
Episode 4
~Coffee Poirot~
"Sumvah? Demi apa dia langsung ngilang gitu aja pas lo mau ngobatin?" Somi benar-benar heran kenapa Ran dan Digo bisa bertemu untuk yang ke dua kalinya dengan cara seperti itu.
"Iya, tuh cowok kayaknya tipe orang yang banyak banget masalahnya." tukas Ran menyurai rambutnya ke belakang, sore ini begitu panas. "Gue rasa, yang kemarin gue sempat lihat orang di keroyok itu adalah dia," tambahnya. "Nggak tau juga gue kenapa tuh cowok bisa pindah-pindah tempat untuk di keroyok."
Keduanya sedang berada di kantin fakultas. Sekedar info, Ran adalah mahasiswi hubungan internasional dan Somi jurusan ilmu komunikasi.
"Gue jadi penasaran, Digo jurusan apa dan anak fakultas mana ya?" Somi menyedot limunnya.
"Au ah, gue harap gue dan dia emang beneran nggak bertemu lagi, sesuai keinginannya."
"Jangan gitu dong. Kalau ada pertemuan ke dua, biasanya ada yang ketiga," bujuk Somi.
"Gue males ketemu cowok keras kepala lagi kayak dia."
"Tapi, lu tumben Ran, jarang-jarang lo nawarin bantuan kayak gitu ke cowok. Sayang aja si Digo nolak pengobatan dari lo. Takut deg deg kan pas lo obatin kali ya... Hahahahah." Somi menyenggol lengan Ran sambil tertawa receh.
"H a h a h a...." Ran nyengir krik krik. "Eh, Aiden datang noh."
Seorang cowok jangkung datang dari jauh dan menghampiri mereka. Ia duduk di bangku hadapan Ran.
"Lo lama amat dah, di chat bilangnya otw otw, masa otw-nya 1 jam dari fakultas lo ke sini," semprot Somi pura-pura ngambek.
"Hahahaha, ululululuuu, marah ni yee...." goda Aiden.
"Basi."
"Sorry gurl, tadi rapatnya nggak selesai-selesai."
"Loh, rapat apaan Den? Dua bulan jadi mahasiswa baru kok udah bisa ikut kepanitiaan aja?" tanya Ran.
"Sebenarnya belum boleh sih, tapi karena gue diminta bantu ngekoordinir seluruh angkatan gue buat festival bulan November nanti makanya gue diajak ikut rapat," jelas Aiden menyeruput jus Alpukat yang hampir berair, teman-temannya itu sudah duluan memesan minuman untuk Aiden, mengira cowok itu benar-benar langsung on the way.
__ADS_1
"Ciee ... ketua angkatan nih ceritanya," decak Ran.
"Hahaha ... Ah ya, mumpung inget, lo ada hubungan apa sama Digo, Ran?" Aiden menatap Ran penasaran.
"****, lo kok ikut-ikutan percaya rumor itu sih Den?" cengir Ran menggeleng-geleng.
"Makanya gue mau klarifikasi ke elonya langsung. Anak-anak di fakultas gue pada heboh aja gitu, rumor soal lo dan Digo pacaran."
"Sumvaah demi apa lo? Rumor itu beredar sampai fakultas lo juga??" teriak Somi nyaring. Untung kantin luas itu ngga terlalu banyak orang.
"Gila, kenapa gue bisa kena rumor itu sih? Lagian siapa sih Digo itu? Emang dia berpengaruh banget ya? Sampai-sampai orang-orang di kampus ini pada heboh banget," ceracau Ran. "Lo tau, beberapa hari yang lalu senior-senior manggil gue lagi dan nanyain hal yang sama. Heran deh gue."
"Lo nggak tau Digo siapa Ran?" Aiden menatap Ran tak percaya.
"Siapa Digo?" tanya Ran dan Somi kompak, tumben.
"Digo adalah mahasiswa baru yang bulan lalu mengungkap kasus suap salah seorang dosen di fakultas kami. Yang bikin heticnya, baru 1 bulan menjadi mahasiswa, Digo berhasil menjadi mahasiswa teladan dan mendapat penghargaan dari universitas dan ristekdikti."
