
(Gambar : Ranne Fakhria/Ran)
Episode 1
~Rumor (?) ~
"Raaaannn!!!"
Suara Somi, sahabatnya, melengking dari ujung koridor tempat Ran sedang memperhatikan mading kampus.
"Kemana aja sih? Lo tau, dari tadi para senior pada nyariin lo." Somi mendekat seraya meraih tangan Ran, kemudian menariknya pelan.
"Nyariin gue? Buat apa?" heran Ran mengikuti langkah cewek di depannya itu.
"Gue juga kurang tau Ran, tapi gue denger-denger mereka mau klarifikasi soal hubungan lo sama Digo."
"Hah?? Digo mana?? Gue ga pernah kenal sama orang yang namanya Digo."
"Au ah, senior selalu benar, lo tinggal jawab aja ketika mereka nanya." Somi memutar mata, terlihat sudah cukup muak dengan tingkah orang-orang yang katanya senior.
Padahal sudah 2 bulan setelah mahasiswa baru di ospek, senior-senior alias mahasiswa semester atas masih cukup sering memanggil-manggil junior barunya. Entah itu sekedar ditanya-tanya atau diajak ngumpul.
Bahkan di beberapa fakultas masih saja ada perpeloncoan, yg disuruh push up lah atau squat jump nggak jelas apa sebab atau maksudnya.
"Terus gue mesti gimana, Mi. Ntar sama kayak minggu lalu, gue disuruh squat jump gara-gara nggak kenal cowok bernama Bayu, eh taunya dia ketua angkatan senior dua tahun di atas kita."
Ran teringat kejadian terakhir kali, ia kesulitan jalan sampai 5 hari lamanya karena otot paha dan kakinya pegal gara-gara squat jump 35 kali dan 20 kali tanpa henti. "Dan sekarang Digo, siapa lagi tuh... gue nggak bisa diginiin terus, Mi."
"Sstttt, itu mereka." Langkah Somi terhenti di balik tiang loby gedung A. Ia menghembuskan napas sambil memejamkan mata. Seolah dia yang akan menghadapi senior-senior itu.
"Oke..." Somi membuka mata yakin. "Semoga selamat, lo pasti bisa, Ran." Ia membalikkan tubuh Ran dan mendorong cewek itu keluar dari balik tiang. Sehingga sosok Ran langsung dilihat oleh gerombolan senior yang tak jauh dari tempatnya.
"Eh Ranne Fakhria, sini dek..." Salah satu senior yang Ran kenali bernama Jeremy memanggilnya.
Ran agak merutuki dirinya, ini kan kelompok senior yang kemarin nyuruh ia squat jump. Ada Bayu juga di sana.
Mati gue, kena squad jump lagi gue pasti...
"Ciaaahh Queen Maba udah dateng...." Tyas bersiul pelan.
Ran hanya melemparkan senyum datar. "Ada apa manggil gue ya?"
"Gue mau to the point aja sama lo, mengingat terakhir kali temen-temen gue udah cukup keterlaluan...." Bayu memulai percakapan.
__ADS_1
Ran lagi-lagi teringat kejadian ia disuruh squat jump hanya gara-gara ia nggak kenal sama cowok yang sekarang mengajaknya bicara ini. Emang keterlaluan...
"Gue, mewakili teman-teman gue minta maaf..." Bayu melanjutkan kalimatnya.
Kini Ran hanya bisa melongo, ia kira senior-senior ini mau nyetrap dia lagi. Ran bahkan sudah menyiapkan mental dan fisiknya jikalau disuruh squat jump lagi.
"Maaf banget minggu kemaren gue sampai nggak tau ternyata temen-temen gue pada nanyain lo tentang gue, dan lo mesti squat jump cuma gara-gara nggak kenal sama orang nggak penting kayak gue. Sekali lagi gue dan temen-temen gue minta maaf Ran..."
"It's okay, Kak. Nggak apa-apa kok, gue juga salah karena sampai nggak kenal sama senior sendiri." Ran memunculkan senyuman simpul di bibirnya. Gadis itu mendadak membuat seluruh yang ada di sana terpesona untuk yang ke sekian kalinya.
Bayu tiba-tiba berjalan mendekat, ia berhenti dekat di depan Ran. Tangannya perlahan terangkat, sepertinya ingin menyentuh dan mengacak-acak gemas rambut Ran.
Sebelum itu terjadi seseorang menghentikan gerakan Bayu.
"Hoi, udah gue bilang jangan sentuh-sentuh anak orang, kebiasaan lo nggak berubah-rubah..."
