
Episode 18
- Kasus Baru -
“Sekarang kita sudah complete, dan gue nggak pernah merasa White Hero sekeren ini.” Bara memekik semangat.
Digo melirik Bara dengan bete, halah … lo ga bakal sesenang ini kalau Somi yang gabung…
“Hahaha, Ran, kita bakal ngadain pesta penyambutan buat lo nanti, tapi sekarang saatnya kita rapat. Lo ikutin aja dulu ya, ntar kalau ada yang nggak ngerti lo boleh nanya.”
Ran mengangguk membalas instruksi Zufan.
“Bentar lagi pemilihan presma BEM baru, dan ada dua kandidat kuat yang ingin naik…” Zufan langsung menyambung rapat dan menuliskan dua nama di papan tulis. Gilang Widyatama dan Bayu Rahardian.
“Bayu Rahardian? Anak FISIP angkatan 2016?” Ran langsung bersuara.
“Lo kenal?” tanya Zufan.
“Dia senior jurusan gue.”
Zufan tersenyum, kemudian ia melanjutkan. “Kedua kandidat punya organisasi eksternal masing-masing. Satu Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia atau KAPI, satu lagi Gerakan Nasionalis Mahasiswa Indonesia atau GNMI.”
*nama organisasi eskternal sengaja dibuat fiksi.
"Siapa yang terpilih nanti maka kabinetnya mayoritas akan diisi oleh orang-orang yang punya latar belakang yang sama, ini sudah jadi rahasia umum,” jelas Zufan.
Kemudian ia melingkari nama Gilang. “Dia ini, anaknya pak rektor,” lanjut Zufan membuat Bara dan Ran terkaget tak menyangka.
Zufan melingkari nama Bayu. “Dan yang ini, ponakannya pak rektor.”
“What?” Ran dan Bara sama-sama bersuara lebih kaget lagi. Sementara Digo, cowok itu hanya terkekeh, ia sudah tau ini dari dulu, karena Digo sudah lama kenal Bayu dan silsilah keluarganya.
“Terus, kasusnya apa, Bang? Buruan.”
“Pertama gue mau nanya soal opini kalian, kenapa dua kandidat kuat dengan background keluarga pak rektor ini sama-sama ingin maju jadi presma? Kenapa nggak salah satu aja, kan sekeluarga,” tanya Zufan.
“Menurut gue …” Ran langsung bersuara lagi. “Keduanya sengaja dinaikkan jadi kandidat biar terkesan tetap diadakannya pemilihan presma namun pada akhirnya siapapun yang terpilih nantinya pasti bakal ada di pihak rektor. Dan seharusnya BEM bertindak sebagai oposisi dari kebijakan kampus bila berlawanan dengan kepentingan umum.”
“Exactly,” angguk Zufan setuju. “Terus, gimana dengan latar belakang organisasi eksternal yang berbeda pada keduanya? Tentu bukan tanpa maksud mereka diutus mewakili organisasi masing-masing, pasti juga pada punya tujuan.”
“Kekuasaan dan eksistensi,” jawab Digo simple.
“Ujung-ujungnya memang bakal ngarah ke sana,” angguk Zufan. “Tapi dalam kasusnya, Rektor ingin mencalonkan diri jadi rektor lagi untuk periode ke depan, ia butuh dukungan suara dari senat dan kementrian pendidikan dan kebudayaan RI. Presma BEM adalah anggota senat, otomatis suara BEM sudah pasti akan memilih dia karena keuntungan dari nepotisme tadi. Dan bila rektor itu terpilih kembali maka ia akan memberikan imbalan dengan menyediakan sekretariat khusus di kampus untuk salah satu organisasi eskternal yang menjadi latar belakang presma yang terpilih.”
“Singkatnya, kedua organisasi eksternal itu sedang memperebutkan kesempatan agar bisa masuk ke ranah kampus secara resmi dan merekrut anggota baru secara lebih bebas dan terbuka,” ujar Bara menambahkan. “Itu curang, Bro. Enak banget bisa resmi diakui kampus dan punya sekre tapi caranya kotor dan egois.”
“Nggak cuma itu, RAB organisasi keseluruhan kampus akan dibagi rata termasuk dengan organisasi eksternal yang diakui kampus juga bakal kebagian. Alias, kayak himpunan mahasiswa jurusan atau ukm-ukm kampus nggak bakal dapat jatah dana kegiatan sebanyak yang sebelumnya.”
Fyi: RAB adalah singkatan dari Rancangan Anggaran Biaya. Jadi kalau ngadain kegiatan, perencanaan dan jatah kebutuhan biaya akan dihitung dalam RAB.