"Daeebaakk!!" Somi menutup mulutnya. "Ja-jadi yang gue lihat di tv waktu itu ternyata Digo yang lagi diwawancara sama reporter."
"Hmm... masa sih," gumam Ran tak percaya, iya, nggak percaya ada maba sehebat itu. Biasanya, mahasiswa baru pada umumnya akan bersikap biasa-biasa aja dan nurut biar nggak dapat masalah.
"Tapi kenapa malah gue yang dibilang punya hubungan sama dia?" protes Ran.
"Ran... Lo harusnya bersyukur bisa dirumorkan sama cowok keren kayak Digo..." celetuk Somi.
"Lo aja belum pernah ketemu Digo, dari mana lo tau dia keren dan sehebat itu dah..." Ran menopang dagu dengan tangannya.
"Pokoknya, berarti rumor itu salah ya Ran?" tanya Aiden.
"Ya salah lah, gue dan dia aja baru kenal minggu ini."
"Syukurlah kalau gitu," senyum Aiden, aneh.
"Kenapa emang Den?" Somi auto curiga. Matanya menyipit sekaligus menyelidik.
"Ahahaha, enggak," ujar Aiden menggeleng. "Oh iya, temen gue ada yang mau kenalan sama kalian berdua. Kebetulan dia temen dekat gue di jurusan."
__ADS_1
"Siapa?"
"Ada deh, kalian mau nggak?"
Ran dan Somi saling menatap. "Awas kalau tuh cowok kegatelan."
"Enggak kok, gue jamin. Kalau ntar dia macam-macam lapor aja ke gue," cengir Aiden dengan wajah santai.
"Ya udah, kapan meet up nya?" tanya Somi.
"Besok kalian ada waktu nggak?"
"Nggak bisa, gue ada janji sama profesor Santoso, bantu dia bikin makalah." Ran meminum Caramel Machiattonya. Ya, Ran salah satu pecinta kopi dan juga penikmat senja.
~o0O0o~
"Mana sih si Aiden. Katanya dari tadi di chat udah otw," gerutu Somi menopang dagunya dengan tangan, bete.
Saat ini Ran dan Somi sedang berada di Coffee Poirot, cafe tempat mereka akan dikenalkan dengan teman yang Aiden bilang beberapa hari yang lalu.
Sudah 30 menit mereka menunggu dengan kegabutan.
"Lo kayak nggak kenal Aiden aja Som, padahal udah 5 tahun temenan. Gue yang baru kenal dia satu tahun udah hafal banget sifatnya yang satu itu. Hobi banget ngaret," timpal Ran menggeser-geser ke atas jempolnya pada layar Iphonenya, gabut.
"Entah mengapa tiap dia ngaret, Aiden selalu bisa kasih alasan logis yang ujung-ujungnya bisa kita maklumi."
"Udaah, positif thinking aja, palingan dia habis rapat," ujar Ran kini meletakan Iphone, bosan juga lama-lama.
Matanya beralih untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Ini pertama kalinya ia ke coffee poirot. Arsitektur dan desain interior cafe ini terbilang cukup unik dan ala-ala vintage dengan pajangan-pajangan klasik di beberapa bagian dinding cafe. Bahkan barang-barang lama seperti radio tua, piringan musik dan pemutarnya pun juga dipamerkan di sudut ruangan.
Aiden bilang, temannya itu yang menyarankan tempat ini untuk ketemuan. Seleranya bagus juga.
Setiap ada orang yang membuka pintu cafe pasti lonceng kecil yang digantung dekat pintu akan berbunyi, menandakan ada yang masuk atau keluar cafe.
Lonceng kecil berbunyi. Ran dan Somi sama-sama menoleh ke arah pintu, kali ini berharap Aiden dan temannya datang.
Namun yang muncul justru adalah orang yang baru saja mereka omongi. Ya, cowok yang dirumorkan punya hubungan dengan Ran itulah yang muncul di pintu cafe.
__ADS_1
___________________