
(Gambar : Digo Adlrick)
- The Last Hero of the Century -
[PROLOG]
"Ran, lo ibarat power ranger, tau nggak kenapa?"
"Bodo amat."
"Ya udah kalau ga mau tau."
"Iya iya, kenapa?"
"Ogah ah, udah males."
"Sejak kapan Digo suka ngambek gini??"
"Sejak kerajaan api mulai menyerang."
"Basi."
"Eh, btw, gue serius lho soal pertemuan terakhir kita."
"Maksud lo Dig?"
Cowok dipanggil Digo itu tersenyum. "Gue nggak tau sampai kapan bisa dapat donor organ, Ran. Setiap pertemuan mungkin saja akan jadi yang terakhir kan?"
Ran, cewek itu langsung memeluk Digo dengan perasaan takut luar biasa takut. "Gue nggak bakal kehilangan lo Dig. Semua bakal baik-baik saja. Jadi lo jangan pernah ngomong kayak gitu lagi ya, hmm?" Air mata Ran perlahan menetes.
Please Digo, gue nggak akan sanggup kehilangan lo...
~o0O0o~
Ran membuka mata...
Dirinya kini tengah berbaring di kasur kamarnya dan alarm tidurnya tengah berteriak sedari tadi. Ia bangun dan mendapati air mata di kedua sudut matanya.
"Barusan mimpi apaan sih?" gumamnya bicara sendiri.
Aneh banget, siapa cowok yang gue peluk? Dan kenapa gue nangisin dia?
Seraya mematikan alarm, Ran meraih ponselnya yang ter-charger semalaman di nakas. Ya, ia tau mengisi daya ponsel semalaman akan membuat batre ponsel jadi bocor. Tapi Ran juga tak mau ketika bangun pagi batre ponselnya dalam keadaan kosong dan berangkat ke kampus dengan daya ponsel sekarat sehingga seharian harus bepergian dengan ponsel yang tersambung powerbank. Ribet.
Hanya butuh 20 menit bagi Ran untuk bersiap-siap. 15 menit mandi dan 5 menit pakai baju dan nyisir rambut. Kalau keluar rumah, Ran hanya suka mengoleskan sunscreen di wajahnya dan lip balm di bibirnya, itu saja. Ran paling nggak suka ribet, dan memakai make up itu ribet.
__ADS_1
Janji dengan Somi siang ini ketemuan di kampus. Ran melirik jamnya, masih pukul 10 pagi, mungkin ia bisa menunggu Somi di kantin atau di perpus.
Ran mengunci rumahnya dan menaiki vespa kuningnya. Menuju kampus yang tak terlalu jauh dari rumahnya.
Sesampainya di koridor kampus, perhatiannya tertarik pada mading-mading yang terjejer di dinding koridor itu.
Selama 15 menit gadis yang hobi membaca itu menghabiskan waktu meng-explore seluruh konten mading itu.
"Dek, lo mau join di White Hero ngga?"
Wajah Ran spontan menoleh ketika seseorang tiba-tiba berbisik di telinganya. Keningnya berkerut seraya bergerak mundur karena merasa jarak dirinya dengan lelaki itu terlalu dekat. "Maaf?" Ran balas bertanya.
Lelaki itu tersenyum misterius. "Lo ... mau gabung white hero?"
"White hero itu apa?"
"Organisasi rahasia kampus ini...."
"Organisasi rahasia?" Ran tak percaya mendengarnya.
"Iya, kalau lo mau gabung, hari minggu sore datang ke alamat ini...." Cowok itu menyerahkan selembar kertas kecil pada Ran. Isinya sebuah alamat.
Coffee Poirot, Jln. Pusaka Bangsa.
Belum sempat Ran bertanya lagi, segerombolan dosen dengan beberapa warga negara asing melintas membelah mereka, sepertinya bule-bule dari Australia atau Kanada. Begitu rombongan itu berlalu, Ran baru menyadari bahwa lelaki tadi menghilang.
Semalam mimpi aneh, dan sekarang....
Apa gue tidak sedang berhalusinasi?
~o0O0o~
Cowok itu membuka mata... Sebuah guyuran air membuatnya tersadar.
Kini ia mendapati dirinya yang tengah duduk di atas bangku dengan tangan terikat.
