
Selagi kakinya masih sanggup berdiri dan situasi yang semakin brutal membuat Digo berpikir bahwa sepertinya ia harus lari dari tempat ini.
Cowok itu berlari sekuat tenaga meninggalkan daerah panjat dinding yang terasa seperti tempat penyiksaan.
Untung tak ada yang mengikuti Digo, lari cowok itu perlahan memelan dan nafasnya kini tersengal-sengal, dadanya serasa ingin meledak saking sesaknya.
Tubuh Digo hampir ambruk saat itu juga, rasa sakit mematikan pada lengan kiri dan bahu kanannya benar-benar membuat Digo ingin pingsan saja. Belum lagi ia sedikit pusing setelah batu tadi menabrak pelipisnya, sudah pasti darah mengalir dari kepalanya lagi.
Ponsel di genggaman lemah tangan kirinya berdering. Digo mengangkat panggilan itu dengan geseran jempol yang sudah mati rasa.
"Halo? Dig? Lo dimana? Masih di lokasi itu?"
Itu suara Bara.
"Gue deket portal 5," tukas Digo cepat. Ia berharap Bara belum sampai lokasi panjat dinding karena bahaya juga buat dia di sana. Nanti kejadian hal yang sama seperti dirinya tadi.
"Oke Dig, ini gue masih deket gedung kolam renang sama dua cewek ini, baru kelar gue bingung banget dah jelasinnya tadi, mereka...."
Suara Bara tak terlalu jelas lagi didengar Digo karena perlahan penglihatannya buram.
Digo merasakan ada yang mengalir dari bahunya. Saat ia lirik ke arah bahu kanan, sweater putihnya kini sudah berubah menjadi warna merah alias darah telah memancar dari bahunya sejak tadi, atau mungkin darah yang mengalir dari pelipisnya juga ikut menyumbangkan.
Digo mendesah, menyayangkan kenapa ia harus berdarah lagi dalam bulan ini.
"Bara .... buruan, gw sekarat..." Digo memotong ucapan Bara di telpon yang masih ngomong nggak jelas.
"Eh? Serius Dig? Lo masih aman kan? Oke oke gue secepatnya ke sana. Lo jangan tutup telponnya ya."
Digo tak bisa menjamin berapa lama tubuhnya bisa berdiri seperti ini. Ia dengan pandangan buram mendekati tiang listrik dekat situ dan duduk menyandar padanya.
Sial, kenapa ga ada satpam atau security deket portal ini sih, posnya ada tapi orangnya ngga ada. Dasar penjagaan di sini ngga bener. Kalau tiba-tiba ada pelecehan atau pembunuhan di sini gimana. Bahkan cctv pun juga kayaknya nggak ada....
Bisa-bisanya Digo memikirkan hal itu di saat kondisinya semakin lemah seperti ini. Raga boleh sakit dan lemah, tapi jangan sampai jiwa dan pikiran ikut kompromi.
Sometimes, orang akan berpikir kritis di saat dirinya sedang terdesak atau sedang jatuh.
Pikiran kritis itulah yang Digo rasakan saat ini. Apa gunanya pemerintah membuka tempat ini untuk umum tapi bagian pengelolannya bahkan nggak memperhatikan keamanan di sini...
Monolog itu berakhir saat Digo mendengar seruan Bara dari jauh.
"Anjiir Digoo ... Lo kok bisa gini?!" Bara berlari menghampiri Digo dan menggoyang-goyangkan pipi dan badan Digo yang sudah terkulai pasrah.
Tak lama datang Ran dan Somi yang tak bisa menahan teriakannya melihat kondisi Digo.
"Astagaaa Digoo.... lo kenapa?? Belom juga setengah jam lo pergi tadi." Ran duduk di samping Digo dan matanya menyapu tubuh Digo.
"Somi, telpon ambulance..." Bara melepas sweater yang ia pakai, kemudian melepas kaus putihnya dan kini ia bertelanjang dada.
Kaus putih itu ia gulung dan ia tempelkan ke pelipis Digo setidaknya darah dari kepalanya tidak mengalir banyak.
"Somi, lo udah telpon ambulance-nya?" Bara mengulang instruksinya karena belum mendengar Somi menelpon siapapun.
Menyadari tak ada jawaban dari Somi, Bara menoleh ke belakangnya. "Eh? So-Somi? Elo ngga pa-pa?" Perhatian Bara berubah jadi heran melihat Somi kini berdiri pucat dan kakinya terlihat tidak berdiri kokoh.
"Ah ya..." Ran yang baru ngeh cepat-cepat berdiri menggandeng Somi. "Somi dari kecil nggak bisa liat darah, bawaannya lemes gitu." Ran menjelaskan dengan santuy.
Ia menggantikan tugas Somi untuk menelpon Ambulance dan mendudukan Somi dengan posisi membelakangi Digo.
"Hallo, selamat malam, saya Ranne Fakhria, di sini ada yang terluka dan pendarahan banyak Pak, lokasi di Gelanggang Remaja dekat pintu gerbang 5. Ah ya, berhubung gerbang 5 tutup jadi sebaiknya bapak masuk lewat pintu gerbang 3 atau 4 supaya lebih dekat...." Ran menjelaskan dengan laporan jelas.
__ADS_1
Setelah menutup telpon Ran kembali menghampiri Digo untuk mengecek kondisi cowok itu.
Digo terlihat sudah agak sadar meski pandangannya masih berkunang-kunang.
"Dig, lo bisa lihat gue?" Ran melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Digo.
Digo tersenyum kecil, bagaimana mungkin gue nggak bisa lihat wajah manis lo itu Ran. Berjuang pun gue rela demi melihat wajah lo sedekat ini....