Semua menoleh ke asal suara. Si pemilik suara itu ternyata seorang cowok bertubuh jangkung, rambut rada acak-acakan persis seperti bad boy - bad boy dalam novel.
Dan yang terpenting adalah, cowok ini 100% ganteng.
Cogan detected...
"Digo?" Gumaman Bayu bisa didengar oleh Ran.
"Lo sejak kapan di situ?" Bayu terlihat merasa terganggu akan kehadiran cowok itu.
"Sejak tadi..." jawab cowok yang dipanggil Digo itu dengan malas. "Jadi, udah selesai minta maafnya?" Ia berjalan memasuki kelompok itu.
"Apa...?"
"Kalau udah, lo langsung lepasin anak orang, ini nggak, pake mau nyentuh-nyentuh dia segala..."
"Apaan sih, lo beneran kenal sama cewek ini, Dig?" Bayu menatap dengan sangsi.
Digo menatap Ran sekilas, kemudian ia mengangkat bahu. "Mungkin..."
Mungkin? Jawaban macam apa itu... pikir Ran.
"Kalian udah selesai belom? Gue punya urusan sama dia." Digo melanjutkan ucapannya.
"Eh? Sa-sama gue?" Ran yang sedari tadi berdiri diam kini angkat bicara. Ia tak mengerti orang-orang ini ngomongin apa, dan kenapa ia harus dibawa-bawa.
Digo melirik Ran dengan mata elangnya. "Iya."
Wajah Bayu dan yang lainnya terlihat sangat heran dan ingin tau.
__ADS_1
"Bener kan, kalian ada hubungan apa?" tanya Jeremy kini menatap Digo dan Ran bergantian.
"Bukan urusan kalian, Ran lo ikut gue sekarang..." Digo meraih tangan Ran. Ya, cowok itu memegang pergelangan tangan Ran dan menariknya pelan agar mengikuti langkahnya pergi dari loby itu.
Setelah agak jauh dari loby, mereka berhenti di gazebo kayu tak jauh dari Gedung A tadi.
Ran cepat-cepat menarik tangannya dari pegangan cowok itu. Baru kali ini ada orang asing yang tak dikenalnya berani menarik tangannya seperti ini.
"Lo siapa sih?" Rasa penasaran dan heran yang menggelitik Ran membuat ia langsung blak-blakkan melontarkan kalimat itu. "Lo mau ngomong apa?"
"Lo bisa santai dikit nggak?" Digo, cowok itu agak kaget dengan reaksi cewek yang 'mungkin' dikenalnya ini.
"To the point aja, maksud lo bawa gue gini buat apa? Lo kenal gue?" semprot Ran langsung. Dirinya pun heran, selama ini bisa dibilang ia lebih sabaran menghadapi sesuatu, tapi kenapa sekarang tidak? Kenapa sama cowok ini emosinya jadi tidak tertahan...
"Harusnya gue yang nanya gitu, lo kenal gue?" Digo menatap Ran lebih heran.
"Nggak lah."
"Ya gue juga nggak kok."
"Lah terus?"
Digo bahkan Ran kini merasa konyol. Topik pembicaraan macam apa ini.
"Tunggu, kok gaje gini ya..." Digo menahan cengirannya.
Ran hanya menggeleng sambil mengangkat bahu, turut menahan senyum. "Any way, gue rasa kita salah informasi."
"Well, not bad," komen Digo. "Any way, kayaknya nggak ada lagi yang mesti kita bicarain. Gue cuma mau pastiin rumor soal kita yang punya hubungan. Mana tau lo kenal gue kan..."
"Gue cuma kenal dengan orang-orang yang terlibat sama gue di ospek kemarin, nggak lebih, jadi lo ngga usah ngarep." Demi apa Ran bicara seperti itu.
Digo sedikit speechless, nih cewek jutek amat. Dari semua cewek yang pernah bicara dan mendekatinya pasti pada ngajakin kenalan, tapi kalau cewek ini beda.
Digo nyengir tipis. "Bukan ngarep, kan gue cuma nanya."
"Yelah. Kalau gitu, gue pergi dulu." Ran berbalik meninggalkan Digo.
Cengiran tipis kembali muncul dibibirnya Digo. Biasanya cewek-cewek yang dikenalnya pada petakilan minta nomor hp atau ngajak jalan. Yang kali ini justru cuek banget.
Tapi satu hal yang mengganjal di pikiran Digo. Dirinya merasa pernah bertemu dengan cewek ini. Yah ... mungkin pernah bertemu entah di masa lalu atau di jalan.
Wajah Ran terasa familiar....
~o0O0o~
__ADS_1