
"Lo nggak ingat? Gue Digo..."
Mata Ran semakin membesar. "Digo??"
Ah ya benar, cowok ini emang Digo. "E-elo kok bisa babak belur gini??" pekik Ran syok, darah yang ngalir di dahi Digo emang nyeremin banget.
"Nanti gue jelasin, lo bantu gue kabur dari sini ya, ada kelompok geng yang lagi ngejar-ngejar gue."
"Apa? Geng mana? Ma-maksud gue ... kok bisa??" Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya saat ini.
"Gak ada waktu Ran, kita harus pergi dari sini secepatnya, gue masih mau hidup." Keadaan Digo terlihat sangat terdesak.
"Ya-ya udah, e-elo naik." Ran menghidupkan motornya dengan gugup, masih dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Digo, cowok itu awalnya berpikir biar ia yang bawa motor dan cewek ini yang dibonceng karena dirinya mau ngebut supaya bisa kabur dari daerah ini secepatnya.
"Gue aja yang bawa motornya..." ujar Digo.
"Naik aja buruan, katanya masih mau hidup." Nada Ran terdengar datar.
"Lo yakin?" Digo memastikan.
Ia pikir, sepertinya nih cewek tipe-tipe orang gila yang jago ngebut. Lihat aja mode dan selera vespanya.
"Lo naik, atau lo gue tinggal."
Ancaman Ran membuat Digo tanpa mikir lagi naik ke boncengan belakang Ran.
Segera, sebuah kelompok geng dengan motornya muncul dari kejauhan dengan suara gas motor dan knalpot yang ribut.
"Ran, buruan, kalau nggak kita berdua bisa mati." Digo menepuk-nepuk bahu Ran.
"Me-mereka ma-mau ngejar kita??" Mata Ran melotot lagi, tak percaya.
"Iya, buruan, gas sekarang atau 5 detik lagi lo gabisa lihat senja lagi."
Hee ... Masih sempat-sempatnya puitis pake kata-kata senja, nih cowok apaan dah... pikir Ran aneh.
"Oke, pegangan!!" Ran berteriak mantap, ia membunyi-bunyikan gasnya beberapa saat seraya menaikkan gigi vespanya.
Saat ini Digo bingung, mau pegangan atau nggak, karena sejujurnya ia sedikit kurang yakin nih cewek yang cuma ia kenal nama akan bisa ngebut untuk kabur dari geng premanisme yang kini hanya 50 meter di belakangnya.
__ADS_1
Ran memutar gas kuat. Digo pasti akan terjungkang ke belakang jikalau tangannya tidak meraih bahu Ran dan memegangnya erat.
Gila, untung gue nggak pegang pinggangnya.... batin Digo bersyukur.
Ran, cewek itu ngebut dengan gila. Bahkan Digo merasa sedang berada di film-film action, betapa kencang dan lajunya vespa Ran.
Nih cewek asliii gilaaa..... batin Digo.
Ran berbelok-belok dari gang ke gang. Kemudian masuk ke jalan raya besar dan menyelip-nyelip satu persatu motor-mobil di depannya. Cewek ini bahkan pintar memilih jalan dan persimpangan yang tidak ada patroli polisinya.
Perlahan, geng bermotor yang mengejar sudah mulai tertinggal jauh dan tak tampak lagi. Vespa Ran kemudian memelan.
Cewek itu memberhentikan vespanya di dekat taman sebuah kompleks perumahan. Itu kompleks perumahan dirinya.
"Kita aman," kata Ran begitu simple dan santai.
Digo turun dari vespa dengan lutut kaku. Masih syok habis berjumpa dengan cewek gila seperti Ran.
Digo sontak bertepuk kagum. "Gilaa lo, asli!!" Ia bahkan masih bisa nyengir dengan wajah berdarah yang sudah mengering kena terpaan udara kencang tadi. Namun sedikit darah segar masih mengalir dari dahinya.
"Luka lo ... masih berdarah gitu." Ran tak mempedulikan omongan Digo tadi.Matanya menyapu seluruh wajah cowok itu, kemudian menolehkan dagu Digo ke kanan-kiri untuk melihat dan memastikan tidak ada pendarahan di bagian lainnya.