“Wah parah, dengan dana yang sekarang aja mereka masih pada kekurangan buat ngadain kegiatan, apalagi kalau udah dikurangi besok.” Bara menggeleng-geleng miris.
__ADS_1
“Tapi ….” Ran memotong. “Apa hubungannya dengan kita? Maksud gue, kita bisa apa? Toh cuma ada dua kandidat yang bakal naik. Siapapun yang terpilih endingnya bakal terjadi seperti yang kita bahas tadi.”
Zufan tersenyum misterius. “Kita bakal naikin kandidat baru. Yang bersih dari organisasi eksternal dan niatnya memang untuk kebaikan kampus.”
“Siapa?” tanya Bara yang mewakili pertanyaan Ran dan Digo.
“Gue,” cengir Zufan menunjuk dirinya dengan ceria.
Suasana jadi diam, tapi beberapa detik kemudian suara gelak tawa memenuhi ruangan itu.
“HAHAHAHA, candaan lo lucu banget bang, hahaha…” Bara memegang perutnya karena Zufan terlihat sangat konyol.
“Humor lu tinggi juga Bang, mayan buat ice breaking, dari tadi kita serius amat soalnya.” Digo menggeleng-geleng nyengir.
“Gue pasti bakal milih lo pas pemilihan nanti Bang, hehehe…” Ran ikut-ikutan becandain Zufan, walaupun sebenarnya ia dan Zufan sama sekali belum dekat karena baru bertemu dua kali.
Muka Zufan langsung masam mendengar ledekan mereka. Bibirnya manyun, “gue serius loh, gue mau naik jadi presma.”
Ucapan Zufan seketika menghilangkan tawa dan cengiran yang ada. Justru kini hawanya berubah menjadi lebih serius.
“Lo serius, Bang?”
“Demi apa, lo kesambet kapan, Bang?”
Bara dan Digo sangat-sangat tercengang. Sama sekali tak menyangka bahwa abang mereka, yang sudah 10 tahun bersama-sama, kini hendak berniat menjadi Presiden Mahasiswa BEM Universitas.
Digo berdiri. Ia menjabat tangan Zufan dengan wajah takjub. “Gue siap bantu lo naik, bang…”
Zufan terharu dengan dukungan kedua adiknya ini. Setelah Bara dan Digo kembali ke kursi masing-masing Zufan menjelaskan mengapa ia memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presma.
“Sebulan yang lalu beberapa ketua himpunan mahasiswa dan ketua-ketua BEM Fakultas periode sekarang pada datang ke gue. Mereka adalah orang-orang yang tanpa latar belakang organisasi eksternal, dan sekalipun ada yang punya, kedatangan mereka ke gue adalah karena punya niat baik,” cerita Zufan.
“Mereka yang ngadu ke gue soal kandidat yang naik dan apa rencana di balik itu. Dan mereka ingin gue kasih solusi dan masukan. Yeaa … gue kasih saran bahwa harus ada kandidat baru yang murni mencalon karena niat menegakkan keadilan dan cita-cita mahasiswa. Dan setelah itulah mereka datang lagi ramai-ramai ke gue menyatakan bahwa mereka ingin naikin gue maju jadi kandidat presma. Jujur gue auto syok saat itu.”
“Gile bang, kejadian sebulan yang lalu kenapa lo nggak cerita ke kita?” protes Bara.
“Gue pikir kita sudah saling janji nggak nyembunyiin sesuatu apalagi menyangkut kampus.”
“Sorry … sorry, gue nggak maksud nyembunyiin. Gue cuma butuh waktu berpikir dan mau nyelidiki sedikit serta pertimbangin mau lempar ini ke White Hero. Gue cuma takut nanti White Hero melenceng dan berubah peran menjadi organisasi tim sukses pemilihan presma. Karena sejatinya selama ini kita menyelidiki dan memecahkan kasus, bukan terlibat dalam aksi politis,” jelas Zufan yang membuat Ran sedikit paham tentang White Hero.
“Gue ngerti maksud lo Bang.” Digo menghembus nafas dalam. Ia paham, bila White Hero mulai terlibat aksi berbau politik apalagi dalam pemilihan presma yang sakral, artinya White Hero jangan sampai salah niat.
“Tapi semua bukannya tergantung kita ya…” Ran yang memperhatikan dari tadi mulai mengerti situasi dan hakikat White Hero. “Kalau memang ini demi keadilan dan kebaikan kampus, why not … siapapun akan kita dukung jadi presma sekalipun dia anggota White Hero. Semua punya hak yang sama kan… selanjutnya tergantung kita yang masih menjalankan White Hero karena kita yang ngejalanin dan kita yang mengkader anggota selanjutnya biar nggak melenceng niat.”
Ucapan Ran sedikit memberikan keyakinan pada yang lainnya.
