
Episode 5
~Tinta Khusus~
Ran sontak memperhatikan cowok itu dari atas sampai bawah. Ia mengenakan sweater warna abu-abu, celana jeans gantung dan sneaker putih. Digo menyurai ramburnya ke belakang begitu masuk cafe, menampilkan rambut mode bad boy-nya dengan earphone yang ikut diturunkan dan digantung di leher.
"E-elo..." Ran reflek menunjuk Digo. Auto heran kenapa Digo kebetulan sekali ada di sini.
Yang ditatap pun menatap balik dengan wajah sama herannya. Ran jadi bisa melihat plester di dahi Digo, pasti itu sisa luka waktu itu.
"Ngapain lo di sini?" sembur Ran langsung. Benar kan, kalau sudah ketemu Digo, Ran yang anaknya santuy jadi nggak bisa santuy. Auto ngegas aja bawaannya. Padahal sekali lagi, Ran bukan tipe orang yang mudah menunjukan emosinya.
"Harusnya gue yang nanya gitu," balas Digo berhenti di dekat meja mereka. "Gue emang sering nongki di sini. Elo sendiri?"
"Ehem..." Ran kini merutuki dirinya kenapa langsung nanya judes gitu tadi, dirinya jadi salah tingkah. "Gu-gue ada janjian sama seseorang."
"Oh..." Hanya dengan lenguhan itu Digo berlalu pergi dan menaiki tangga cafe menuju lantai atas.
Baik Ran maupun Somi sama-sama melongo, cengo. "*****, baru kali ini gue dikacangin sama cowok." Ran menyurai rambutnya menahan emosi.
"Ja-jadi, yang tadi itu Digo?" tanya Somi yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban. Ia sempat stalker instagramnya Digo beberapa hari yang lalu, jadi dirinya sudah tau wajah Digo seperti apa. "Ternyata tuh cowok lebih ganteng jika dilihat dari dunia nyata dibanding dunia maya."
"*****, kok gue makin kesal ya. Kalau dipikir-pikir, gue berasa ditolak, padahal gue nggak nembak." Ran masih berusaha mengatasi emosinya. "Atau gue pernah menampakkan kelemahan gue sehingga dia sebegitu sombongnya nyuekin gitu? Demi apa kalau tau gini mending waktu itu nggak usah gue tawarin dia ke rumah dan mau ngobatin segala. Mending langsung gue buang aja di jalanan."
"Wes wess Raan, santai atuuh, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan...." Somi menuntun Ran melakukan rileksasi.
"Herannya, kok gue mudah terpancing gini ya? Lo kenal gue kan Mi, gue orangnya gimana. Yang sepele ginian nggak bakal bikin gue seemosi ini." Ran kini sudah cukup tenang.
"Mungkin karena selama ini lo belum pernah ketemu sama cowok kayak Digo. Mungkin." Somi menekankan kata 'mungkin' agar terkesan nggak sok tau soal kehidupan Ran. Bagaimanapun Ia dan Ran baru sahabatan 1 tahun, meski begitu keduanya sudah sangat dekat bak saudari kandung.
"Yaah, lo bener sih, cowok-cowok yang gue kenal lebih sopan dan baikin gue semua."
Pintu cafe berdering. Baik Ran dan Somi sama-sama sedang tidak berselera melihat ke arah pintu. Taunya yang datang adalah Aiden dan teman barunya.
"Hey gurl, whats up? Kok muka kalian kecut gitu?"
"Gara-gara nunggu lo, kelamaan!" omel Somi.
__ADS_1
"Hyaa maaf gaiss, ada rapat..."
"Ya ya ya, tanpa lo bilang kita udah nebak kok." Somi bahkan tak mau memandang Aiden dan teman di sebelahnya.
"Jangan gitu dong, ga segan apa sama temen gue..." Aiden mengedipkan matanya membujuk rayu.
Kalau bukan karena tata krama, Ran dan Somi tak akan menyalami teman yang mau dikenali Aiden itu.
"Hai..." sapa Somi. Sementara Ran hanya tersenyum datar.
"Hallo, kenalin gue Zidan." Cowok itu mengulurkan tangannya pertama kali pada Ran.
"Ran," ujar Ran memperkenalkan diri begitu simple seraya menjabat salaman Zidan.
"Hallo, gue Somi." Gantian Somi menyalami ketika Zidan mengulurkan tangan.
"Jadi, ini teman yang mau lo kenalin." Somi mendadak exicted. Moodnya 180 derjat berubah dari yang tadinya bete pada Aiden kini jadi semangat meladeni Zidan.
"Hahaha, iya nih, gue sering cerita soal kalian ke dia. Makanya dia juga pengen jadi teman kalian."
