hanya bisa mengikuti kemauan pria yang sangat posesif padanya.
__ADS_1
Sejenak, Jasper merasa dunianya terhenti. Nama depan Tara adalah nama yang dulu sudah dia sebutkan untuk adik perempuan pertamanya. Bahkan dia memberikan kalung berbentuk huruf T di leher adik perempuannya.
"Kau istri tuan Rafael?" tanya Sierra yang masih belum melihat ekspresi sang suami.
"Ya, Nyonya."
"Astaga, dunia sangat sempit. Baru beberapa hari yang lalu adik ipar ku membuat masalah pada mu, dan kau malah menjadi pahlawan untuk kami. Aku benar-benar malu."
"Aku benar-benar tidak tahu kalau nona yang ada di rumah sakit itu adik ipar anda, Nyonya." Tara terkejut mengetahui hal semacam itu. Namun juga merasa kalau Sierra tidak memiliki sifat yang buruk seperti Donita.
"Ya, perkenalkan nama ku Sierra Leone Thomson. Istri putra pertama keluarga Harris." Entah kenapa Sierra jadi suka dengan Tara, yang meskipun memiliki ekspresi dingin, ajak berkomunikasi. namun mudah diajak berkomunikasi.
"Nama ku Atara Calsea, anda bisa memanggil Tara."
"Tentu."
"Bu, boleh kan kalau kakak Tara sering datang ke rumah kita?" Ara jadi menyukai Tara yang bersikap baik padanya.
"Tentu, tapi coba tanyakan apakah kakak Tara mau bertamu di rumah kita.? Ara langsung menatap penuh harap pada Tara.
"Mungkin akan cukup sulit karena aku sudah menikah. Bagaimana kalau Ara bertamu ke rumah ku?"
Mengingat suaminya yang positif dan penuh cuka. Tara tidak bisa sering pergi dari rumah.
"Apa boleh, Bu?" Tentu saja Ara bersedia. Dia cukup bosan di rumah dan ingin melihat rumah kakak cantiknya..
"Boleh, Sayang. Nanti ibu antar."
"Terima kasih, Bu." Sierra dan Tara tersenyum melihat Ara yang begitu bersemangat.
Sejak mendengar nama asli Tara. Jasper entah bagaimana kehilangan kata-kata. Dia hanya menatap Tara dalam diam, hingga wanita muda tersebut pergi meninggalkan rumahnya bersama para pengawalnya.
"Ada apa? Sepertinya sejak mendengar namanya, kau langsung diam."
Sierra yang menyadari sikap suaminya memutuskan bertanya.
"Nama itu sangat mirip dengan nama pemberian ku pada adik perempuan pertama ku."
"Benarkah? Tapi jika di lihat dengan jelas, kau dan dia cukup mirip."
"Apakah begitu?"
"Ya, jangan bilang dia adik perempuan mu."
"Entahlah, tapi ada baiknya kita mulai menyelidiki identitasnya."
"Aku setuju, lagi pula aku mulai curiga dengan alasan Donita menyinggung Tara."
__ADS_1
"Hm, sepertinya aku ketinggalan banyak informasi."