Melihat Digo tersenyum kecil Ran agak sedikit lega, setidaknya cowok itu menghadapi situasi ini dengan santai. Ran menghidupkan senter hpnya karena sudah sangat gelap, kemudian menyenteri tubuh Digo, memperhatikan luka mana yang menyebabkan Digo kehilangan banyak darah.
Selain pelipis Digo yang sudah ditutupi Bara dengan kaus putihnya (kini sudah berubah jadi warna merah) Ran menatap bahu kanan Digo. Tak kalah banyak darah memancar dari sana.
Dengan cepat ia menyingkapkan sweater Digo ke atas. "Bara, bantu gue buka baju Digo."
"A-apa??!" Bara yang masih berpose kedua tangan menutup luka di pelipis Digo kini terkaget dan bingung.
"Bantu gue, cepet." Ran menaikkan paksa sweater Digo ke atas dan dengan bantuan Bara, sweater itu lepas menyisakan selembar kaus dongker lengan pendek di tubuh Digo.
Kemudian Ran dengan yakin merobek kaus dari bagian leher hingga lengan kanan Digo agar luka di sana terlihat lebih jelas. Ran menyorotkan senternya ke luka yang sudah bengkak di bahu kanan Digo, lebih tepatnya di pangkal lengannya.
"Gawat ini darahnya banyak banget." Ran mengerutkan dahi khawatir. Pasti ini yang membuat Digo semakin lemes.
"Bara, pegang senter gue." Ran menyerahkan ponselnya ke Bara untuk gantian menyoroti Digo.
Setelah itu, terjadilah adegan paling keren yang cuma pernah Bara lihat di film-film.
Ran kini tanpa ragu merobek bagian bawah T-Shirt berbahan katunnya dan menggulungnya hingga padat kemudian menempelkannya ke luka Digo agar darahnya berhenti mengalir.
Bara yang menyaksikan hal itu hanya menganga takjub. Ini salah satu momen teromantis yang pernah ia lihat secara langsung.
"Dig, lo bertahan ya. Kita cuma bisa nahan pendarahan lo sekarang," ujar Ran terlihat sangat cemas. Keringat dari dahinya kini bahkan bercucuran.
"Gue nggak apa-apa kok, makasih ya Ran." balas Digo pelan.
"Lo sebaiknya diam dulu Dig. Ngga usah banyak bicara dulu. Just saving your energy, I am here okay?" Ran tak kalah lembutnya.
Bahkan Somi yang dari tadi membelakangi mereka kini menoleh saat mendengar dialog sok romantis itu.
"Gue bakal bertahan demi lo Ran," ucap Digo menyentuh tangan Ran yang menutupi luka di bahunya.
Bara?
Cowok itu kini terasa mual dan ingin muntah.
Ini adegan paling jijay yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Apaan sih ni anak berdua? Bara melirik muak pada keduanya.
Kenapa tiba-tiba jadi sok romantis gini dah. Somi bahkan juga perpikir begitu.
"It's okay, you will be alright, Digo."
"Ran, maaf ya gue ngerepotin."
Bara sudah nggak sanggup lagi dengan adegan chessy ini.
AMBULAN CEPET DATANG LAH TOLONG!! batinnya.
Ambulance datang 5 menit kemudian dan melakukan pengobatan pertama pada Digo di dalam van-nya.
__ADS_1
"Untungnya pendarahannya tidak banyak karena kalian cepat menutupnya. Tindakan pertolongan pertama yang bagus," ujar paramedis setelah selesai menghentikan pendarahan Digo secara total.
Bara dan Ran hanya tersenyum mengangguk.
"Selanjutnya kita bawa pasien ke rumah sakit dulu untuk pengobatan lebih lanjut, salah satu dari kalian siapa yang ikut?"
"Saya, Pak," ujar Bara spontan. Tentunya kini dirinya sudah memakai sweater tanpa dalaman kaus.
"Gue aja." Ran menyela.
"Eh?" Bara dan Somi kaget.
"Lo anter Somi pulang ya Bar. Kami ke sini tadi naik ojol," tukas Ran. "Setelah anter Somi, lo nyusul ke rumah sakit. Oke?"
Bara tak bisa menolak permintaan Ran. Alasannya karena dua hal. Pertama Digo kini sudah aman ditangani paramedis jadi ia tak perlu khawatir lagi. Kedua, ini kesempatan emas buat dia bisa mengantar Somi pulang. Kapan lagi coba?
"Oke, lo kabari gw kalau ada apa-apa ya Ran. Ntar gue chat ke WA lo buat ngasih tau nomor gue." Bara bernada santuy.
"Sip, Somi lo hati-hati ya, kabari gue kalo udah nyampe rumah." Ran kemudian masuk ke dalam ambulance dan duduk menghadap Digo yang terbaring sadar.
Ambulance melaju meninggalkan Bara dan Somi.
"Ran," panggil Digo.
"Hmm?"
"Kok lo ngelakuin hal ini ke gue sih?"
"maksud lo?"
"Lo sampai rela robek t-shirt lo dan nolong gue."
"Jangan geer plis, ini cuma alasan kemanusiaan. Nggak lebih."
Jawaban Ran sukses bikin mbak dan bapak medis di van ambulance itu tak sengaja menyemburkan tawanya.
Sehingga sepanjang jalan Digo akhirnya hanya diam menanggung malu.
Astagaa, apa-apaan sih gue....
~o0O0o~
(Gambar : Bonus Foto Ran)
~o0O0o~
Hehehehe
Upload tiap selasa, jumat, dan sabtu
Hope u like n enjoy it
Plase give me vote or comment
And let's follow my account because your support is important for me
Thankyou
__ADS_1
See u on next episodes
Like like like