"Jadi, si Aiden cerita soal apa aja, Zidan?" tanya Somi melirik Aiden seolah bilang 'awas lo cerita yang nggak-nggak soal kami'.
"Hahaha, hal-hal umum sih. Misalnya soal Ran yang kalau tidur suka nggak sikat gigi dulu kalau udah kecapean, atau Somi yang kalau telat berangkat sekolah/kampus suka nggak mandi dan cuma cuci muka dan sikat gigi," cengir Zidan jail.
Mata Ran dan Somi langsung membulat dan membesar. Keduanya melotot ke Aiden dengan wajah panik sekaligus malu.
"Lo cerita yang jelek gituan ke Zidan?!!" teriak Somi tak peduli orang yang melihat.
"Gila jaad banget lo Den..." Ran menggeleng-geleng memasang wajah kecewa. Padahal sebenarnya ia biasa saja, bodo amat sih kalau Zidan tau soal kekonyolan dirinya.
Toh Ran punya firasat Zidan akan menjadi bagian dari tongkrongannya selama ia jadi mahasiswa ini.
"Wanjaay Zidaaan kenapa elo nyebut itu sekarang siiihh...." Aiden auto, ketahuan bocorin kekonyolan temen-temennya.
"Hahahaha, sorry-sorry, habisnya cerita Aiden lucu banget sih, gue baru tau ada ya cewek-cewek cantik kayak kalian tapi juga punya kebiasaan konyol," tawa Zidan menunjukan salam dua jari, artinya 'peace'.
"Kita udah biasa dibilang cantik. Jadi gombalan lo barusan nggak ngaruh," ngambek Somi. Sebenarnya ia juga punya firasat Zidan akan jadi orang tambahan di hidupnya dan akan akrab dengannya, yah semoga saja.
Obrolan mereka pun berlanjut. Ternyata obrolan mereka dengan Zidan cukup nyambung dan seru. Zidan orangnya juga kocak. Sekedar info, Zidan satu jurusan dengan Aiden, yaitu jurusan Perminyakan. (Tapi, masih penasarankan Digo jurusan apa? Wkwk *author)
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul setengah lima sore. Ran mematut dirinya di depan kaca wastafel cafe itu. Ia baru saja selesai membuang hajatnya. Habisnya, ia terlalu banyak minum selagi mengobrol. Begitu ia mengeluarkan lip balm dari pouch kecilnya suatu kertas ikut keluar dan jatuh.
Kertas kecil itu malah jatuh ke dalam wastafel, basah dah tu kertas. Tapi anehnya suatu tulisan tersembunyi muncul ketika kertas itu basah.
Ran cepat-cepat mengangkat kertas itu dan membaca isinya dengan takjub. "Gilaa, gue baru ingat!! Ini kan kertas yang dikasih sama orang yang nawarin masuk organisasi pas dua minggu lalu." Ran pun baru ingat ini hari minggu dan kebetulan banget dirinya lagi di coffee poirot sore-sore gini.
Ran pun memperhatikan tulisan baru yang muncul ketika kertas itu basah secara keseluruhan. Tulisan "coffee poirot jln pusaka bangsa" pun digantikan oleh tulisan baru....
Poirot melempar bola tiga kali
Poirot gagal untuk yang ke empat
Kuncinya ada pada singa dan ular
Follow the light
"*****, pesan apaan nih??" Dahi Ran berkerut. "Aneh banget."
Ran menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin cowok waktu itu cuma iseng.
Ran kembali ke kursi tempat yang lainnya, mereka hendak beranjak untuk pergi dari cafe itu. Setelah membayar, Aiden yang traktir, mereka pun berjalan keluar cafe.
Ran berjalan paling belakang dibanding yang lainnya. Dirinya menoleh ke arah tangga, tangga yang dinaiki Digo tadi, menurut sepengetahuannya Digo belum turun selama ia duduk mengobrol dengan Aiden Somi dan Zidan.
Entah mengapa kaki Ran terasa berat meninggalkan cafe itu. Hati dan otaknya penasaran akan petunjuk aneh temuannya tadi.
"Ran, buruaan, katanya sebelum nonton kita mau cuci mata di mall dulu," seru Somi dari luar pada Ran yang sosoknya masih berada di dalam cafe.
Ran akhirnya mengikuti teman-temannya. Ia melangkah keluar pintu cafe dengan perasaan mengganjal.
Pesan itu terus terngiang di benaknya.
Poirot melempar bola tiga kali
Poirot gagal untuk yang ke empat
Kuncinya ada pada singa dan ular
Follow the light
__ADS_1
________________________