Di depannya sudah terbaring seorang gadis yang tengah sekarat dengan luka tembakan di dada kirinya. Darah ada dimana-mana, cowok itu hanya bisa meneriakkan nama dari gadisnya.
"Raan, please...."
Cowok itu terbangun, lagi. Kini dengan posisi terbaring di tempat tidur.
Apa yang tadi itu mimpi, atau sekarang masih mimpi?
Cowok itu mengelap keringatnya, ia bangun dan membuka tirai jendela kamarnya. Mimpi itu terus berulang selama sebulan belakangan.
Kenapaa?
__ADS_1
Ia bahkan ngga kenal cewek itu, tapi anehnya di mimpi ia mengenal dan meneriakkan namanya.
Cowok itu bangkit dari ranjangnya. Matahari sudah di ufuk barat, sebentar lagi ia harus ke basecamp White Hero, organisasi ilegal yang sudah ia masuki selama tiga tahun belakangan lebih sering mengadakan rapat akhir-akhir ini.
Ilegal bukan berarti negatif. White Hero justru melakukan tugas mulia, atau mungkin sebaliknya. Entahlah, toh selama ini ia bisa melakukan apa yang ia suka dalam organisaai itu
Mandi shower adalah hal yang paling nikmat dilakukan setelah mandi keringat habis tidur. Buliran air itu mengalir membasahi dada bidang dan perut berototnya. Akan membuat gadis manapun ngiler roti sobek.
Mimpi yang ia alami tak hanya mempengaruhi alam bawah sadarnya tapi juga ingatannya.
Lucunya, setiap bangun tidur, ia selalu lupa wajah dan nama gadis yang ia sebut dalam mimpinya. Ataukah ini karena gadis yang sekarat dalam mimpinya berbeda-beda?
Cowok itu tak ingin ambil pusing. Toh, hanyalah mimpi. Siapa tau ia sedang ketempelan hantu perempuan, terserah ... ia tak takut hantu.
Ia lebih takut menghadapi ambisinya sendiri ketimbang hantu, apalagi hantunya petempuan. konyol sekali.
Rumah saat itu sedang kosong, sebenarnya memang selalu kosong. Ia tinggal sendiri di Depok ini. Sesekali adiknya datang menjenguk dari Bandung. Ini adalah rumah masa kecilnya, ketika sekolah dasar ia sekeluarga pindah ke Bandung. Karena kuliah di Jakarta maka ia pun sejak tiga bulan yang lalu menempati rumah besar ini sendirian.
Ya ... barangkali mimpi itu karena hantu cantik di rumah ini yang mencoba berkenalan.
~o0O0o~
"Digo, dari mana aja lo? Pasti habis molor lagi. Lu sehari tidurnya bisa berapa jam sih? Kali aja 16 jam..."
"Paansi. Gaje lo, nying." Digo, cowok yang sudah sampai di basecampnya itu sedang tidak ingin ribet meladeni Bara, si usil yang untung ganteng.
"Sensi amat, nyet, berasa ngadepin cewek pms," manyun Bara.
"Bang Zu mana?" Digo duduk di sofa favoritnya, depan tv.
"Au ah..." Bara pura-pura ngambek, tapi ia kemudian jadi teringat sesuatu. "Dig, gue kemarin denger rumor soal lo di fakultas, lo ada hubungan sama seorang cewek. Serius? Siapa?"
Kening Digo mengerut heran. "Loh, kok bisa? Gue ngerasa ngga ada tuh." Wajahnya sudah santai lagi.
"Hm... gue tau orang yang ngga berpengalaman kayak lo ini mana sanggup jalin hubungan sama cewek, yang ada tuh cewek kali yang ngeklaim pacaran sama lo."
Digo sedikit bete mendengar kalimat awal Bara. Ia memang belum pernah jalin hubungan serius dengan seseorang. Tapi bukan berarti Digo ngga bisa naklukin cewek.Wajah tampan Digo melebihi ekspektasi kalian, kalau ia mau, ia bisa memacari cewek manapun.
Tapi, baginya cewek itu nyusahin, dan untuk sekarang Digo masih belum ingin memikirkan untuk menjalin hubungan.
"Gue penasaran kali ini lo dirumorkan sama siapa," tukas Bara.
Hmm... gue juga, batin Digo.
~o0O0o~
Halo, ini hari pertama gw gabung noveltoon
__ADS_1
Happy reading....
Ayo vote dan comments yak!