Wanita Tangguh Dan CEO Dingin

Wanita Tangguh Dan CEO Dingin
Mr. Posesif


__ADS_3

"Apa kau suka pantai?"


"Ya, kenapa kau tiba-tiba bertanya?"


Meskipun Tara masih penasaran dengan kata-kata 'cuka' dari Jack. Dia tidak berniat bertanya pada Rafael kecuali memang dirinya sudah tidak bisa mendapatkan jawabannya dari mana pun.


"Ayo pergi ke pantai. Kebetulan di kota M ada pantai, dan aku memiliki beberapa pekerjaan di sana. Kau bisa bermain di pantai saat aku bekerja.


Rafael ingin memanjakan Tara. Dia akan membuat wanita itu semakin betah bersamanya, dan tidak akan bisa berpisah atau bahkan menjauh darinya.


Dia tidak ingin David kembali merayu istrinya. Meskipun tahu bahwa Tara tidak akan semudah itu jatuh cinta, namun Rafael masih harus waspada pada saingan cintanya tersebut.


"Oke, kapan?"


Tidak apa-apa jika libur beberapa hari. Kliniknya juga memiliki Dokter lain sebagai pembantu jika sewaktu-waktu pasien banyak atau dia mengalami hal yang tidak memungkinkan untuknya datang.


"Hari ini, dan kita akan kembali besok."


"Baik, aku harus menyiapkan pakaian ku."


"Apa kau tidak izin kepada dosen mu? Rafael kembali menguji apakah istrinya akan jujur padanya atau tidak.


"Kami sedang libur semester."


Sebenarnya Tara benar, dia memang sedang libur semester, dan pekerjaan di klinik bisa digantikan oleh Dokter lain.


"Oke."


Tidak, Rafael tidak kecewa saat mendapati bahwa istrinya masih enggan jujur padanya. Dia tahu kalau Tara pasti punya alasannya tersendiri dan dia tidak bisa memaksa.


Saat Tara sedang bersiap-siap. Rafael meminta Jack menyiapkan pengawal untuk menjaga mereka saat bepergian, dan beberapa Dokter pengganti untuk klinik istrinya tanpa sepengetahuan Tara.


Dia tidak ingin klinik sang istri dipermalukan. Itu adalah hasil usaha wanitanya tersebut dan harus di jaga dengan baik.


"Tuan, nyonya sedang berada di pantai dan mengumpulkan cangkang kerang." Penjaga nomor satu melaporkan setelah beberapa menit mengikuti pergerakan Tara.


"Tuan, kami sudah membersihkan area yang di tempati nyonya." Penjaga nomor dua ikut melaporkan.


"Tuan, nyonya sedang membakar ikan dan cumi-cumi." Penjaga nomor tiga juga melaporkan setelah selesai membantu nyonya mereka membuat api untuk memanggang ikan serta cumi-cumi.

__ADS_1


"Tuan, nyonya sedang merendam kakinya di pinggir pantai." Penjaga nomor satu kembali melaporkan. Sang pengawal secara bergantian melaporkan semua


aktivitas Tara pada Rafael. Pria itu memang meminta mereka mengawasi istrinva lalu memberitahunya.


"Apa ada pria yang berani melihat ke arah istri ku?" Tentu saja ada dan mereka sangat banyak. Ingin rasanya para pengawal yang mengawal Tara melaporkan hal tersebut pada Rafael. Namun mereka masih mencintai nyawa mereka sehingga tidak berani melaporkannya.


Bagaimana tidak mencuri perhatian, nyonya mereka sangat cantik. Begitu polos dan murni, tawanya bahkan membuat siapapun yang mendengar terhipnotis.


Mereka benar-benar iri pada Rafael yang bisa memiliki istri sebaik Tara. Seolah-olah Tuhan memang sengaja membuat keduanya menjadi sepasang kekasih.


"Tidak, Tuan. Kami sudah membersihkan area nyonya."


"Baiklah, kalian bisa kembali. Minta staf hotel untuk menyiapkan makan malam di balkon kamar kami." Kebetulan hotel tempat Tara dan Rafael menginap menghadap ke pantai sehingga pemandangan malam pasti akan sangat indah. Rafael tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memanjakan istrinya.


"Baik, Tuan."


Setelah para pengawal pergi. Rafael meminta Jack yang setia berdiri di sisinya untuk mengantarnya ke pantai.