“Syukurlah lo ngerti alasan gue mau nyalon Ran. Gue pikir lo bakal beranggapan yang enggak-enggak soal White Hero karena biasanya kita nggak ikut campur soal politik.”
Ran hanya mengangkat bahu, “Mungkin karena gue belum menjalani kegiatan White Hero biasanya makanya gue bisa nerima dengan maklum.”
“Tapi tetap saja, kita harus hati-hati.” Digo kini menggantikan Zufan berdiri, dan Zufan kembali ke kursinya.
Digo menuliskan nama Zufan di bawah kedua nama Gilang dan Bayu, kemudian ia melingkarinya.
__ADS_1
“Bang Zufan akan kita munculkan sebagai kandidat putih, alias murni. Kita bakal giring opini mahasiswa bahwa Bang Zufan akan muncul sebagai pahlawan. Ia akan muncul di tengah-tengah dua kandidat yang punya latar belakang organisasi eksternal.”
“White Hero… Pahlawan Putih, cocok banget!!” Bara berseru takjub.
“Nggak ada yang tau bahwa Bang Zufan adalah anggota White Hero, karena gue yakin para ketua HIMA dan BEM datang ke dia karena Bang Zufan adalah demisioner Ketua BEM Fakultas Teknik yang sering jadi koordinator lapangan setiap aksi mahasiswa dulu.”
“Waah…” Ran mengangguk-angguk takjub menatap Zufan, Zufan hanya mengedipkan matanya sedikit malu dengan reaksi Ran.
“Hahaha, gue nggak sehebat apa yang Digo bilang, Ran,” ujarnya.
“Jadi, hakikat pergerakan kita masih sama dengan prinsip White Hero. Rahasia,” jelas Digo mantap. Demi apa kegantengan dan kharismanya bertambah 100% saat itu.
“Udah nggak salah lagi, soal perencanaan strategis White Hero ya si Digo ahlinya…” Zufan berbisik pelan pada Ran.
“Pertama, kita maping dulu. Siapa-siapa saja orang di pihak Bang Zufan, dan yang pasti Gilang dan Bayu the king-annya adalah rektor dan masing-masing eskternalnya. Bara, gue rasa lo bisa mulai nyari data tentang orang-orang ini beserta status dan pekerjaan mereka.” Digo mulai membagi masing-masing job desk anggotanya.
“Siap laksanakan!” Bara memasang gaya hormat.
“Gue bakal riset siapa-siapa saja yang bisa diajak koalisi dan nemenin Bang Zu buat, konsolidasi dan negoisasi. Pemeran utama kita nggak boleh sibuk-sibuk.” Digo menaikan dagunya ke arah Zufan.
“Bang Zufan, tugas lo kayak biasa aja, tolong cari dana. Pertama dana buat kita White Hero seperti biasanya, terus dana buat lo mau naik jadi presma. Tolong, gue nggak mau keuangan kita dicampur-campurin ya Bang,” ujar Digo lugas.
“Hahaha, aman itu mah gue juga tau,” cengir Zufan.
“Oke, semuanya udah pada dibagi tugas, kita rapat seminggu lagi dari sekarang.” Digo meletakan spidolnya.
“Maaf…” Ran memotong sambil mengangkat tangan. “Gue ngerasa nggak kebagian tugas,” tukasnya heran menatap Digo.
“Ah ya…” Digo berlagak baru sadar, padahal ia memang sengaja tak memberi Ran tugas. “Lo mau bantu di bagian mana?”
Mata Ran kemudian menyipit. “Apa lo sedang ngeraguin gue Dig?” tanya Ran tanpa ragu.
Bara dan Zufan hanya bisa saling tatap kaku, Ran berhak mendapat tugas tapi soal pembagian job desk per orang memang ranahnya Digo.
Digo hanya menatap dengan cuek, ia belum bisa memberikan tugas apapun pada Ran, intinya Digo masih belum terbiasa akan kehadiran Ran di tim ini, lagian ia juga nggak mau ngasih tugas yang berat-berat pada Ran.
Digo hanya tak mau gadis itu kecapean. “Lo bisa bantu-bantu kalau kita lagi perlu bantuan.”
Ucapan kejam Digo membuat seorang Ranne Fakhria merasa direndahkan untuk pertama kalinya.
~o0O0o~
*Makasih banyak buat yang sampai saat ini masih baca episode White Hero
Tanpa kalian, tulisan gue hanyalah susuan huruf tanpa pembaca
Walaupun yang ngikutin White Hero ada 2 3 orang tapi itu udah bikin gue bener-bener bersyukur banget. Makasii banyaakk
Bagi votenya dan comment yaa
Then...
See you on next episodes*...
__ADS_1