Digo? Cowok itu makin heran. Ran bukan cewek biasa. Dia masih bisa sesantai ini.
"Ini mah udah biasa." Cowok itu menyentuh dahi lukanya, menyadari masih ada darah keluar dan menempel di jari jemarinya.
"Mereka itu siapa sih? Kenapa lo dikeroyok sama preman? Lo habis ngapain emang?" tanya Ran bertubi-tubi.
Digo, cowok itu hanya menghembus nafas panjang, ia tidak berniat untuk menjelaskan alasan ia dikeroyok dan dikejar-kejar oleh geng premanisme itu. Pasalnya, yang ia lakukan harus tetap rahasia termasuk Ran tidak boleh tau.
"Biasa, gue nantangin mereka satu lawan satu, eh ... pas lawan gue itu bonyok malah bawa satu geng, hahaha cemen banget. Untung gue yang keren ini berhasil kabur," cengir Digo santai.
Mata Ran menyipit karena gusar. "Udah babak belur begini lo masih aja bisa bercanda ya Dig, lo tau, lo bisa aja lebih parah dari ini."
Digo terdiam sebentar. Cewek yang di hadapannya ini ternyata bukan tipikal orang yang mudah dibecandain. Digo pun hanya bisa balas tersenyum. "Btw, thanks udah nyelametin nyawa gue. Kalau nggak ada lo, mungkin gue udah berakhir di kabar berita jadi korban mati dikeroyok."
"Syukur kalau masuk berita, kalau nggak kasihan banget," celetuk Ran. "Udahlah, ntar aja ngomong soal preman-preman itu, kita mesti obatin luka lo dulu." Lagi, Ran tak mempedulikan ucapan Digo.
Cewek itu terlalu khawatir untuk sekedar mendengarkan cerita Digo.
"Eh?"
__ADS_1
"Rumah gue deket sini, di rumah gue bisa ngobatin lo."
"Wait, what?"
"Ayo naik lagi!" Ran menarik lengan Digo ke arah belakang, mengode untuk kembali duduk di boncengan.
For the first time, selain ibunya, Ran menjadi cewek pertama yang tak bisa Digo tolak ketika diperintah.
Digo naik, kali ini dengan pikiran bingung. Bisa-bisanya nih cewek semaunya ngatur-ngatur. Ya ... meskipun itu demi kebaikan dirinya juga.
Tak jauh dari taman komplek, Vespa Ran berhenti di depan sebuah rumah terbilang besar bergaya minimalis. Bangunannya warna paduan krem dan putih.
"Turun Dig, bukain pintu pagar," pinta Ran santai tapi memang terkesan sedikit memerintah.
Digo turun dan membukakan pagar.
See ... ia nggak bisa nolak.
Digo pun mengikuti Ran masuk ke dalam rumah itu. Dipastikan rumah tidak ada orang karena Ran yang pertama kali membuka kunci rumah.
"Duduk dulu Dig, gue mau ngambil P3K..."
Digo dengan cepat menahan lengan Ran. "Lo nggak perlu sebaik ini, gue nggak minta lo obatin, apalagi lo kasihani," tegasnya. Digo merasa harga dirinya bakal jatuh kalau menerima bantuan apalagi dari cewek yang bahkan lebih keras darinya.
"Gue yang mau ngobatin lo, oke. Jadi lo tunggu di sini." Ran menarik lengannya dari pegangan Digo dan melanjutkan langkahnya.
Digo hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
Tak lama, Ran kembali dengan kotak P3K di tangannya. Namun ketika ia sampai di ruang tengah, Digo sudah tidak ada lagi di sana.
Yang dijumpai Ran hanya secarik kertas di atas meja kaca bertuliskan,
Thanks atas pertolongan lo, gue nggak bakal lupain itu. Gue harap kita nggak perlu bertemu lagi.
-Digo
Kini gantian, Ran hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
______________________
__ADS_1
Dont forget to like and comment yaaa
see you on next episode