Dia berniat menjemput sang istri. Tentu saja kursi roda Rafael tidak bisa jalan di atas pasir. Namun itu tidak akan membuatnya kehilangan semangat untuk bertemu istrinya yang sudah bermain di pantai selama setengah hari.


Ketika mencapai pantai, Rafael mengubah kursi rodanya menjadi robot. Itu sangat canggih hingga semua yang melihat perubahan kursi menjadi robot seperti di filim Transformers yang mereka lihat kini dapat mereka saksikan di dunia nyata.


"Apa kau sudah selesai?"


"Ya. Apa ini robot ciptaan mu?"


Rafael dapat melihat kekaguman di mata Tara. Dan itu membuatnya senang. Meskipun terlihat jelas bahwa pesonanya masih kalah dari robot ciptaannya.


"Hm, hanya ada satu di dunia


"Kau sangat hebat! Aku benar-benar kagum dengan mu."


Ya, puji aku seperti itu, Sayang. Munafik kalau Rafael tidak senang ketika di puji oleh istrinya, wanita asing yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Aku hanya bisa mengandalkan otak ku setelah kehilangan kemampuan berjalan."


Melihat kesedihan sang suami, Tara jadi merasa bersalah karena tidak bisa membantunya meskipun sebenarnya dia mampu.


Alasannya masih enggan jujur dengan pekerjaannya dan kejeniusan otaknya. Tara belum sepenuhnya percaya pada Rafael. Bagaimanapun mereka baru menikah dan belum banyak berinteraksi.

__ADS_1


"Kau pasti akan sembuh." Mungkin jika dia bisa sepenuhnya percaya, dia tidak keberatan membantu suaminya berjalan kembali.


"Hm. Ayo kita pulang."


"Baik."


Tara yang sedang mengumpulkan cangkang kerang membawa hasil buruannya yang masukan ke selendang pantainya.


"Dimana sepatu mu?"


Melihat kaki mulus dan lucu istrinya tanpa alas kaki. Rafael jadi kesal, dia tidak mau orang lain melihat kaki mulus Tara-nya bahkan hanya sepasang kaki pun.


Kini Mr posesif semakin serakah. Dia tidak mau tubuh istrinya di nikmati oleh pria lain selain dirinya.


"Astaga, aku lupa. Biar aku mencarinya sebentar."


Karena terlalu asik mencari kerang, melakukan banyak kegiatan di pantai. Tara melupakan sepatunya yang dia lepas sebelum berjalan-jalan di bibir pantai.


"Biarkan saja, ayo duduk di pangkuan ku."


Kini robot yang membawa Rafael merendahkan posisinya agar Tara mudah naik. Tentu saja Rafael sengaja melakukannya karena tidak ingin mengundang lebih banyak lagi saingan cinta.


"Tidak perlu, aku bisa berjalan. Kau pasti tidak akan nyaman. Lagi pula aku sudah sering berjalan tanpa alas kaki di masa lalu." Mengingat hidupnya yang cukup sulit di masa lalu, Tara merasa baik-baik saja tanpa alas kaki.


"Tapi aku tidak! Orang-orang akan menganggap aku dingin pada istri ku."


"Mereka tidak akan tahu."


"Naik lah, aku tidak merasa kesulitan."


Karena perkataan Rafael sulit di bantah. Tara akhirnya naik ke pangkuan pria tersebut dan perjalan menjadi hening.


Tara yang gugup ketika di lihat banyak orang tiba-tiba


menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Wangi tubuh pria tersebut sangat menyenangkan hingga Tara lupa kalau pernikahan mereka tidak di dasari cinta melainkan perjodohan dan surat perjanjian.


Tentu saja Rafael tidak akan melewatkan kesempatan dipeluk oleh istrinya meskipun tidak sengaja atau suka rela. Dia senang karena wajah kecil itu memilih bersembunyi di dadanya.


Jack yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela nafas. Tidak lupa mengabadikan momen tersebut di ponselnya untuk diberikan kepada Bella.

__ADS_1


Memang, Bella sering meminta Jack merekambdiam-diam interaksi putra dan menantunya pada Jack. Dia tahu bahwa putranya pasti sulit menerima wanita yang tiba-tiba menjadi istrinya tanpa proses pendekatan panjang.


Namun, setelah melihat beberapa momen romantis keduanya. Kini Bella bisa bernafas lega, bahkan mulai menyombongkan diri di depan AI kalau sebentar lagi mereka akan menjadi kakek dan nenek. Hal yang sudah lama ia impikan.


__ADS_2